Kamis, 30 Januari 2014

Ujian Nasional

Hampir habis masanya gue jadi anak SMA..  tinggal menghitung hari identitas sebagai “anak sekolahan” ini melekat. And as you know, at third graduate, you will face the examination. Of course, I don’t care what is the exam, ‘ujian sekolah’, ’ujian praktek’, ‘ujian madrasah’, ‘ujian NASIONAL’ and both of them.
Sebagai pelajar gue merasa gue merasa memiliki hubungan yang baik baik saja dengan pelajaran. Gak pernah berurusan dengan ketinggalan materi, gak paham, dan sebagainya, remedpun… hanya sesekali. Dan rentetan ujian yang akan menyapa gue seakan biasa saja.. seakan udah siap *sombong* secara selama ini gue bias melewati ujian demi ujian.

Menginjak kelas tiga, gue focus untuk hal yang lebih tinggi, SBMPTN atau ujian masuk PTN. Level yang jauh diatas ujian nasional. Sudah mulai bermimpi akan jadi apa esok hari.. langkah apa saja yang harus saya ambil.

Tapi … diluar dugaan. Hal bodoh (fatal) yang saya hadapi adalah strategi yang premature! Tahap kedua (second step) gue siapin, tahap pertama bahkan gue lupa. Kebanyakan berpikir “ah kalo sbm aja bias pasti un bisa” konsep abu-abu. Ada benernya juga J

H-100 gue mulai tersadar untuk menyapa ujian nasional. Paket-paket ujian gue lihat, nomor nomor awal terlihat sepele, tapi jawaban gak kunjung gue temukan. Kacau! Kenapa yang begini aja gak bisa? Kemana aja tiga tahun? Hari hari berikutnya pun gue lalui dengan mencoba menaklukan soal tahap bawah seperti yang dulu gue sering anggap.

Stress, depresi, sudah keluar biaya untuk langkah kedua dan seterusnya. Tapi malah terhambat dilangkah pertama. Berhari hari gue kehilangan semangat sebagai pelajar. Gue akui sekolah gue memang ‘cuek’ terhadap nasib muridnya. Sejak sekolah gratis yang menjadi alasan tindakan mereka yang mengecewakan ini.

Gue sempet terpikir, bocoran (nyontek)! Bukankah itu hal yang lumrah terjadi di setiap ujian nasional?.-. tapi gimana caranya? Dari sd sampe smp gak pernah kenal yang namanya bocoran-___- ujian sd yang satu paket aja gak bisa nyontek, smp 4 paket bingung kalo ada bocoran caranya gimana? .__.
Gimana sma? 20 paket broh.. kertas 20 lembar gitu dibawa ke ruang ujian? Broadcast 20 paket gitu ke tiap murid? Belum lagi cocokin yang mana soalnya, pengawasnya ka nada dua, kalo ketauan gimana?
Yah, buat apa 3 tahun belajar ujung ujungnya nyontek juga… gue sudah putuskan melanjutkan budaya jujur gue hinggal identitas gue sebagai pelajar tanggal. Otomatis gue harus mereborn cara pelajar gue, penguasaan materi dalam waktu kurang dari 100 hari!

Incredible.. maybe yes maybe no.

Titik balik gue ada di H-84 dimana gue coba membuat strategi ditengah pressure takut gagal, buntu, dan masalah yang dibawa sama setan setan terkutuk. Gue rancang acuan belajar, pemetaan materi, supaya gue gak salah langkah lagi.

Kesalahan gue dulu dulu hanyalah hari ini mau belajar apa? Ambil contoh, fisika. Besok matematika dst.. tapi gue gak tau bab apa yang mau gue pelajari. Hal ini gak boleh terulang. Buang itu jauh jauh. Buat cara baru yang lebih efektif.

Seperti kita semua ketahui, soal UN itu ada 40 (mtk,fisika,bio,kimia) dan 50(indo,inggris). Dengan waktu sekitar 80 hari gue harus habiskan 260 macam soal .. awalnya terlihat kecil, tapi setelah dibuka, makin besar si empunya masalah.

Jadi gue komitmen untuk menghancurkan  5 tipe (re:skl) soal setiap hari di salah satu mata pelajaran hingga benar benar saya memahaminya.
Ambil contoh


Senin: Mtk (1-5) H-83
Selasa: fisika (1-5) H-82
Rabu:  kimia (1-5) H-81
Kamis: biologi (1-5) H-80
Jum’at: inggris (1-5) H-79
Sabtu: indonesia (1-5) H-78
Minggu: -

Senin: Mtk (6-10) H-76
Selasa: fisika (6-10) H-75
Rabu:  kimia (6-10) H-74
Kamis: biologi (6-10) H-73
Jum’at: inggris (6-10) H-72
Sabtu: indonesia (6-10) H-71
Minggu: -

Dan seterusya sampai semua tipe habis.. dan langkah ini akan habis kira kira sampai H-24 UN setelah itu tinggal diulang ulang agar familiar.
Hidup kejujuran! Selalu ada jalan untuk mencapai kemenangan jika kita berharap pada Allah..

“kesuksesan hanya datang pada mereka yang rela berkeringat, berlari hingga lumpuh, melompat hingga terjatuh, dan tak pernah lelah menadahkan tangan untuk berdoa”

"Hanya yang bersedia melakukan hal luar biasa yang akan mendapatkan hasil luar biasa"


Salam Semangat! 

Kamis, 02 Januari 2014

RumahMu (mungkin) Akan Jadi Rumahku Juga

            Sebelumnya aku sama saja seperti remaja zaman sekarang. Lebih senang dengan urusan duniawi, menghabiskan waktu menatap layar hp atau notebook untuk sekedar melihat Time Line twitter atau blog, membalas sms yang sebagian besar hanyalah omong kosong belaka.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUdbigbhi6nLbOnsJU-sHCOwphJIqLlmpeejVWmGuPZlE53ztF1D9wmne82I6T8sI5r_AgWDvpeMzUHzaEP6VxBbWn6zgE7-E481tSianW-khSptXNa0jRP5asIQTC9PCKtp8ovuTm0wim/s1600/allone.jpg

urusan akhirat memang tidak pernah kutinggalkan, namun hanya sekedar “menggugurkan kewajiban” ibadah bukan sebagai kebutuhan. Sebagai pemuda muslim aku sadar bahwa menjalankan shalat di masjid itu hukumnya wajib. Tetapi tetap saja sering aku hiraukan.

Hingga suatu saat kesadaran membimbingku melangkah ke masjid dekat rumahku. Pada saat itu adzan dzuhur berkumandang. Waktu dimana matahari sedang terik teriknya bersinar, waktu yang paling kusegani untuk keluar rumah, namun entah mengapa saat itu terasa lain.
Kulangkahkan kakiku menuju Masjid Baitul Rahman dan kulihat pemandangan yang cukup menyayat hati.  Hanya ada lima orang termasuk aku yang ada didalamnya, jumlah yang sangat sedikit untuk masjid yang cukup besar ini. Dalam hati terpikir hanya empat orangkah yang setia menghidupkan masjid ini? Terkecuali aku, karena aku jarang sekali ke masjid pada waktu selain maghrib.

Lepas dari pemikiran itu kemudian seorang kakek mengumandangkan iqomah dengan suara paraunya. Hati ini semakin tersayat, mengapa bukan pemuda yang melakukannya, mengumandangkan adzan serta iqomah dengan suara yang lantang. Setelah iqomah dilanjutkan dengan sholat dzuhur berjamaah, ma’mum hanya bertambah dua orang hingga akhir sholat. Total hanya ada tujuh orang termasuk imam yang melaksanakan sholat dimasjid ini.

Mungkin pemandangan seperti ini sama saja dengan di masjid manapun, dan orang lain menganggap sebagai hal yang biasa. Tetapi bagiku ini menyakitkan, tanda akhir zama telah muncul. Dimana masjid masjid dibangun megah namun sedikit jamaahnya. Hanya menandakan kekosongan umat.

Mulai saat itu aku berjanji pada diriku, Rumah Allah akan menjadi rumahku juga. Aku akan selalu melaksanakan shalat lima waktu dimasjid, serta menghidupkan masjid semampuku. Meskipun berat rasanya karena rasa malas yang sering membayangi, aku selalu menghentikan sementara kegiatanku untuk melaksanakan sholat dimasjid terlebih dahulu


                                                                                          from old blog, Agustus 2011

I'm Not Writer

Waktu kecil pasti punya cita cita yang besar. Namun semakin besar cita cita itupun mengecil. mata terbuka, impianpun lama kelamaan sirna. Usually we said “realistis”.
            Kalo udah besar mau jadi apa?

Dokter!
Cita citanya apa?
Penulis!
Kok berubah?
Iya, biar bisa dicombine, seorang dokter yang juga seorang penulis. Nulis resep obat maksudnya..

Cita cita tetap tidak akan berubah menjadi profesi kalau keseharian kita gak mencerminkannya. Sepintar apapun pribadi, sehebat apapun personal. Seberuntung apapun namanya.

Aku ingin menjadi penulis.. tetapi pena dan kertas berdebu tak pernah ku sentuh, hari hariku jauh dari merangkai kata. Tiap tiap detik tak kuhabiskan dengan memikirkan karya apa yang akan aku hasilkan.

Terus terang semakin kesini karyaku semakin menipis, sebuah karya gagal yang memakan waktu bulanan bahkan tahunan. Kemampuanku dalam menulis tak ubahnya seperti karya anak smp. Statis, usang, tak pernah berkembang.

Aku bukan tak berbakat, aku hanya tak sepakat, antara keseharian dengan kemampuan. Awal awal semangatku dalam menulis menghasilkan banyak karya. Entah itu bagus atau tidak terserah penilaian orang. Yang terpenting adalah kepuasan dalam berkarya. Kadang umur yang masih tanggung sering membuatku mendapatkan respon yang beraneka ragam. Entah karena pemikiranku yang berbeda dari orang lain atau memang terlalu muda untuk seusiaku dalam memilih topik.

“yang ini juga bener tulisan lo? Kok gue gak yakin ya?”
“iya, terus aja gak percaya”
            
         Tapi semakin kesini karya karya yang baru tak ubahnya menjadi lebih baik, hanya umur yang naik tapi karya justru terjun bebas. Dulu kalau punya waktu pasti mojok didepan jendela asrama sambil nulis. Di kelas bosen dengerin guru nulis lagi. Nah sekarang? Mungkin nulis dikertas pakai buku jurnal udah gak zaman ya, lebih simple pake notebook yang gampang dibawa kemana mana, menulispun jadi lebih cepat. Tapi nyatanya? Hape lebih sering mengganjal tangan untuk memulai.

Mungkin juga karena ada “twitter” yah? Apapun yang ada di dalam pikiran gampang banget disalurin, tinggal ketik, “tweet” selesai. Tapi harus diakui, bobotnya jadi berkurang. Terbentur dengan 140 karakter K gak bebas ekspresiin feeling kalo kepotong potong. Biarpun sering orang orang buat chipstory untuk tweet bersambung. Tapi gak senikmat ketika membuat dertan kata yang menumpuk di halaman kosong. Melihatnya puas banget, layaknya penulis seungguhan.

Mungkin juga karena kesibukan yang lagi dijalani, tapi itu bukan alasan. Karena memang sesibuk apapun, jika itu memang pribadi seseorang, pasti. Pasti akan ada waktu untuk jiwanya kapanpun itu. Jadi kesibukan mungkin hanya alas an kesekian yang menghentikan kesenanganku ini.

            Aku kehilangan jiwa seorang penulis, semangat yang dulu tebal kini kian tergerus dimakan waktu dan aktivitas yang tidak mencerminkan sebagai seorang penulis. Aku rindu akan kesenangan dan kepuasan ketika sebuah karya yang kubuat mencapai baris terakhir, dengan torehan tanda tangan sebagai ciri karya buatanku. Membaca komentar bagus atau tidaknya tulisanku ini oleh teman temanku. Mendengarkan tanggapan serta masukan dari mereka. Aku rindu itu semua.

            Berkali kali aku coba untuk memulai, berkali pula aku menemukan kebuntuan. Aku kehilangan jiwa seorang penulis, mungkin aku memang bukan penulis.

 Aku hanya cinta menulis. 

Senin, 09 Desember 2013

jelaskan padaku

jelaskan mengapa tuhan menciptakan
mata
telinga
lidah
hidung
kulit
tangan
kaki
otak
hati?

apa yang aku tahu hanyalah..

mata diciptakan untuk melihat
telinga diciptakan untuk mendengar
lidah diciptakan untuk merasakan
hidung diciptakan untuk mencium aroma
kulit diciptakan untuk meraba

tangan? tentu saja untuk menggenggam
kaki? apa yang kau gunakan untuk berjalan, itulah fungsi kaki
otak? berpikirlah. karena itu adalah fungsi otakmu

hati? inilah yang unik.. kalian tidak tau bentuknya, kalian bingung pula akan fungsinya.
pernahkah kalian terjatuh kemudian berdarah? apa yang kalian rasakan? tentu saja sakit.
lalu pernahkah kalian dihardik? atau sekedar dihina oleh seseorang?.. sakit bukan? padahal tubuh ini tak sedikitpun terluka, tak sedikitpun tergores...
namun ada rasa sakit yang bahkan terkadang mengganjal sehingga kita sulit unuk bernapas..

lalu pernahkah kalian mengalami ini?
menangis ketika menonton film?
sungguh mengapa demikian? apakah film itu menyakiti kalian?


ada orang yang bertubuh kekar, namun perasaannya lemah..
dipukuli ia tahan, namun apabila dihina ia roboh

ada pula orang yang bertubuh lemah, namun hatinya perkasa
dihajar ia ambruk, namun tak ciut ketika dirinya diancam.

"sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal darah. apabila darah itu bersih maka bersihlah seluruh perbuatannya. dan apabila darah itu kotor maka kotorlah seluruh perbuatannya"
darah itu ialah hati..


Sabtu, 16 November 2013

Apa Arti Umur Bagimu?

deretan angka yang senantiasa bertambah setiap tahunnya?
atau sisa hidup yang kian berkurang setiap harinya?

tolak ukur kedewasaan seseorang?
atau angka pengingat individu agar segera mendewasakan dirinya?

acuan bahwa saya masih muda, atau saya sudah tua?
atau simbol kewaspadaan bahwa yang muda bisa mati lebih dulu dan yang tua sudah pasti makin mendekat pada kematian?

renungkan lah..

Jumat, 05 Juli 2013

hikmah dibalik kenaikan harga BBM

Pemerintah melalui para menteri menterinya pada rabu malam 20-06-2013 lalu telah mengumumkan penaikan harga bahan bakar minyak, yaitu  premium dari harga Rp.4500 menjadi Rp.6000 dan solar dari Rp. 4500 menjadi Rp. 5500

Bersiap siap ya kita, merogoh  kocek lebih dalam untuk permasalahan yang satu  ini. Terlebih saat ini mendekati bulan suci Ramadhan, dimana seperti yang sudah sudah harga sembako mulai merangkak naik. 
Wow :o pernah kepikiran gak? Gimana susahnya orang tua kita? Warga Indonesia yang hidup dengan ekonomi mengah kebawah? Kasihan ya..

Tapi coba kita cermati lebih positif, penaikan harga bbm  ini merupakan bukti nyata pemerintah mengambil langkah praktis untuk mengurus jebolnya APBN? Benar

Pemerintah kurang cermat menyusun APBN sehingga hal ini harus terjadi? Benar juga

Indonesia belum  mampu memproduksi bbm sendiri padahal indonesia memiliki cadangan minyak yang melimpah di perutnya? Benar juga..

Jika melihat negatifnya tentu tidak akan ada habisnya kejelekan Negara kita ini..


Lalu dimana positifnya?

Coba kita pikir baik baik.. penaikan harga bbm diklaim oleh pemerintah dapat menghemat APBN hingga mencapai tiga ratus trilyun rupiah setiap tahunnya. Jumlah yang luar biasa besar bukan?

Dengan tambahan dana segar senilai tiga ratus trilyun ini tentunya pemerintah punya spot-spot baru untuk di korupsi *ehh..

Praduga tak bersalah,  coba positif thinking.. dengan banyaknya dana ini tentu Negara yang masih berkembang ini bias mengalokasikan dananya ke hal hal yang lebih bijaksana. Kita gencarkan pembangunan, perbaiki sarana dan prasarana khalayak publik, yang tentunya akan member manfaat kepada kita juga.

Alokasi dana kesehatan akan bertambah.. kesehatan masyarakat pun meningkat.
Kesehatan yang meningkat memacu produktivitas yang berkembang.

Alokasi dana untuk membuka lapangan pekerjaan pun bisa diperluas, hal ini sejalan dengan produktivitas warganya yang berkembang.

Kesehatan meningkat, tenaga kerja meningkat, lapangan pekerjaan meluas, roda perekonomian pun mudah mudahan turut tumbuh.. sarana dan prasarana publik pasti lebih layak.

Itu mungkin sebagian kecil harapan saya terhdap penaikan harga bbm..


Semoga bangsa ini bisa semakin dewasa dalam mengambil keputusan

Jumat, 07 Juni 2013

Keutamaan Silaturrahim

Ada kejadian menarik yang membuka hati saya ketika musibah menerpa keluarga saya. Seharusnya pukul 11.30 malam keluarga saya ( abi, umi, safira, dan zaidan ) seharusnya sudah mendarat di soekarno hatta. Tetapi hingga pukul 03.00 dini hari. Mereka belum juga sampai dirumah..

Ternyata musibah menimpa mereka. Perjalanan dari prabumulih – Palembang yang biasanya hanya butuh dua jam perjalanan terpaksa ditempuh selama lima jam karena macet parah.
Take off pesawat pukul 10.30 malam pun sudah pasti terlewat. Hanguslah empat tiket pesawat seharga Rp.2.500.000 akibat insiden tersebut. Terpaksa mereka menginap di hotel sekitar bandara untuk penerbangan esok paginya.

Jika dihitung secara matematis pastilah mereka rugi besar. Dan lebih rugi lagi apabila tetap melanjutkan perjalanan. Karena otomatis harus membeli tiket perjalanan lagi, menyewa hotel, biaya makan dan sebagainya. Sudah tentu memerlukan biaya yang besar.

Lalu? Mengapa harus memaksakan demikian? Pentingkah tujuan mereka? Bukankah hanya sekedar untuk menengok saya dan kakak saya? Sepele mungkin.. terlalu besar kerugian yang di derita jika dihitung oleh kaca mata matematis.

Lalu untuk apa?.....

Silaturahim ..

Jawaban singkat yang memutus segala pertanyaan pertanyaan yang membentang dibelakangnya.

Silaturahim adalah kewajiban semua muslim.. sejauh apapun jarak terbentang, sesulit apapun aral yang melintang, memisahkan kedua saudara seiman. Silaturrahim harus tetap dijalin.  
(Silaturrahim artinya adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab)

Mengertilah kita, mengapa pada hari raya ribuan saudara seiman kita bersusah payah melakukan “mudik” ke kampung halaman yang jauh disana. Melambungnya harga tiket angkutan masal, macetnya jalanan selama waktu mudik, kondisi panas terik matahari, dinginnya malam dan hujan. Bukanlah halangan bagi mereka yang bersedia menyambung tali silaturrahim..

“barang siapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahim” (HR bukhari).”

Sungguh indah persahabatan umat muslim itu apa bila tali silaturrahim tetap terjaga.
Semestinya tidak ada lagi kasus-kasus tetangga kelaparan disebelah rumah kita, pemuda yang menganggur begitu lama, seorang manula yang meninggal sendiri dirumahnya tanpa ada yang mengetahui. Dan banyak lagi kejadian mengharukan akibat tali silaturahmi yang terjaga.
Kita lihat Negara Negara di dunia bisa hidup damai berdampingan oleh karena terjalinnya satu kata yaitu “silaturrahim” dari tiap tiap petinggi negaranya..

“barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim” (HR. bukhari)

Banyak sekali bentuk silaturahim yang bias kita jalin dengan sesama muslim..
Diantaranya:
  • Berziarah
  • Tersenyum
  • Memberi hadiah
  • Memberi nafkah


Jangan putuskan tali silaturahim apabila kita tidak ingin mendapatkan murkaNya.

Tidak akan masuk surga seseorang yang memutuskan silaturrahim. Nabi shallallahu ‘alaihu wa sallam bersabda “tidaklah masuk surga orang yang memutus tali silaturahim” (HR bukhari)
Siksaan dunia dan akhirat kelak sudah pasti kita terima. Sebagai mana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “tidak ada dosa yang lebih cepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, juga diperlambat siksaannya di akhirat kelak dari pada orang zhalim dan memutus hubungan silaturahim.

So.. Gimana? Masihkah kita acuh pada sanak saudara kita? Menelantarkan mereka, membiarkan mereka terpisah dari kita tanpa kita ketahui kabarnya? .. sekalipun tidak jika kita belum siap merasakan neraka.

Jadi, mulailah dari sekarang menjalin silaturrahim. Datangilah orang tuamu, peluk mereka, cium keningnya, genggam tangannya. Entah sampai kapan kalian masih bias melakukan itu.
Kadang kita lupa. Terlalu sibuk untuk tumbuh menjadi dewasa, sehingga tak sadar orang tua kita dirumah pun semakin menua. Apabila sudah tiba waktunya? Hanya sesal seumur hidup yang bias dirasa oleh kita. Karena apa? Selama hidup ini tak pernah ingat akan silaturrahim..

Jadilah muslim seutuhnya,

Hiduplah dengan kebanggaan atas seorang khalifah dimuka bumi.

Salam hangat silaturrahim :)


Ahmad Izzudin

Rabu, 05 Juni 2013

kewajiban menuntut ilmu

hai :)
udah lama ga posting-_- padahal baru 4 kali posting. tapi udah seret ide aja .__.
hari ini libur, sebenernya udah ada jadwal buat futsal, latihan senam buat kelas, sama jemput bonyok ke bandara. tapi berhubung males-__- mendingan refreshing pikiran dulu.

jadi seorang Pelajar ituu.....

seru ya :D

jadwal padet.masuk jam 6.30 pulang jam 4.00 pulang sekolah langsung bimbel. sampe rumah isya, bahkan kadang jam 9.00 setiap hari ada pr :O
kalo diurain kaya begini emang keliatanannya mumet banget ya?.-. bikin stress dan sebagainya.
this is the reason why............. many teenager are lazy to school.

tapii..walau bagaimanapun, sebagai pelajar. kewajiban kita adalah belajar.
seseorang baru dapat dikatakan pelajar apabila sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar.

pendidikan adalah hal yang mutlak dibutuhkan. belajar adalah kewajiban setiap muslim maupun muslimah.
banyak ayat dan hadits yang menyatakan tentang kewajiban kita untuk menuntut ilmu
seperti:

اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”


 طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ

Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat



يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)




قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ


Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).

مَنْ اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ

Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”


مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ ـ رواه مسلم

Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).


hadits dan ayat berikut hanyalah beberapa contoh seruan untuk menuntut ilmu. oleh karena itu, masih pantaskah kita menutup telinga, mengunci mulut, memejamkan mata, mendustakan hati pada seruan seruan Allah dan rasulnya?

ada suatu pepatah mengatakan, apabila kita siap bermalasan untuk menuntut ilmu, maka kita telah seiap untuk kebodohan dan kesusahan seumur hidup kita.

hidup adalah persaingan, sudah fitrah manusia sejak ia lahir sampai mati untuk bersaing dengan satu sama lain. 

"ingatlah. saat kita bermalas malasan, ribuan pesaing kita sedang giat giatnya belajar"

semoga bisa menjadi refleksi :)
salam.. 

Selasa, 21 Mei 2013

sweet seventeen.. are you sure?


Post terakhir saya menulis judul “ happy sweet 17 ”

Sebenernya pada tau gak sih awal mula kenapa ada sweet 17 ini?.-. (serius nanya). Kali ini saya bukan ingin menjelasakan asal muasal istilah sweet 17. Karena saya sendiri pun belum pernah menemukan artikel tentang hal tersebut.

Menurut pengamatan saya *eaa gaya pengamatan* -_- berdasarkan arti dari kata sweet seventeen itu sendiri. Sweet= manis. seventeen= tujuh belas. Jadi tujuh belas tahun yang manis. Maksudnya ituuuu… umur tujuh belas tahun yang manis. Bingungkan? Sama-____-

Kalo di perundang undangan. Seorang dinyatakan telah dewasa (gak setuju sebenernya) pada umur 17 tahun. Dan telah dapat menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga Negara. Mulai dari hak memilih, hak menyatakan pendapat, hak menikah, memiliki kartu tanda penduduk, dan sebagainya.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa umur tujuh belas itu adalah masa masa paling menyenangkan dalam hidupnya. Believe it or not? Up to you :) karena sudah tidak lagi harus diatur orang tua. Bebas menentukan keinginannya. Boleh ikut pemilu, sudah boleh menikah pula *wah wah* sudah memiliki hak sebagai seorang individu seutuhnya. Tentunya harus diikuti oelh sikap kedewasaan mereka.

Buat saya sweet 17 itu ada benarnya juga. Karena sebagian besar saya rasakan :) sampai hak hak tersebut membuat saya mengenali apa itu birokrasi *tau gak?*

Sudah tujuh belas tahun berarti sudah boleh membuat sim, 
sudah boleh membuka rekening tabungan, 
sudah boleh membuat paspor pribadi,
sudah boleh membuat ktp. 
Iya kan? :) *tengil*

Iya enak, tapi kalo harus ngurus itu semua sendiri gimana? Enak gak? Ha ha ha -_- katanya sudah dewasa. Berarti harus mengurus segala keperluannya sendiri. Gak boleh minta bantuan orang tua.
Dewasa coy! haha

Oke. Harus saya akui, birokrasi itu baik. Tapi sulit dan melelahkan. Berkali kali izin sekolah dengan alasan buat KTP, mengurus paspor, mau buka rekening bank, mau test buat sim. Cape gan *curhat*

Umur tujuh belas tahun itu indah..
indah sekali.. 

manis, 
manis sekali.

Dan lelah,
lelah sekali.. 

jadi untuk kalian yang akan menginjak atau sedang pada umur 17. Sudahkah kalian mengurus hal hal tersebut? Selamat  :) dan yang telah berumur lebih dari 17 tahun. Samakah yang saya alami dengan kalian? ._.

Jadilah pribadi yang menggunakan waktu dengan sebaik baiknya. Karena ia tak akan pernah kembali.

Jadilah pribadi yang baik bagi diri sendiri dan orang lain, apa lagi nusa dan bangsa.

Yang terakhir, sudah jadi belom KTPnya? :D diurus ya...


Salam :)

Happy sweet 17 muadz!! :D

ciee ulang tahun. ciee tujuh belas.

Tadi pagi ada moment makan makan di kelas, syukuran atas ulang tahunnya muadz abudrahman. Teman sekelas di IPA A. seru ya, kalo setiap ada yang ulang tahun, pasti ngadain syukuran. Meskipun gak seberapa, seperti tadi muadz ngasih macaroni scootle, atau waktu itu bena bawa kue bolu, dan najwa ngasih nasi kuning. Bahagia rasanya kalo kita saling berbagi. Menandakan rasa syukur kita pada Allah sang pencipta :)

Intinya adalah bersyukur. Atas segala yang telah di capai hingga umur ke 17 tahun ini. Saya sendiri sudah melewati ulang tahun ke-17 pada November lalu (tua ya) ._.
Mengingat moment beberapa waktu lalu, juga moment yang saat ini. Ada satu hal yang mengganjal dihati J seperti yang kita ketahui, biasanya pada saat syukuran itu ada sesi doanya. Berdoa pada Allah baik untuk yang sedang berulang tahun maupun yang hadir disana.

Sadar atau engga, sering kali kata kata berikut terucap:

“Di usia ke tujuh belas tahun ini berarti sudah dewasa, dan semoga semakin dewasa”

Kalau menurut saya pribadi, umur tujuh belas tahun itu belum bias menjadi  tolak ukur dewasa atau tidaknya seseorang. Bukan umur yang mendewasakan seseorang. Karena  tua itu adalah sebuah kepastian dan dewasa itu merupakan pilihan.

Apakah kita sudah siap menjadi dewasa di umur ke-17 ini?
Jawabannya ada pada diri kita sendiri.
Banyak orang yang menginjak umur diatas 20 tahun, tetapi masih memiliki pola pikir bagai anak-anak. Ambil contoh:

  • Berapa banyak mahasiswa di Drop Out dari kampusnya karena absensinya jebol akibat terlalu rajin datang ke warnet?
  • Berapa banyak anggota DPR mangkir pada saat rapat?
  • Berapa banyak pengendara sepeda motor berkeliaran di jalan raya tanpa helm?
  • Berapa banyak orang yang asyik berbagi asap rokok, padahal di depan matanya terpampang pringatan larangan untuk merokok?
  • berapa banyak kesalahan kesalahan bodoh bagai pemikiran anak kecil yang dilakukan oleh orang dewasa?

Disinilah kita, seberapa tua usia kita. Apa bila tak belajar untuk berpikir dewasa maka selamanya kita akan tetap seperti sekarang. Tidak berubah ke arah yang lebih baik.

Belajarlah dewasa..
Dewasa untuk berpikir mana yang baik dan mana yang buruk.
Dewasa untuk berani bertindak karena benar dan takut karena salah. 
Dewasa untuk menghargai orang lain. Dewasa untuk membimbing diri sendiri.

*happy birthday muadz abdurahman. Hopefully you’ll grown up and be a good people. Amin.

Senin, 20 Mei 2013

Tingkat keseriusan belajar terhadap harapan orang tua

Pernah mikirin gak, tingkat keseriusan belajar kita terhadap harapan orang tua?

Mungkin kebanyakan orang gak penah mikirin ini. Ngapain juga ya dipikirin? Belajar ya belajar-_- harapan orang tua ya harapan mereka. Toh kita yang jalanin, kita juga yang nikmatin. Mereka cuma sekedar berharap.

Tapi kali ini situasinya beda. Beberapa waktu lalu (2 tahun ke belakang) saya pernah ngobrol sama abi (re:ayah) tentang ngelanjutin kuliah di luar negeri (tujuannya jerman). Besar harapan abi salah satu anaknya bisa mengenyam pendidikan diluar negeri, khususnya jerman.

Sewaktu muda dulu abi juga pernah punya keinginan untuk kuliah keluar sana. Tapi berhubung orang tuanya ga punya biaya untuk yang satu ini, abi harus mengubur keinginannya. Fyi buat kuliah aja abi harus cari beasiswa atau perguruan yang ga memungut biaya. Nah atas dasar itu, abi mau anak anaknya bisa kuliah ke luar negeri. Biaya pun sebisa mungkin abi siapin untuk anak anaknya.

Ada rumah kontrakan gak jauh dari rumah, kalo diuangkan kira kira 130 jeti ._. itulah kunci harta karun abi untuk menerbangkan buah hatinya ke luar negeri. Karena untuk kuliah diluar sana paling ga butuh banyak biaya. Baik beasiswa maupun mandiri.

Saya pernah mendatangi sebuah program kuliah luar negeri yang dikelola oleh event organizer (merk ga usah sebut ya). EO itu menjual jasa bimbingan untuk calon mahasiswa yang berminat untuk kuliah di luar negeri, khususnya Australia, jerman, prancis dan inggris. Mereka (EO) membimbing para calon maba itu mulai dari persiapan bahasa, translate ijasah-dsb, tempat tinggal, sampai bimbingan untuk test di universitas diluar sana.

Kalo dihitung secara kasar, kira kira ikut program itu habis sekitar 70 jeti. Belum termasuk biaya hidup disana. Well, apapun butuh biaya kan? Biar beasiswa sekalipun. Ga ada yang free 100%

Balik ke masalah utama (emang masalahnya apaan?) buat saya dan abi tentunya masalah biaya sedikit banyak sudah bisa diatasi. Tapi disini batin saya mulai berkecamuk.
Tadi sore, abi telfon dari Palembang. Seperti biasa nanyain kabar, kegiatan dan sebagainya. Sampai beliau berkata, “kamu jadi ga ke jerman? Cobalah kamu cari lagi program program lain buat kuliah ke jerman”.

Dari sini saya mulai tersadar, selama ini kemana aja? Ngapain aja?
Kalau untuk masalah administrasi, diurus sebentar mungkin selesai. Berangkatlah saya ke jerman. Tapi gimana dengan otak? .__. Mumpuni gak? Bisa gak saya mengimbangi pelajaran disana? Sementara saya masih harus belajar memahami bahasa mereka. Saya percaya otak manusia itu semuanya sama. Semuanya berkemampuan untuk melakukan apa yang dapat dilakukan orang lain, kemampuan albert Einstein sekalipun. Asal mereka mau berusaha.

Disinilah kata kuncinya. Usaha. Sudahkah saya berusaha selama ini? Sudahkah saya besungguh sungguh selama ini? Malu rasanya, besar harapan mereka pada saya, tapi sedikitpun usaha belum saya lakukan.

Banyak orang berkeinginan, bercita cita, bermimpi mengenyam pendidikan diluar negeri. Namun ditentang oleh orang tua mereka. Lalu bagaimana dengan saya? Dukungan penuh dari orang tua. Tapi belum selangkahpun saya bersiap.

Terwujudnya harapan orang tua itu tergantung tingginya usaha anak dan seberapa besar mereka ingin mewujudkannya. Memang untuk kasus ini kita lah yang berperan penuh. Kita yang berusaha, kita pula yang akan menikmatinya. Meskipun harapan ini awalnya pada orang tua. Meskipun kadang kita sulit memahami, sulit untuk mewujudkannya.

Tetapi salahkah? Mewujudkan harapan mereka?
Saya yakin semua harapan orang tua pada anak mereka pasti baik.

Bukankah membahagiakan mereka adalah kewajiban kita?
Pahala bagi kita. Dan jalan kita menuju surga :)

Prolog

Assalamualaikum wr. wb.

Saya Ahmad izzudin :) 

Dan ini adalah blog kesekian yang pernah saya miliki. namun karena satu dan lain hal, blog blog terdahulu saya tidak bisa digunakan atau bahkan ditemukan kembali. entah karena di hack atau jarang ditulis (╥_╥)

bismillah, I tried to start writing again (_)9
biar bagaimanapun memulai itu mudah, yang sulit adalah mempertahankan apa yang telah kita mulai. sama seperti menulis, sudah sering kali keinginan ini muncul untuk kembali menulis. tetapi tetap saja rasa malas dan sikap yang tidak konsisten mengubur semuanya. 

yah.. biarpun ada banyak dorong dari sana-sini. 
sedih kadang, kalo inget inget respon follower blog yang nanya mana lagi postingannya, atau kok gak nulis lagi? bahkan sekarang pun blog kesayangan sudah di hack . karma mungkin, blog yang dulu sering di cuekin. memang, sesuatu itu akan terasa berharga kalo kita udah kehilangannya.

well, doakan saya untuk konsisten dalam menulis di sudut terpencil jendela browser anda. semoga keinginan saya untuk berbagi pemikiran pemikiran baik tetap terlaksana :)

see you.