Ada kejadian menarik
yang membuka hati saya ketika musibah menerpa keluarga saya. Seharusnya pukul
11.30 malam keluarga saya ( abi, umi, safira, dan zaidan ) seharusnya sudah
mendarat di soekarno hatta. Tetapi hingga pukul 03.00 dini hari. Mereka belum
juga sampai dirumah..
Ternyata musibah
menimpa mereka. Perjalanan dari prabumulih – Palembang yang biasanya hanya
butuh dua jam perjalanan terpaksa ditempuh selama lima jam karena macet parah.
Take off pesawat
pukul 10.30 malam pun sudah pasti terlewat. Hanguslah empat tiket pesawat
seharga Rp.2.500.000 akibat insiden tersebut. Terpaksa mereka menginap di hotel
sekitar bandara untuk penerbangan esok paginya.
Jika dihitung secara
matematis pastilah mereka rugi besar. Dan lebih rugi lagi apabila tetap
melanjutkan perjalanan. Karena otomatis harus membeli tiket perjalanan lagi,
menyewa hotel, biaya makan dan sebagainya. Sudah tentu memerlukan biaya yang
besar.
Lalu? Mengapa harus
memaksakan demikian? Pentingkah tujuan mereka? Bukankah hanya sekedar untuk
menengok saya dan kakak saya? Sepele mungkin.. terlalu besar kerugian yang di
derita jika dihitung oleh kaca mata matematis.
Lalu untuk apa?.....
Silaturahim ..
Jawaban singkat yang
memutus segala pertanyaan pertanyaan yang membentang dibelakangnya.
Silaturahim adalah
kewajiban semua muslim.. sejauh apapun jarak terbentang, sesulit apapun aral
yang melintang, memisahkan kedua saudara seiman. Silaturrahim harus tetap
dijalin.
(Silaturrahim artinya
adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab)
Mengertilah kita,
mengapa pada hari raya ribuan saudara seiman kita bersusah payah melakukan “mudik”
ke kampung halaman yang jauh disana. Melambungnya harga tiket angkutan masal,
macetnya jalanan selama waktu mudik, kondisi panas terik matahari, dinginnya
malam dan hujan. Bukanlah halangan bagi mereka yang bersedia menyambung tali silaturrahim..
“barang siapa yang
senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung
silaturahim” (HR bukhari).”
Sungguh indah
persahabatan umat muslim itu apa bila tali silaturrahim tetap terjaga.
Semestinya tidak ada
lagi kasus-kasus tetangga kelaparan disebelah rumah kita, pemuda yang
menganggur begitu lama, seorang manula yang meninggal sendiri dirumahnya tanpa
ada yang mengetahui. Dan banyak lagi kejadian mengharukan akibat tali
silaturahmi yang terjaga.
Kita lihat Negara Negara
di dunia bisa hidup damai berdampingan oleh karena terjalinnya satu kata yaitu “silaturrahim”
dari tiap tiap petinggi negaranya..
“barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim” (HR. bukhari)
Banyak sekali bentuk
silaturahim yang bias kita jalin dengan sesama muslim..
Diantaranya:
- Berziarah
- Tersenyum
- Memberi hadiah
- Memberi nafkah
Jangan putuskan tali
silaturahim apabila kita tidak ingin mendapatkan murkaNya.
Tidak akan masuk surga
seseorang yang memutuskan silaturrahim. Nabi shallallahu ‘alaihu wa sallam
bersabda “tidaklah masuk surga orang yang memutus tali silaturahim” (HR
bukhari)
Siksaan dunia dan
akhirat kelak sudah pasti kita terima. Sebagai mana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, “tidak ada dosa yang lebih cepat siksaannya di dunia bagi pelakunya,
juga diperlambat siksaannya di akhirat kelak dari pada orang zhalim dan memutus
hubungan silaturahim.
So.. Gimana? Masihkah
kita acuh pada sanak saudara kita? Menelantarkan mereka, membiarkan mereka
terpisah dari kita tanpa kita ketahui kabarnya? .. sekalipun tidak jika kita
belum siap merasakan neraka.
Jadi, mulailah dari
sekarang menjalin silaturrahim. Datangilah orang tuamu, peluk mereka, cium
keningnya, genggam tangannya. Entah sampai kapan kalian masih bias melakukan
itu.
Kadang kita lupa. Terlalu
sibuk untuk tumbuh menjadi dewasa, sehingga tak sadar orang tua kita dirumah
pun semakin menua. Apabila sudah tiba waktunya? Hanya sesal seumur hidup yang bias
dirasa oleh kita. Karena apa? Selama hidup ini tak pernah ingat akan
silaturrahim..
Jadilah muslim
seutuhnya,
Hiduplah dengan
kebanggaan atas seorang khalifah dimuka bumi.
Salam hangat
silaturrahim :)
Ahmad Izzudin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar