Jumat, 27 Juni 2014

Selamat tinggal kota penuh kenangan

Setelah 18 tahun aku mendiami kota ini, depok. Banyak sekali yang telah terjadi. Bahagia, derita, tawa, tangis, suka, duka. Silih berganti menghiasi hari hariku di kota ini.

Dan kini akhirnya aku tersingkir juga. Setidaknya aku pergi untuk 3-4 tahun kedepan, aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku di kota orang lain, Semarang. Untuk tujuan muliaku, menuntut ilmu :) kuliah!

Berawal dari pilihanku untuk mengambil studi di Universitas Diponegoro beberapa waktu lalu. Yang tidak pernah aku sangka bahwa akan diterima disana, bahkan pada saat ini aku telah menjadi bagian dari Universitas Diponegoro semarang.

Semarang kota yang asing. Yang hanya pernah sesekali aku lewati ketika melakukan perjalanan ke jogjakarta.Tanpa sanak saudara. Tanpa kenalan satupun. Tanpa pengalaman yang berarti menjelajahi kota orang lain. Hanya berbekal doa kedua orang tua. Aku yakin aku mampu menaklukannya.

Baru kali ini mataku terbuka, bahwa betapa nyaman dan betahnya aku mendiami kotaku tercinta ini, depok. 18 tahun kini usiaku, dan hampir bergulir ke angka 19 beberapa bulan kedepan.

Aku adalah saksi hidup betapa cepatnya Depok berkembang. Dari pemukiman sederhana hingga menjadi apartement mewah. Dari kebun kebun tanaman buah hingga kini berubah menjadi mal-mal megah yang saling bersaing.

Jalanan yang lengan dengan cukup 2 lajur kini menjadi sesak padahal lajurnya telah bertambah 2 kali lipat. Kota dengan ruang terbuka yang lapang hingga kini aku kesulitan untuk bernafas karena polusinya. Kota yang telah dewasa, berikut dengan permasalahan penduduknya.

Berjuta kenangan telah tercipta. Berjuta cerita habis terukir. Ribuan malam menjadi saksi bahwa seorang pemimpi kini tertidur pulas. Menanggalkan sejenak ambisi dan aktivitasnya.

Hari demi hari semakin bergulir, membawaku mendekat pada saat dimana aku harus pergi. Pergi meninggalkan kotaku tercinta. Meninggalkan segala singgasana milikku yang nyaman.

Hal yang terberat dari perpindahan adalah ketika kita masih terikat dengannya. Raga mungkin berpindah, namun hati dan pikiran masih jauh tertinggal dibelakang sana. Terlalu nyaman dengan kenangan tempo dulu. Kejayaan di masa lalu.

Mungkin inilah jalan takdirku. Pergi untuk beberapa lama meninggalkan kota ini beserta kenangan kenangannya. Memberi waktu padaku untuk menyembuhkan luka di hati.

Memberi kesempatan untuk jiwa ini bergerak bebas. Memperbaiki keadaan yang kini kian rumit. Menata ulang mimpi mimpi yang ada. Menyusun lembaran baru untuk segala kemungkinan di masa depan.

Aku harus menaklukan tempatku yang baru. Membangun kejayaan disana dan kembali ke tempat asalku. Aku pergi untuk kembali.

Tidak ada komentar: