"Nama adalah doa" ungkapan Rasulullah yang mungkin tak banyak dipahami dan diaplikasikan oleh umatnya di zaman sekarang.
Apalah arti sebuah nama.. Jikalau sang pemilik bahkan tak tahu menahu tentang arti namanya. Distorsi makna tidak terelakan lagi..
Aku pun demikian.. Satu hal yang kadang membingungkan saat aku harus berdiri di depan audiens untuk memperkenalkan diri. Bukannya aku tidak pandai berbicara di depan umum, grogi dan sebagainya..
Yang membingungkan adalah saat aku harus menyebutkan nama panggilanku.
Terlalu banyak, terlalu beragam..
Jawaban diplomatis yang bisa kubuat hanyalah,
" nama saya Ahmad Izzudin. Panggilannya bebas yang menurut kalian enak, asal jangan menyakitkan" sekian.
Di rumah aku dipanggil ahmad, di sekolah iju, di bimbel izzu, ada yang bilang bang je, ada yang menyapa judin, ada pula kaka ije, atau juga ka-iju.
Di tempat umum kadang aku suka malu sendiri.. Saat salah satu julukanku disebut, nyatanya bukan memanggilku.
Nama sejatinya memang sebuah doa, doa kepada sang pemilik nama. Namun tak salah juga jika memanggil tak sesuai aslinya.
Keberatan? Tentu tidak. 'Mother tongue' kita sebagai orang indonesia memang agak kaku untuk menyebutkan kata kata asing.. Untuk itulah aku memakluminya
Tak masalah jika harus dipanggil apa atau siapa oleh orang lain. Selama panggilan itu tidak merendahkan dan tidak mengandung arti yang negatif.
Lantas mana yang baik? Memanggil sesuai namanya atau dengan julukan?
Keduanya baik..
Memanggil sesuai nama aslinya berarti kita mendoakan orang tersebut dan malaikatpun akan mendoakan kita kembali.
Memamggil dengan nama yang singkat memang akan menghilangkan esensi sari sebuah nama. Namun memudahkan orang lain juga bukan tindakan yang salah...
Walaupun tak bisa dipungkiri memanggil dengan nama asli memang jauh lebih baik dan sangat dianjurkan.
Kalau begitu, mulailah memanggil nama orang lain dengan nama yang baik. Kalau sulit, biasakanlah :) sesuatu yang terbiasa pasti akan menjadi mudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar