Mungkin kalimat ini sering keluar dari mulut kita, “ah,
siapapun presidnenya tidak akan berpengaruh buat kita.”
Yang memperburuk keadaan adalah diamnya orang baik dan
acuhnya masyarakat terhadap politik. Sehingga yang menguasai elit-elit jabatan
di negeri ini adalah orang-orang munafik dan curang. Sedih rasanya mendengar
sikap tak pedulinya masyarakat tentang nasib bangsa lima tahun ke depan. Terlebih
lagi bagi mereka yang menganggap remeh masalah lima tahunan ini.
“toh, kalau jelek lima tahun lagi masih bisa diganti”. Apakah
akan semudah itu? Apakah harus menunggu selama itu untuk memperbaiki indonesia?
Pikirkanlah berapa banyak kerusakan yang akan ditimbulkan mereka selama lima
tahun mendatang. Hutang yang harus bangsa ini tanggung bersama, dajjal-dajjal
kecil yang kian melebarkan sayapnya menggerogoti kayaan negeri ini.
Bagi kita yang mampu mungkin pemilu bukanlah hal yang
penting. Namun bayangkanlah nasib rakyat kecil, mereka yang tidak memiliki daya
upaya, yang hanya bisa mengandalkan pemerintah dan tuhan. Arah bangsa ini terletak dikeputusan para elitnya. Kebijakan
yang dibuat, kerja sama yang dijalin, hutang yang dihasilkan, dan banyak hal
lainnya. Lalu masihkah kita menganggap remeh hal ini dan mengacuhkannya?
Negeri ini sudah cukup mendengar kekayaan alamnya diambil
dan dinikmati pihak asing. Lantas mengapa masih memilih pemimpin yang menjadi
boneka asing.
Negeri ini sudah banyak kehilangan harkat dan martabat. Lantas
mengapa masih memilih pemimpin yang tak punya harga diri dimata asing.
Negeri ini sudah terlalu banyak dikuasai oleh orang-orang
korup. Lantas mengapa masih memilih pemimpin yang korup.
Negeri ini sudah terlalu sering dikhianati. Lantas mengapa
masih memilih pemimpin yang tidak amanah.
Negeri ini sudah bosan dibohongi. Lantas mengapa masih
memilih pemimpin yang tidak jujur.
Pemilu kali ini tidak akan banyak berarti bagi kita, namun berarti
banyak bagi negeri ini. Satu suara yang kita berikan akan menentukan siapa yang
akan menduduki pucuk kepemimpinan. Pemimpin yang amanah atau yang pengkhianat.
Satu hal yang aku pelajari: “Memilih pemimpin itu seperti
memeluk agama. Tidak semua orang diberikan hidayah untuk sadar mana yang
terbaik. Padahal sangat jelas fakta disekitar kita mana yang terbaik dan mana
yang munafik.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar