Selasa, 08 Juli 2014

Pemimpin Bangsa Ini

Mungkin kalimat ini sering keluar dari mulut kita, “ah, siapapun presidnenya tidak akan berpengaruh buat kita.”

Yang memperburuk keadaan adalah diamnya orang baik dan acuhnya masyarakat terhadap politik. Sehingga yang menguasai elit-elit jabatan di negeri ini adalah orang-orang munafik dan curang. Sedih rasanya mendengar sikap tak pedulinya masyarakat tentang nasib bangsa lima tahun ke depan. Terlebih lagi bagi mereka yang menganggap remeh masalah lima tahunan ini.

“toh, kalau jelek lima tahun lagi masih bisa diganti”. Apakah akan semudah itu? Apakah harus menunggu selama itu untuk memperbaiki indonesia? Pikirkanlah berapa banyak kerusakan yang akan ditimbulkan mereka selama lima tahun mendatang. Hutang yang harus bangsa ini tanggung bersama, dajjal-dajjal kecil yang kian melebarkan sayapnya menggerogoti kayaan negeri ini.

Bagi kita yang mampu mungkin pemilu bukanlah hal yang penting. Namun bayangkanlah nasib rakyat kecil, mereka yang tidak memiliki daya upaya, yang hanya bisa mengandalkan pemerintah dan tuhan. Arah bangsa ini terletak dikeputusan para elitnya. Kebijakan yang dibuat, kerja sama yang dijalin, hutang yang dihasilkan, dan banyak hal lainnya. Lalu masihkah kita menganggap remeh hal ini dan mengacuhkannya?

Negeri ini sudah cukup mendengar kekayaan alamnya diambil dan dinikmati pihak asing. Lantas mengapa masih memilih pemimpin yang menjadi boneka asing.

Negeri ini sudah banyak kehilangan harkat dan martabat. Lantas mengapa masih memilih pemimpin yang tak punya harga diri dimata asing.

Negeri ini sudah terlalu banyak dikuasai oleh orang-orang korup. Lantas mengapa masih memilih pemimpin yang korup.

Negeri ini sudah terlalu sering dikhianati. Lantas mengapa masih memilih pemimpin yang tidak amanah.

Negeri ini sudah bosan dibohongi. Lantas mengapa masih memilih pemimpin yang tidak jujur.

Pemilu kali ini tidak akan banyak berarti bagi kita, namun berarti banyak bagi negeri ini. Satu suara yang kita berikan akan menentukan siapa yang akan menduduki pucuk kepemimpinan. Pemimpin yang amanah atau yang pengkhianat.

Satu hal yang aku pelajari: “Memilih pemimpin itu seperti memeluk agama. Tidak semua orang diberikan hidayah untuk sadar mana yang terbaik. Padahal sangat jelas fakta disekitar kita mana yang terbaik dan mana yang munafik.”




Tidak ada komentar: