Tidak
ada salahnya mengingat kembali hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu. Berkunjung
kesana, merefleksikan kembali apa yang pernah dialami dahulu, masa lalu memang
tempat yang indah untuk dikunjungi, namun bukan tempat untuk ditinggali. Sesuatu
yang indah tak jarang mengundang air mata, terkadang mengingat hal yang lalu
akan membawa kita pada perasaan tak menentu. Sesaat senang, setelahnya sakit
turut diundang.
Manusia
memang tidak luput dari kesalahan, dan bodohnya aku yang tidak pernah kapok
untuk bertualang mengenang kembali masa lalu, yang selalu berujung pada sakit
di hati. Membawa air mata, membuat aku lupa akan indahnya kenyataan saat ini,
kembali kufur atas ketenangan yang aku miliki. Terlampau sering mengunjungi
masa lalu, berjalan jalan disana, berusaha sekeras mungkin untuk tinggal
disana.
Aku mungkin
tipe orang yang tidak bisa diam di rumah. Pergi kesana kemari mungkin pilihan
yang baik untuk orang sepertiku, memfokuskan pikiran pada hal yang aku temui di
depan sana. Bertemu dengan hal-hal baru, belajar banyak dari sana. Kemudian pulang
dengan membawa berbagai pertanyaan, untuk selanjutnya pergi kembali mencari
jawaban tersebut.
Sangat
terpaksa jika harus berdiam diri di rumah. Justru petaka yang terjadi, raga
mungkin bungkam, namun pikiran melayang pergi, jauh menjelajah dimensi ruang
dan waktu. Bertualang ke masa lalu, mengingat kembali hal-hal yang sebenarnya
lebih baik jika tidak aku kenang. Dikala nostalgia berubah menjadi nostalgila,
kebaikan dari mengenang masa lalu perlahan membawa air mata.
Jari-jari
ini gatal menari di atas keyboard computer, mengklik sana-sini, membuka
file-file dan aplikasi lama yang terlupakan oleh waktu. Tanpa sadar aku
mengorek kembali kenangan lama, berawal dari keisengan belaka yang berbuntut
perjalanan ke masa lalu.
Timeline.
Garis yang senantiasa tersambung dalam perjalanan waktu. Sore itu aku kembali
melirik laptop usang milikku, entah sudah berapa lama tidak aku gunakan. aku nyalakan
dan kulihat layar desktopku, echofon. Aplikasi yang terasa asing belakangan
ini. Setahun sudah tidak pernah aku sapa. Jari ini tanpa kuarahkan mengklik
aplkasi tersebut, menjelajahi bagian home, mention, serta direct message. Aku coba mencerna dengan saksama apa yang
terdapat disana, satu persatu aku baca deretan sejarah yang sebenarnya masih
hangat. Baru berumur satu setengah tahun.
Waktu
memang berjalan bergitu cepat, tanpa pernah kita sadari. Tanpa pernah bisa
kendalikan. Waktu berjalan, manusia berubah. Belum lama sebenarnya. Namun aku
tidak tahu mengapa apa yang aku lihat ini terasa sangat asing. Serasa seperti
bertemu dengan orang lain, diriku yang dulu. Bodoh! Untuk kasus ini aku merasa
waktu berjalan sebagaimana mestinya, bahkan cenderung lambat. Namun keadaan
berubah sangat jauh, banyak yang telah berubah.
Malang
nian, tersandera masa lalu. Hal yang tidak lagi nyata, tidak lagi ada. Hanya ruang
kosong yang menyajikan bayangan keindahan. Hanya sebatas bayangan. Tidak akan
pernah lebih dari itu. Namun ego ini lebih memilih untuk tetap tinggal disana. Bukannya
berhenti, aku justru semakin jauh menjelajah, terus menerus membaca apa yang
ada disana, ke arah yang lebih lama, yang lebih asing. Menghidupkan kenangan
yang telah mati. Aku seperti menggaruk luka, semakin lama semakin dalam. Memperburuk
keadaan. Sebenarnya aku sadar betul apa yang aku lakukan, yang tidak aku sadari
adalah bahwa aku harus berhenti dengan segera. Bukannya terus menerus
menenggelamkan diri ke dalam sana.
Semakin
lama perasaan ini semakin tidak menentu, kacau balau. Ketika aku membaca
deretan kata-kata yang menggambarkan bagaimana keadaan waktu itu. Lucu dan
seru, mungkin bisa sedikit menjelaskan apa yang terjadi. Tetapi yang tertancap
di benak ini justru perasaan yang menyesakkan dada dan membuat mata
berkaca-kaca. Bahwa betapa rindunya aku akan masa lalu, betapa inginnya aku
untuk kembali kesana, mengulang apa yang pernah terjadi. Lebih bodohnya
terbersit keinginan untuk memperbaiki yang telah berlalu. Sangat tidak
mencerminkan diriku.
Sungguh
ironis. Setiap manusia mengalami tiga fase, masa lalu, masa kini, dan masa
depan. Deretan kejadian yang telah dialami seseorang akan menjadi masa lalunya.
Apa yang sedang diperjuangkan saat ini adalah masa kini. Dan apa yang akan
terjadi nanti merupakan masa depannya. Manusia hidup di masa kini seraya
mempersiapkan diri untuk masa depan, masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran
bagi mereka yang mengerti.
Manusia
mungkin bisa hidup hanya di masa kini atau masa depan saja. berjalan tanpa
arah, tanpa perencanaan ke depan adalah cirri manusia yang hanya hidup di masa
kini, seluruhnya spontanitas. Manusia yang hanya hidup di masa depan adalah
manusia yang terus menerus menghayalkan akan menjadi apa di masa depannya
kelak, namun tidak melakukan apapun di masa kini. Hanya seorang penghayal,
tanpa tindakan.
Masa
lalu mungkin indah, mungkin nyaman, mungkin berharga. Tetapi masa lalu bukanlah
tempat untuk ditinggali. Karena manusia tidak akan benar benar hidup jika masih
terbelenggu oleh masa lalu.
Aku
sangat mengerti itu semua. Namun yang membuatku tidak habis pikir ialah mengapa
aku masih bisa terus menerus seperti ini. Tersesat dalam ingatan masa lalu,
terlalu sering dan terlalu lama menengok ke belakang. Terlalu menikmati sesuatu
yang semu. Tanpa pernah bisa aku mencegahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar