Senin, 14 Juli 2014

Jangan Pernah Hidup di Masa Lalu

Tidak ada salahnya mengingat kembali hal-hal yang pernah terjadi di masa lalu. Berkunjung kesana, merefleksikan kembali apa yang pernah dialami dahulu, masa lalu memang tempat yang indah untuk dikunjungi, namun bukan tempat untuk ditinggali. Sesuatu yang indah tak jarang mengundang air mata, terkadang mengingat hal yang lalu akan membawa kita pada perasaan tak menentu. Sesaat senang, setelahnya sakit turut diundang.

Manusia memang tidak luput dari kesalahan, dan bodohnya aku yang tidak pernah kapok untuk bertualang mengenang kembali masa lalu, yang selalu berujung pada sakit di hati. Membawa air mata, membuat aku lupa akan indahnya kenyataan saat ini, kembali kufur atas ketenangan yang aku miliki. Terlampau sering mengunjungi masa lalu, berjalan jalan disana, berusaha sekeras mungkin untuk tinggal disana.

Aku mungkin tipe orang yang tidak bisa diam di rumah. Pergi kesana kemari mungkin pilihan yang baik untuk orang sepertiku, memfokuskan pikiran pada hal yang aku temui di depan sana. Bertemu dengan hal-hal baru, belajar banyak dari sana. Kemudian pulang dengan membawa berbagai pertanyaan, untuk selanjutnya pergi kembali mencari jawaban tersebut.

Sangat terpaksa jika harus berdiam diri di rumah. Justru petaka yang terjadi, raga mungkin bungkam, namun pikiran melayang pergi, jauh menjelajah dimensi ruang dan waktu. Bertualang ke masa lalu, mengingat kembali hal-hal yang sebenarnya lebih baik jika tidak aku kenang. Dikala nostalgia berubah menjadi nostalgila, kebaikan dari mengenang masa lalu perlahan membawa air mata.

Jari-jari ini gatal menari di atas keyboard computer, mengklik sana-sini, membuka file-file dan aplikasi lama yang terlupakan oleh waktu. Tanpa sadar aku mengorek kembali kenangan lama, berawal dari keisengan belaka yang berbuntut perjalanan ke masa lalu.

Timeline. Garis yang senantiasa tersambung dalam perjalanan waktu. Sore itu aku kembali melirik laptop usang milikku, entah sudah berapa lama tidak aku gunakan. aku nyalakan dan kulihat layar desktopku, echofon. Aplikasi yang terasa asing belakangan ini. Setahun sudah tidak pernah aku sapa. Jari ini tanpa kuarahkan mengklik aplkasi tersebut, menjelajahi bagian home, mention, serta direct message.  Aku coba mencerna dengan saksama apa yang terdapat disana, satu persatu aku baca deretan sejarah yang sebenarnya masih hangat. Baru berumur satu setengah tahun.

Waktu memang berjalan bergitu cepat, tanpa pernah kita sadari. Tanpa pernah bisa kendalikan. Waktu berjalan, manusia berubah. Belum lama sebenarnya. Namun aku tidak tahu mengapa apa yang aku lihat ini terasa sangat asing. Serasa seperti bertemu dengan orang lain, diriku yang dulu. Bodoh! Untuk kasus ini aku merasa waktu berjalan sebagaimana mestinya, bahkan cenderung lambat. Namun keadaan berubah sangat jauh, banyak yang telah berubah.

Malang nian, tersandera masa lalu. Hal yang tidak lagi nyata, tidak lagi ada. Hanya ruang kosong yang menyajikan bayangan keindahan. Hanya sebatas bayangan. Tidak akan pernah lebih dari itu. Namun ego ini lebih memilih untuk tetap tinggal disana. Bukannya berhenti, aku justru semakin jauh menjelajah, terus menerus membaca apa yang ada disana, ke arah yang lebih lama, yang lebih asing. Menghidupkan kenangan yang telah mati. Aku seperti menggaruk luka, semakin lama semakin dalam. Memperburuk keadaan. Sebenarnya aku sadar betul apa yang aku lakukan, yang tidak aku sadari adalah bahwa aku harus berhenti dengan segera. Bukannya terus menerus menenggelamkan diri ke dalam sana.

Semakin lama perasaan ini semakin tidak menentu, kacau balau. Ketika aku membaca deretan kata-kata yang menggambarkan bagaimana keadaan waktu itu. Lucu dan seru, mungkin bisa sedikit menjelaskan apa yang terjadi. Tetapi yang tertancap di benak ini justru perasaan yang menyesakkan dada dan membuat mata berkaca-kaca. Bahwa betapa rindunya aku akan masa lalu, betapa inginnya aku untuk kembali kesana, mengulang apa yang pernah terjadi. Lebih bodohnya terbersit keinginan untuk memperbaiki yang telah berlalu. Sangat tidak mencerminkan diriku.

Sungguh ironis. Setiap manusia mengalami tiga fase, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Deretan kejadian yang telah dialami seseorang akan menjadi masa lalunya. Apa yang sedang diperjuangkan saat ini adalah masa kini. Dan apa yang akan terjadi nanti merupakan masa depannya. Manusia hidup di masa kini seraya mempersiapkan diri untuk masa depan, masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran bagi mereka yang mengerti.

Manusia mungkin bisa hidup hanya di masa kini atau masa depan saja. berjalan tanpa arah, tanpa perencanaan ke depan adalah cirri manusia yang hanya hidup di masa kini, seluruhnya spontanitas. Manusia yang hanya hidup di masa depan adalah manusia yang terus menerus menghayalkan akan menjadi apa di masa depannya kelak, namun tidak melakukan apapun di masa kini. Hanya seorang penghayal, tanpa tindakan.

Masa lalu mungkin indah, mungkin nyaman, mungkin berharga. Tetapi masa lalu bukanlah tempat untuk ditinggali. Karena manusia tidak akan benar benar hidup jika masih terbelenggu oleh masa lalu.
            
             Aku sangat mengerti itu semua. Namun yang membuatku tidak habis pikir ialah mengapa aku masih bisa terus menerus seperti ini. Tersesat dalam ingatan masa lalu, terlalu sering dan terlalu lama menengok ke belakang. Terlalu menikmati sesuatu yang semu. Tanpa pernah bisa aku mencegahnya.

Tidak ada komentar: