Senin, 20 Mei 2013

Tingkat keseriusan belajar terhadap harapan orang tua

Pernah mikirin gak, tingkat keseriusan belajar kita terhadap harapan orang tua?

Mungkin kebanyakan orang gak penah mikirin ini. Ngapain juga ya dipikirin? Belajar ya belajar-_- harapan orang tua ya harapan mereka. Toh kita yang jalanin, kita juga yang nikmatin. Mereka cuma sekedar berharap.

Tapi kali ini situasinya beda. Beberapa waktu lalu (2 tahun ke belakang) saya pernah ngobrol sama abi (re:ayah) tentang ngelanjutin kuliah di luar negeri (tujuannya jerman). Besar harapan abi salah satu anaknya bisa mengenyam pendidikan diluar negeri, khususnya jerman.

Sewaktu muda dulu abi juga pernah punya keinginan untuk kuliah keluar sana. Tapi berhubung orang tuanya ga punya biaya untuk yang satu ini, abi harus mengubur keinginannya. Fyi buat kuliah aja abi harus cari beasiswa atau perguruan yang ga memungut biaya. Nah atas dasar itu, abi mau anak anaknya bisa kuliah ke luar negeri. Biaya pun sebisa mungkin abi siapin untuk anak anaknya.

Ada rumah kontrakan gak jauh dari rumah, kalo diuangkan kira kira 130 jeti ._. itulah kunci harta karun abi untuk menerbangkan buah hatinya ke luar negeri. Karena untuk kuliah diluar sana paling ga butuh banyak biaya. Baik beasiswa maupun mandiri.

Saya pernah mendatangi sebuah program kuliah luar negeri yang dikelola oleh event organizer (merk ga usah sebut ya). EO itu menjual jasa bimbingan untuk calon mahasiswa yang berminat untuk kuliah di luar negeri, khususnya Australia, jerman, prancis dan inggris. Mereka (EO) membimbing para calon maba itu mulai dari persiapan bahasa, translate ijasah-dsb, tempat tinggal, sampai bimbingan untuk test di universitas diluar sana.

Kalo dihitung secara kasar, kira kira ikut program itu habis sekitar 70 jeti. Belum termasuk biaya hidup disana. Well, apapun butuh biaya kan? Biar beasiswa sekalipun. Ga ada yang free 100%

Balik ke masalah utama (emang masalahnya apaan?) buat saya dan abi tentunya masalah biaya sedikit banyak sudah bisa diatasi. Tapi disini batin saya mulai berkecamuk.
Tadi sore, abi telfon dari Palembang. Seperti biasa nanyain kabar, kegiatan dan sebagainya. Sampai beliau berkata, “kamu jadi ga ke jerman? Cobalah kamu cari lagi program program lain buat kuliah ke jerman”.

Dari sini saya mulai tersadar, selama ini kemana aja? Ngapain aja?
Kalau untuk masalah administrasi, diurus sebentar mungkin selesai. Berangkatlah saya ke jerman. Tapi gimana dengan otak? .__. Mumpuni gak? Bisa gak saya mengimbangi pelajaran disana? Sementara saya masih harus belajar memahami bahasa mereka. Saya percaya otak manusia itu semuanya sama. Semuanya berkemampuan untuk melakukan apa yang dapat dilakukan orang lain, kemampuan albert Einstein sekalipun. Asal mereka mau berusaha.

Disinilah kata kuncinya. Usaha. Sudahkah saya berusaha selama ini? Sudahkah saya besungguh sungguh selama ini? Malu rasanya, besar harapan mereka pada saya, tapi sedikitpun usaha belum saya lakukan.

Banyak orang berkeinginan, bercita cita, bermimpi mengenyam pendidikan diluar negeri. Namun ditentang oleh orang tua mereka. Lalu bagaimana dengan saya? Dukungan penuh dari orang tua. Tapi belum selangkahpun saya bersiap.

Terwujudnya harapan orang tua itu tergantung tingginya usaha anak dan seberapa besar mereka ingin mewujudkannya. Memang untuk kasus ini kita lah yang berperan penuh. Kita yang berusaha, kita pula yang akan menikmatinya. Meskipun harapan ini awalnya pada orang tua. Meskipun kadang kita sulit memahami, sulit untuk mewujudkannya.

Tetapi salahkah? Mewujudkan harapan mereka?
Saya yakin semua harapan orang tua pada anak mereka pasti baik.

Bukankah membahagiakan mereka adalah kewajiban kita?
Pahala bagi kita. Dan jalan kita menuju surga :)

Tidak ada komentar: