Mungkin kebanyakan orang gak penah mikirin ini. Ngapain juga
ya dipikirin? Belajar ya belajar-_- harapan orang tua ya harapan mereka. Toh kita
yang jalanin, kita juga yang nikmatin. Mereka cuma sekedar berharap.
Tapi kali ini situasinya beda. Beberapa waktu lalu (2 tahun
ke belakang) saya pernah ngobrol sama abi (re:ayah) tentang ngelanjutin kuliah
di luar negeri (tujuannya jerman). Besar harapan abi salah satu anaknya bisa
mengenyam pendidikan diluar negeri, khususnya jerman.
Sewaktu muda dulu abi juga pernah punya keinginan untuk
kuliah keluar sana. Tapi berhubung orang tuanya ga punya biaya untuk yang satu
ini, abi harus mengubur keinginannya. Fyi buat kuliah aja abi harus cari
beasiswa atau perguruan yang ga memungut biaya. Nah atas dasar itu, abi mau
anak anaknya bisa kuliah ke luar negeri. Biaya pun sebisa mungkin abi siapin
untuk anak anaknya.
Ada rumah kontrakan gak jauh dari rumah, kalo diuangkan
kira kira 130 jeti ._. itulah kunci harta karun abi untuk menerbangkan buah
hatinya ke luar negeri. Karena untuk kuliah diluar sana paling ga butuh banyak
biaya. Baik beasiswa maupun mandiri.
Saya pernah mendatangi sebuah program kuliah luar negeri
yang dikelola oleh event organizer (merk ga usah sebut ya). EO itu menjual jasa
bimbingan untuk calon mahasiswa yang berminat untuk kuliah di luar negeri,
khususnya Australia, jerman, prancis dan inggris. Mereka (EO) membimbing para
calon maba itu mulai dari persiapan bahasa, translate ijasah-dsb, tempat
tinggal, sampai bimbingan untuk test di universitas diluar sana.
Kalo dihitung secara kasar, kira kira ikut program itu
habis sekitar 70 jeti. Belum termasuk biaya hidup disana. Well, apapun butuh
biaya kan? Biar beasiswa sekalipun. Ga ada yang free 100%
Balik ke masalah utama (emang masalahnya apaan?) buat
saya dan abi tentunya masalah biaya sedikit banyak sudah bisa diatasi. Tapi disini
batin saya mulai berkecamuk.
Tadi sore, abi telfon dari Palembang. Seperti biasa
nanyain kabar, kegiatan dan sebagainya. Sampai beliau berkata, “kamu jadi ga ke
jerman? Cobalah kamu cari lagi program program lain buat kuliah ke jerman”.
Dari sini saya mulai tersadar, selama ini kemana aja? Ngapain
aja?
Kalau untuk masalah administrasi, diurus sebentar mungkin
selesai. Berangkatlah saya ke jerman. Tapi gimana dengan otak? .__. Mumpuni gak?
Bisa gak saya mengimbangi pelajaran disana? Sementara saya masih harus belajar
memahami bahasa mereka. Saya percaya otak manusia itu semuanya sama. Semuanya berkemampuan
untuk melakukan apa yang dapat dilakukan orang lain, kemampuan albert Einstein sekalipun.
Asal mereka mau berusaha.
Disinilah kata kuncinya. Usaha. Sudahkah saya berusaha selama ini? Sudahkah saya besungguh sungguh selama ini? Malu rasanya, besar harapan mereka pada saya, tapi sedikitpun usaha belum saya lakukan.
Banyak orang berkeinginan, bercita cita, bermimpi
mengenyam pendidikan diluar negeri. Namun ditentang oleh orang tua mereka. Lalu
bagaimana dengan saya? Dukungan penuh dari orang tua. Tapi belum selangkahpun
saya bersiap.
Terwujudnya harapan orang tua itu tergantung tingginya
usaha anak dan seberapa besar mereka ingin mewujudkannya. Memang untuk kasus
ini kita lah yang berperan penuh. Kita yang berusaha, kita pula yang akan
menikmatinya. Meskipun harapan ini awalnya pada orang tua. Meskipun kadang kita
sulit memahami, sulit untuk mewujudkannya.
Tetapi salahkah? Mewujudkan harapan mereka?
Saya yakin semua harapan orang tua pada anak mereka pasti baik.
Saya yakin semua harapan orang tua pada anak mereka pasti baik.
Bukankah membahagiakan mereka adalah kewajiban kita?
Pahala bagi kita. Dan jalan kita menuju surga :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar