Kamis, 02 Januari 2014

I'm Not Writer

Waktu kecil pasti punya cita cita yang besar. Namun semakin besar cita cita itupun mengecil. mata terbuka, impianpun lama kelamaan sirna. Usually we said “realistis”.
            Kalo udah besar mau jadi apa?

Dokter!
Cita citanya apa?
Penulis!
Kok berubah?
Iya, biar bisa dicombine, seorang dokter yang juga seorang penulis. Nulis resep obat maksudnya..

Cita cita tetap tidak akan berubah menjadi profesi kalau keseharian kita gak mencerminkannya. Sepintar apapun pribadi, sehebat apapun personal. Seberuntung apapun namanya.

Aku ingin menjadi penulis.. tetapi pena dan kertas berdebu tak pernah ku sentuh, hari hariku jauh dari merangkai kata. Tiap tiap detik tak kuhabiskan dengan memikirkan karya apa yang akan aku hasilkan.

Terus terang semakin kesini karyaku semakin menipis, sebuah karya gagal yang memakan waktu bulanan bahkan tahunan. Kemampuanku dalam menulis tak ubahnya seperti karya anak smp. Statis, usang, tak pernah berkembang.

Aku bukan tak berbakat, aku hanya tak sepakat, antara keseharian dengan kemampuan. Awal awal semangatku dalam menulis menghasilkan banyak karya. Entah itu bagus atau tidak terserah penilaian orang. Yang terpenting adalah kepuasan dalam berkarya. Kadang umur yang masih tanggung sering membuatku mendapatkan respon yang beraneka ragam. Entah karena pemikiranku yang berbeda dari orang lain atau memang terlalu muda untuk seusiaku dalam memilih topik.

“yang ini juga bener tulisan lo? Kok gue gak yakin ya?”
“iya, terus aja gak percaya”
            
         Tapi semakin kesini karya karya yang baru tak ubahnya menjadi lebih baik, hanya umur yang naik tapi karya justru terjun bebas. Dulu kalau punya waktu pasti mojok didepan jendela asrama sambil nulis. Di kelas bosen dengerin guru nulis lagi. Nah sekarang? Mungkin nulis dikertas pakai buku jurnal udah gak zaman ya, lebih simple pake notebook yang gampang dibawa kemana mana, menulispun jadi lebih cepat. Tapi nyatanya? Hape lebih sering mengganjal tangan untuk memulai.

Mungkin juga karena ada “twitter” yah? Apapun yang ada di dalam pikiran gampang banget disalurin, tinggal ketik, “tweet” selesai. Tapi harus diakui, bobotnya jadi berkurang. Terbentur dengan 140 karakter K gak bebas ekspresiin feeling kalo kepotong potong. Biarpun sering orang orang buat chipstory untuk tweet bersambung. Tapi gak senikmat ketika membuat dertan kata yang menumpuk di halaman kosong. Melihatnya puas banget, layaknya penulis seungguhan.

Mungkin juga karena kesibukan yang lagi dijalani, tapi itu bukan alasan. Karena memang sesibuk apapun, jika itu memang pribadi seseorang, pasti. Pasti akan ada waktu untuk jiwanya kapanpun itu. Jadi kesibukan mungkin hanya alas an kesekian yang menghentikan kesenanganku ini.

            Aku kehilangan jiwa seorang penulis, semangat yang dulu tebal kini kian tergerus dimakan waktu dan aktivitas yang tidak mencerminkan sebagai seorang penulis. Aku rindu akan kesenangan dan kepuasan ketika sebuah karya yang kubuat mencapai baris terakhir, dengan torehan tanda tangan sebagai ciri karya buatanku. Membaca komentar bagus atau tidaknya tulisanku ini oleh teman temanku. Mendengarkan tanggapan serta masukan dari mereka. Aku rindu itu semua.

            Berkali kali aku coba untuk memulai, berkali pula aku menemukan kebuntuan. Aku kehilangan jiwa seorang penulis, mungkin aku memang bukan penulis.

 Aku hanya cinta menulis. 

Tidak ada komentar: