Kamis, 15 Mei 2014

Labirin masalah

Masih sedih sebenarnya, tulisan ini seharusnya sudah jadi dari sebelum sebelumnya. Dan mungkin seharusnya lebih baik dari ini.

Aku coba menceritakan gambaran umumnya saja, menjadi karya baru yang terinspirasi dari tulisan sebelumnya.

manusia diturunkan ke muka bumi berikut dengan masalah masalahnya. Dan setiap kita harus mampu untuk menyelesaikannya.

setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Melalui masalah Allah memberi kita derajat yang lebih tinggi.

Namun tidak semua masalah dapat diselesaikan sendiri. Karena manusia memiliki keterbatasan kekuatan dan pikiran.

Untuk itulah Allah mengirimkan kita yang namanya teman hidup. Mereka yang akan memdengarkan masalah kita, yang membantu mencarikan jalan keluarnya, yang memberi saran sederhana yang terlupakan oleh kita.

Mungkin yang aku alami pernah kalian alami juga. Dalam keseharian teman teman menilaiku cukup bijaksana. Tak jarang mereka datang ketika ada masalah dan menceritakannya kepadaku.

Sebagai teman tentu aku mendengarkan mereka, berusaha memberi solusi dan memberitahu cara memandang sebuah problema hidup.

Entah mengapa, sebenarnya persoalan yang mereka hadapi adalah persoalan yang cukup sederhana..
yang mungkin sudah sama sama diketahui penyelesaiannya, jika kita dapat melihat point pentingnya.

Mengapa demikian? Jawabannya aku dapatkan beberapa waktu lalu.
Ketika masalah silih berganti menyapa hidupku. Seakan mereka mengantri untuk merusak hidupku secara perlahan.

Berbagai cara sudah aku lakukan. Namun jawaban tak juga kutemukan. Hingga aku berusaha untuk terbuka, bercerita kepada mereka yang aku percaya.

Dari mereka aku dapatkan satu persatu jawaban permasalahan itu. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa positif memandang hidup.

Roda kehidupan pun terbalik. Teman teman yang dahulu datang kepadaku untuk meminta bantuan akan permasalahan mereka. Kini berbalik aku yang meminta mereka membantu diriku.

Kalian semua pasti tahu apa itu labirin? Ya, sebuah permainan mencari jalan keluar..

Sebagai seorang pemain, yang berada dalam labirin raksasa tentunya sangat sulit untuk bisa keluar dari sana. Ada yang tersesat di jalan buntu. Ada yang terus berputar putar di tempat yang sama. Kehilangan arah adalah hal yang biasa.

Sulitkah? Bagi mereka yang berada di dalamnya tentulah sulit.
Namun tidak demikian untuk mereka yang berdiri di sebuah menara dan melihat labirin raksasa itu secara keseluruhan.

Jalan mana yang benar terlihat jelas oleh mereka.

Posisi orang yang berada dalam labirin menggambarkan orang yang sedang mengalami masalah. Jalan manapun terlihat sama oleh mereka. Tak ada bedanya. Tak ada ujungnya.

Banyak dari mereka yang terjebak di jalan yang salah karena tidak mampu melihat arah yang benar.

karena itulah mereka membutuhkan bantuan teman yang berdiri disebuah menara tinggi. Teman yang tidak berada dalam masalah.

Dengan leluasa mereka bisa melihat kemana arah yang harus ditempuh, jalan mana yang benar.

Itulah mengapa orang mudah atau bisa memberikan saran untuk memecahkan masalah. Karena cara pandang mereka yang tidak terjebak di dalamnya lebih terbuka. Lebih memungkinkan melihat ke segala arah.

Masalah, jalan keluar.
Saling melengkapi.

Itulah hidup.

Replika

Sepanjang perjalanan jakarta-jogja tadi gairah untuk menulis cukup menggoda. Alhasil bermodal aplikasi bloger tulisan yang cukup panjang dibuat.

Sayangnya, tiba tiba jaringan provider terputus dan aplikasi tertutup tanpa disengaja. Belum sempat disimpan. Hilanglah tulisan yang sudah susah payah dibuat.

Sedih, rasanya itu benar benar sedih. Mungkin bagi sebagian orang ini hal yang kecil. Toh, cuma tulisan. Masih bisa dibuat lagi. Masih bisa disusun ulang.

Tapi buatku tulisan itu gak sekedar tulisan. Ada nilainya. Tulisan itu bukan sekedar rangkaian kata yang bisa dibuat kapan saja. Tulisan itu sebuah karya, dan setiap karya hanya ada satu di dunia. Gak ada duanya.

Buatku karya itu hanya bisa dibuat sekali. Setelah itu pilihannya hanya selesai atau diperbaiki. Dan jika karya itu sampai hilang, ya sudah. Hilanglah semuanya. Gak bisa hilang sebagian saja.

Sebuah karya gak akan bisa dibuat ulang. Bagaimanapun caranya, siapapun pembuatnya, sehebat apapun dia. Kalau sebuah karya sampai dibuat ulang karya itu gak lebih dari sebuah replika. Tiruan sesuai bentuk aslinya.
Walaupun yang meniru karya itu adalah si pembuatnya sendiri.

Nilainya sudah hilang. Sudah berbeda. Dari sebuah karya menjadi sebuah tiruan. Jauh bukan?

Foto, tulisan, lukisan atau apapun memiliki nilai. Dan nilai itu yang tidak bisa ditiru dengan membuat sesuatu yang serupa.

Senin, 12 Mei 2014

Masa lalu untuk masa depan

Sekelam apapun masa lalu, masa depan masih terang.
Seburuk apapun masa lalu, masa depan masih bersih.

Apapun itu, masa lalu dan masa depan adalah dua hal yang berbeda. Jangan dengarkan mereka yang mencaci masa lalumu. Masa depanmu adalah hakmu.

Apa hak mereka untuk mencaci masa lalumu?
Hanya manusia tanpa dosa yang pantas menilai buruk masa lalu seseorang.
Namun, manusia tanpa dosa pun belum tentu akan melakukannya bukan?

Pikirkan..

Dan setiap orang punya hak untuk bahagia bukan?
Bahagia dengan pilihannya
bahagia dengan jalan hidupnya
Bahagia dengan masa depannya

Tak perlu risau untuk kembali melangkah. Cukup jadikan pengalaman di masa yang lalu sebagai pelajaran yang tidak ternilai harganya. Yang akan menjadi penghalang bagimu untuk jatuh di lubang yang sama.

Biarkan orang lain berkomentar apapun tentangmu. Kamu tidak perlu menutup telinga. Cobalah kuatkan diri untuk mendengar mereka. Dan jika itu bermanfaat bagimu. Ambil pelajaran dari mereka. Jika tidak? Lupakan.
Seharusnya hidup akan semudah itu jika kita mampu mengaplikasikannya.

Bersabarlah, jika orang lain menghina masa lalumu. Toh memang begitu kenyataannya. Yang terpenting adalah hal itu sudah menjadi masa lalumu. Bukan masa kini apa lagi masa depanmu.

Maklumi orang orang yang menghina masa lalumu. Mereka hanya tidak mengerti apa makna dari kesalahan.

Bukan pula mereka lebih baik darimu. Sesungguhnya dengan perbutannya yang merendahkanmu telah membuktikan bahwa mereka sebenarnya lebih rendah darimu. Berbanggalah.

Karena orang baik bukanlah orang yang tidak memiliki kesalahan.
Orang baik adalah orang yang pernah melakukan kesalahan tetapi mencoba memperbaiki kesalahannya.

Jadilah tuli untuk komentar yang tidak bermanfaat dan hanya menjelekanmu.
Jadilah pendengar yang baik untuk setiap komentar yang membangun.

Melangkahlah ke masa depan tanpa melupakan masa lalu. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran dan perhitungan untuk mengambil keputusan.

Masa lalu mungkin indah, mungkin buruk, mungkin menyakitkan.
Masa lalu bukan untuk ditinggali, bukan untuk diratapi, bukan untuk disesali.
Masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran yang berharga.

Jadilah dirimu sendiri tanpa tersandera masa lalu.

Minggu, 11 Mei 2014

Teruntuk Kalian

Hari ini, minggu 11 mei 2014 akan diadakan reuini bimbel di rumahku. Kebayangkan uniknya gimana? Bimbel aja pake ngadain reuni.

Sebelumnya, rabu 7 mei 2014 juga udah ada reuni sesi pertama, hahaha. Tapi berhubung ada beberapa anak yang gak bisa hadir, akhirnya kami sepakat mengadakan reuni lagi pada hari ini. Dengan harapan mereka yang tidak hadir sebelumnya bisa hadir hari minggu ini.

Kalau berbicara tentang persahabatan pasti asik dan gak ada habisnya. Kalau sudah bertemu apapun bisa jadi bahan omongan, gak perlu khawatir kehabisan bahan candaan. Semua akan mengalir begitu saja.

Ambil contoh, acara hari rabu yang lalu. Ketemuan dari jam 1 sampai jam 9 malam rasanya belum cukup untuk memenuhi kepuasaan bertemu..

Yah begitulah.. kawan selalu jadi obat segala macam penyakit dan kesedihan.

Mungkin ini pula jalan yang sudah direncanakan olehNya. Perlahan lahan keteguhanku mulai kembali, sedih dan ketakutan ditengah malam perlahan hilang sudah. Dengan kata lain aku sudah tenang.

***

Satu pesanku untuk kalian yang membaca ini, jagalah persahabatan kalian. Jagalah ikatan pertemanan dengan siapapun, jaringlah persahabatan dengan sebanyak banyaknya kawan.

Kuat atau tidaknya kita sangat dipengaruhi teman.
Dengan teman semua masalah pelik bisa ditertawakan bersama.
Bersama mereka, hujan yang semula dingin kan terasa hangat saat candaan mereka memayungi.
Bersama mereka kelamnya bayangan masa depan seakan hanyalah ruangan gelap, tak ada rasa takut jika masuk kesana bersama.
Dan cahaya pun akan hadir disana.

Teruntuk kalian,
Teman sd, smp, sma, bimbel, kursus, club olah raga, training, dan siapapun yang ku kenal dan ku panggil 'teman'

Waktu mungkin bergulir begitu saja.
Tanpa disadari jarak kian membentang.
Maafkan aku yang tak peka akan keadaan
Maafkan aku yang tak serius memegang tali silaturahim ini.
Hingga tanpa sadar, renggang sudah semuanya. Tak ada lagi waktu, kesempatan, atau bahkan keinginan untuk menemui kalian.
Maafkan aku, jangan kau putus tali ini.

Jikalau kalian bertemu denganku, dan aku tak menyadarinya. Aku mohon ampuni aku. Tegurlah kesalahanku ini, sapalah aku. Ikatkan kembali tali silaturahim kita yang sudah merenggang.

Teruntuk kalian
Dimanapun

Salam,
Ahmad Izzudin

Sabtu, 10 Mei 2014

Penari air mata

Pernah sesekali berdialog dengan diri sendiri. Entah dibilangnya apa, autis, punya dunia sendiri, gila dan sebagainya.

Terkadang suka bingung mengapa belakangan ini kesedihanku ini karena melihat kebahagiaan orang lain. Yah, walau memang berjuta alasan. Memang kesedihanku ini diakibatkan oleh hal tersebut.

Jika Engkau perkenankan hamba untuk bahagia, maka izinkanlah hamba meminta satu hal padaMu ya Rabb..

Jangan engkau bahagiakan aku diatas penderitaan orang lain.
Jangan jadikan kebahagiaanku alasan orang lain untuk bersedih.

Izinkanlah, bahagiaku karena membahagiakan orang lain.
Bahagiaku adalah alasan kebahagiaan orang lain.

Karena aku mengerti betul bagaimana menderitanya orang tersebut.

Karena aku mengerti betul bagaimana 'jahatnya' mereka yang tega menari nari diatas penderitaan orang lain..

Sungguh aku tidak ingin menjadi mereka, menuai senyuman dari perasan air mata orang lain.

Jangan Engkau jadikan aku manusia yang mencicipi kebahagiaan dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain.
Cukuplah apa yang aku rasakan ini, jangan ada lagi aku aku yang lainnya.

Aku ingin bahagia karena membahagiakan orang lain.
Aku ingin orang lain bahagia karena kebahagiaanku.
Aku ingin bahagia tanpa menyakiti orang lain.

Karena bahagiaku adalah untuk aku, untuk mereka, dan untuk semua.

Jumat, 09 Mei 2014

Singgah atau menetap?

Tulisan ini dibuat jam 3 pagi. Udah gitu aja, hahaha

Terkadang lonjakan ide sering muncul disaat yang tidak tepat, sayangnya kalau ide itu tidak segera direalisasikan ide itu sering menguap begitu saja. Sekadar singgah, datang untuk kemudian pergi.

Dalam hidup pasti banyak orang yang kita kenal singgah di hidup kita. Entah itu sahabat, teman, kekasih, rekanan bisnis, dan lainnya.

Yang paling menyakitkan tentu saja yang singgah sesaat namun meninggalkan luka yang cukup dalam. Menjalin relasi hanya sebenetar namun sakit setelah ditinggalkan cukup lama. Satu kata untuk ini, menyiksa.

Ada pula yang singgah untuk waktu yang lama, namun ketika hilang tak berbekas di kehidupan, lenyap begitu saja. Seperti ada dan tiada, tak ada bedanya.

Ada yang sengaja Allah kirimkan di hidup kita untuk beberapa saat, namun memberi arti dan pelajaran yang mendalam. Yang bekasnya terus ada dalam hidup, untuk waktu yang cukup lama.

Singgah berarti berhenti sesaat untuk kemudian pergi lagi.
Singgah bermakna pula datang untuk pergi, diam untuk berpindah, dan berhenti untuk kembali berjalan.. itu sih suka suka aja buat maknanya.

Intinya adalah, tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Termasuk sebuah relation atau hubungan, hubungan apapun entah itu teman, sahabat, keluarga, bisnis. Semua ada waktunya, semua akan indah pada waktunya dan semua akan menyakitkan pada waktunya pula.

yang terpenting dalam sebuah relation adalah memakni dan mengambil pelajaran dalam setiap kejadian. Jangan biarkan sesuatu terjadi dan bergulir begitu saja.

Jika seseorang datang ke dalam hidup kita, terimalah. Beri ruang dan waktu untuk raganya. Namun tidak jiwanya jika engkau belum yakin.

Jika seseorang ingin pergi dari hidup kita, lepaskanlah.. karena Tuhan pasti akan menggantinya dengan sosok yang lebih baik darinya.

Jika telah yakin dalam suatu hubungan. Jangan sekedar singgah, menetaplah. Bangunlah rumah disana, bangun segala sesuatu yang baik, bangun hal yang bermakna, dan bangun ikatan yang kelak akan membuatmu berpikir seribu kali sebelum engkau pergi.

Banyak yang berniat menetap namun tidak membangun apapun, lantas apa yang dimiliki? Tidak ada. Pada akhirnya ia tertinggal. Seperti menetap namun hanya menggunakan tenda. Suatu waktu hancur terbawa angin. Tidak ada yang tersisa.

Ada pula yang hanya sekadar singgah, namun yang dibangun adalah sebuah rumah. Rumah yang sederhana awalnya, namun seiring berjalannya waktu, rumah itu terus dihias dan akhirnya nampak seperti istana. Terjebaklah ia, hilanglah niatan untuk pergi. Dan tinggal/menetap adalah jalan yang ia pilih pada akhirnya.

Aku selalu berdoa jika ada seseorang yang datang. Berdoa agar mataku dibuka untuk menyadari apakah ia hanya singgah atau ingin menetap. Berdoa agar aku yakin padanya sebelum kubuatkan rumah dalam hidupku untuk dia tinggali.

Aku selalu berdoa, agar yang terbaik dariNya lah yang menetap.

Ya Allah, yakinkanlah aku.

Kamis, 08 Mei 2014

Dialog Cinta

Jika ini jalanMu
Izinkan aku memintaMu untuk tetap menemani
Izinkan aku menyusuri petualangan baru
Dengan cinta yang baru

Tak akan, tak akan ku biarkan yang lalu terulang kembali. Wahai Sang pemberi rasa sakit, aku sudah cukup banyak belajar dari masa lalu.

Izinkan aku menutup lembaran lalu dan memulai yang baru.

Wahai Sang pembolak balik hati.
Jika ini kehendakMu, maka jadikanlah yang terbaik. Aku akan terima semua yang Engkau gariskan padaku.

Jika Engkau balikan hatiku, hamba mohon satu hal padaMu.
Teguhkanlah pendirianku.
Jangan Engkau biarkan aku terombang ambing dalam menentukan sikap.

Wahai Sang pemberi kebahagiaan.
Maafkan aku yang terkadang lupa akan apa yang telah engkau beri.. jangan biarkan aku terlarut dalam kekufuran.

Wahai Penentu segalanya.
Ku ikuti permainanMu, aku jalani setiap lika liku cinta yang Engkau gariskan padaku.
Aku perjuangkan apa yang Engkau kehendaki.
Aku pantaskan diriku untuk menerima apa yang Kau takdirkan Bagiku.

Aku tak ingin menuntut banyak padaMu.
Teguhkanlah pendirianku

Senin, 05 Mei 2014

Konflik kepentingan

Adakah yang mengalaminya juga?
Ketika harapan orang tua tidak sesuai dengan keinginan kita.

Membahagiakan mereka yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk kita bukan hal yang salah tentunya. Melihat senyum mereka merekah ketika yang mereka harapkan terwujud adalah salah satu hal yang paling membahagiakan buatku.

Ada satu hal lagi, mewujudkan harapan sendiri tentunya. Ambisi yang telah lama dipendam, strategi yang sudah jauh jauh hari diperhitungkan untuk mewujudkan harapan sendiri juga tak kalah membahagiakan jika dapat tercapai.
Namun bagaimana kasusnya, jika harapan orang tua ternyata berbeda dengan harapan sang anak? Manakah yang harus didahulukan?

Aku mengalaminya.
Aku kembali tersadar akan harapan mereka untukku. Ya untuk diriku
Sedih betul rasanya, bahkan sampai harapan merekapun tentang diriku. Bukan, bukan tentang untuk mereka. Untuk anak anaknya yang mereka cintai.

Sore itu ayah menelponku, seperti biasa menanyakan kabarku disini, sekedar memberitahu bahwa uang bulananku sudah beliau kirimkan. Kemudian percakapan hampir usai, tak ingin aku mengakhirinya, berusaha lebih lama berbincang dengannya. Hal yang langka yang aku dapat.

Selang beberapa kata, meluncurlah kalimat pemberitahuan dari beliau.

"Abi ada informasi beasiswa dari kedutaan jepang, coba kamu buka2 linknya"

......

aku kira perbincangan ini sudah usai, 2 tahun yang lalu..
Aku pikir pemaparanku tentang ambisi hidupku tempo hari sudah beliau mengerti.

Tak tega aku menolak, aku iyakan permintaannya.. meski dalam hati bertanya tanya. Yang mana yang harus aku lakukan?

Memelihara keinginan diri sendiri, atau menuruti keinginan mereka? Toh pada nantinya akan kembali kepadaku pula.

Persetan dengan passion, mungkin alur hidupku akan (kembali) berubah.. kini aku serahkan pada Tuhanku, yang manakah pilihan terbaik. Itu yang akan aku jalani.

Dengan sepenuh hati.

Senin, 28 April 2014

the power of mind



Kekuatan pikiran.

Tahukah?

berat otak hanya sekitar 2% dari berat tubuh secara kesuluhan, tetapi membutuhkan 20% konsumsi oksigen yang kita hirup setiap harinya.

Otak memiliki kapasitas penyimpanan setara dengan 500 buah buku ensiklopedia. Kebayang kan banyaknya kaya apa?

Ini anak ipanya mulai keluar ._.

Otak yang mempengaruhi segala aktifitas kita. Mulai dari berpikir, bertindak, emosi, dan mood semua terkendali dan berpusat di otak.

Otak merangsang hormon yang menghasilkan beragam kondisi. Memacu detak jantung dan meningkatnya aliran darah.

Sebenarnya letak hati (qalbu) bukanlah di dada, melainkan di kepala. kebanyakan dari kita menyangka bahwa hati itu adanya di dada.

Namun kenyataannya otak dalam hal ini pikiran lah yang mempengaruhi jantung saat emosi meluap, membuat detak jantung menjadi lebih cepat, mengalir darah menjadi lebih kencang, membuat napas menjadi tersengal..

Begitu besarnya peranan otak dalam kehidupan.

Pembunuhan paling sadis bukanlah mutilasi.
Penyiksaan paling kejam bukanlah mutilasi.

Pembunuhan paling sadis ialah pembunuhan karakter.

Membunuh pikiran seorang individu merupakan tindakan paling menyiksa.
Membiarkan jasad masih melekat namun jiwanya mati. Ketakutan mengisi setiap detik individu yang terbunuh karakternya.

Akupun pernah merasakan 'mati suri'nya karakter.
Ketakutan menjalani hidup menjadi pesimistis.

Kembali ke 'the power of mind'

Banyak contoh tentang kekuatan pikiran..



Dimana seseorang yakin dapat melakukan sesuatu, maka itulah yang terjadi.

Tugas utama seorang motivator sebenarnya sederhana, namun tidak semua orang bisa melakukannya. Memancing pikiran bawah sadar para audiensnya untuk meyakini apa yang dikatannya.
Menanamkan pemikiran pemikiran positif pada para pendengarnya.

Dari sanalah, dari pikiran pikiran positif akan timbul tindakan positif, individu akan bergerak ke arah yang lebih baik.

Kekutatan utama seorang Individu adalah di pikirannya.

Jadi

Jikalau ingin menghentikan seorang individu, seranglah pikirannya.

Jika ingin mengorbitkan seorang Individu, orbitkanlah pikirannya.

hakikat sebuah janji


Esensi sebuah janji itu adalah hutang.
Hutang kepada manusia, hutang kepada yang menciptakan manusia.

Adalah dosa janji tidak ditepati, bahkan pada akhirnga akan menjadi hambatan manusia untuk naik ketingkat selanjutnya. Banyak kisah klasik tentang seorang yang meninggal tertahan di pintu surga karena masih memiliki hutang, janji yang belum sempat ditepati selama hidup.

Banyak pula yang tidak menyadari betapa beratnya sebuah janji itu. Dengan mudahnya mengumbar janji, tanpa sadar bebannya menumpuk. Saling menunggu untuk ditunaikan.

Aku memang seorang penakut. Takut memikul hutang yang akan senantiasa membebani sampai hari akhir nanti. Takut tidak sanggup membayar janji yang telah kuucapkan. Takut dibayangi janji. Takut lupa akan janji janjiku.

Mungkin karena itu lidahku sangat kelu untuk mengucapkan janji. jikalau harus berjanji, sebisa mungkin yang teringan. Diubah menjadi tekad, agar tiada beban yang membayangi nantinya.
Tekad yang ditanam agar sebisa mungkin terwujud dan jika gagal tidaklah menjadi beban. Toh, sudah berusaha semaksimal mungkin..

Apabila benar benar harus berjanji. Aku lebih memilih untuk berjanji kepada diri sendiri. Berjanji untuk diriku, disaksikan oleh Allah, tuhanku. Dengan harapan agar dapat terpenuhi. Dan bila gagal, diriku sendiri yang dapat mengikhlaskan atau memaafkannya.

Jadi, masihkah anda mengumbar janji?
Masih ringankah lidah anda untuk menebar janji?
Masih beratkah ingatan anda untuk mengingat janji?
Masihkah?

Ada baiknya menimbang dahulu sebelum berjanji, daripada memikul beban yang berat pada akhir nanti.

Semoga bermanfaat

Salam

membangun hidup


Problematika hidup memang beragam, tetapi sadarkah? Sebenarnya permasalahan manusia di dunia ini hanya itu itu saja selama puluhan abad? Hanya kondisi dan situasi masyarakatnya yang berbeda.

Filusuf yunani pernah berkata

" 80% bencana di dunia ini disebabkan karena hawa nafsu manusia. Hanya 20% saja yang merupakan bencana sebenarnya, seperti kelaparan, gempa, dan tsunami "

Aku pernah mengalami kondisi dimana manusia berubah menjadi "zombie" atau istilahnya "frankenstein" mayat hidup yang kosong jiwanya.

Terombang ambing antara hidup atau mati..
tidak ada gairah
tidak ada semangat
Beruntungnya masih ada iman yang melekat di hati.

Aku benar benar takut menjalani hidup, 3 tahun hidup yang biasa sendiri kini bertambah sepi. Orang yang senantiasa mendampingi justru menjadi sebab utama jiwaku mati. Hari hari yang sepi kini bertampah sepi.

Takut menjalani hidup. Keluarga jauh disana, teman tak ada waktu untuk berkumpul, sekolahpun sudah hampir usai, hanya berdiam diri di rumah, terkurung beban pikiran.

Aku benar benar takut untuk menjalani hidup, setiap pagi berpikir apa yang harus dilakukan hari ini. Mencari celah untuk menyibukan diri. Tetapi hampa.

Pernah sesekali berpikir untuk mati. Menyelesaikan kehidupan ini. Tapi beruntungnya iman masih melekat kuat di hati.

Aku takut menjalani hidup.
Tapi aku lebih takut mati tanpa iman. Mati dalam keadaan kafir. Mati dan bersiap disambut di neraka.

Manakah yang aku pilih? Keduanya memang menakutkan.


Akhirnya aku memutuskan untuk tetap hidup, meskipun harus hidup di dalam ketakutan.

Perlahan namun pasti, aku membangun kembali harapan harapan itu, merangkai kembali mimpi mimpi dahulu, mengukir kembali cerita hidup yang masih jauh dari sempurna.

Tiap malam aku terbangun, bercengkrama dengan sang Rabb, bersujud memohon ampunan dan bimbingan. Menangis dalam pangkuannya. Tiada yang lebih nikmat dari ini. Tiada yang lebih melegakan dari bercerita kepada Yang Maha Mendengar.

Perlahan lahan mataku terbuka, bahwa  sesungguhnya penderitaanku tidak ada apa apanya.
Bahwa betapa kufurnya aku pada nikmatNya
Bahwa betapa tidak pandainya aku dalam bersyukur

Sungguh besar kuasa Allah
Yang Maha Pembolak balik hati
Kini harapanku bersinar kembali
Kini aku merasakan lonjakam gairah hidup
Kini aku merasakan kasih dariNya
Kini aku siap hidup kembali



Minggu, 27 April 2014

apa pentingnya penampilan?

setelah sekolah saya usai
kegiatan saya belakangan ini adalah bimbel intensif 5 kali pertemuan dalam seminggu.

karena sudah tidak pernah lagi mengenakan seragam sekolah, barulah saya tersadar kebanyakan pakaian saya semi formal atau yang berbalut kerah (kemeja)
stok kaus santai yang saya miliki ketika SMP dahulu sudah tidak layak lagi untuk dipakai keluar rumah, apa lagi acara acara di keramaian, sudah lusuh termakan waktu. kebanyakan kaus saya hanyalah kaus polos.

komentarpun sedikit banyak bermunculan..

mengapa pakaian lo selalu rapih?

kenapa gayanya formal banget?

atau yang cukup ekstreem
kenapa ribet banget bajunya?

sebenarnya tidak juga, saya merasa nyaman dengan apa yang saya kenakan ini. mungkin karena sudah terbiasa, jadi tidak ada bedanya dengan pakaian lainnya.

dari dulu pun, ayah saya selalu menganjurkan untuk selalu rapih dalam berpakaian, selalu kenakan pakaian yang sopan kemanapun kita pergi. pada awalnya pula, saya sering bertanya mengapa harus segitunya pakaian kita perhatikan.
namun, barulah sekarang sekarang ini efeknya saya rasakan, alasannya dapat saya mengerti.

ada kisah menarik tentang pentingnya sebuah penampilan..

tahukah anda tentang standford university? universitas kelas atas di Amerika dan bahkan dunia. salah satu pesaing harvard university. siapa pendirinya? ialah pasangan suami istri Mr. and Mrs. leland standford.

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.

Sesampainya di sana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.


Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?”

Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs Leland Standford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

jikalau di artikel artikel lain membahas tentang bagaimana agar kita tidak menilai seseorang dari penampilannya, kali ini saya ingin membahas dengan perspektif yang sedikit berbeda.
dari sinilah saya belajar, bahwa penampilan merupakan cerminan diri sendiri. seperti apa penampilan kita, seperti itu pula orang lain akan menilai kita.

penampilan seorang pemimpin perusahaan tentunya sangat berbeda dengan penampilan tukang ojek bukan?
pemimpin perusahaan akan selalu berusaha terlihat rapih di depan kolega koleganya, bagaimana mungkin seorang pemimpin perusahaan berpenampilan seperti tukang ojek, belum belum para koleganya sudah bingung dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja sama dengannya. dari penampilannya saja sudah tidak meyakinkan, bagaimana dengan kemampuannya dalam berbisnis.

inilah pentingnya pakaian, jikalau kita ingin dinilai baik oleh orang lain, hal yang paling awal adalah dengan menjaga penampilan. baru kemudian attitude dan terakhir bagaimana kita bertutur kata.

berpakaian disini bukanlah cenderung berlebihan dengan memperlihatkan kemewahan, melainkan menunjukan bahwa kita adalah manusia yang bermartabat, yang memilik etika dan kesopanan. penampilan menunjang 70% penilaian baik buruknya pribadi di mata orang lain.

oleh karena itu jika ingin menjadi pribadi yang baik, mulailah rubah penampilan kita. mulailah tampil dengan sopan, kemudian sokong penampilan baik kita dengan attitude atau akhlak yang baik pula, dan berhati hati dalam berbicara.

cukup mudah bukan? tiga point awal yang sederhana ini pasti sangat membantu kita di kehidupan sehari hari. baik di dunia kerja, pendidikan, maupun masyarakat luas.
cepat atau lambat saya yakin kita akan mengerti pentingnya penampilan yang sopan.

semoga menginspirasi.

salam :)

visi misi singkat


9 dari 10 pintu rezeki itu dari berniaga, sisanya dari pns (hehe) ._. Jadi kalo mau buka pintu rezeki dari Allah yang paling besar kemungkinannya yaitu berniaga

Berniaga atau jual beli kemungkinannya banyak, bisa untung bisa pula rugi. Tergantung bagaimana menyikapinya..
Kalau gagal bisa rugi bahkan sampai berhutang dan jual aset sana sini untuk menutupi kerugiannya

Kalu berhasil besar kemungkinan keuntungan berlipat ganda. Bagaikan loncatan harimau, bulan ini keuntungan 10, boleh jadi bulan berikutnya 30 atau bahkan 40.

Beda dengan pegawai biasa yang menerima gaji setiap bulannya dengan jumlah yang sama, apapun yang terjadi.

Pasar adalah tempat yang dicintai Allah dan juga tempat yang paling dibenci Allah

Jadi kalau mau menghindari murka Allah, jauhilah bekerja di lingkungan pasar/perniagaan

Namun jika ingin mendapat cinta Allah, berkecimpung jugalah di pasar/perniagaan

Pilih yang mana?

Allah benci pasar karena disana tempat kebohongan yang marak terjadi, penjual yang licik dan tidak jujur sering menggadai ridho Allah demi keuntungan yang lebih..

Allah cinta pula orang orang yang ada diperniagaan jika dalam kesehariannya mereka mengutamakan kejujuran dan keadilan

18 tahun sudah saya hidup di dunia, 18 tahun pula saya menadahkan tangan meminta rezeki dari orang tua. Malu rasanya setiap saat meminta, menghamburkan uang yang diperoleh dari hasil keringat mereka..

Ingin rasanya meringankan beban mereka, saya ingin mencoba berbisnis.

Berusaha untuk tidak terus menerus membebani mereka, selain dengan belajar giat tentunya..

1 tahun penjajakan bisnis mudah mudahan berjalan lancar, di usia 19 tahun saya berharap sudah bisa menjalankan bisnis dengan baik. Dan menginjak usia 20 tahun mudah mudahan sudah bisa mencukupi kebutuhan pribadi atau mudah mudahan bisa menutup biaya pendidikan dengan uang sendiri juga.
Usia 21 tahun saya benar benar beharap sudah bisa mandiri..

Doakan agar visi misi jangka pendek saya berhasil..
Semoga dapat terlaksana dan menjadi batu loncatan untuk visi dan misi ke depan yang lebih panjang lagi.

Bismillahirahmanirrahim

Saya akan terjun ke dunia perniagaan

Sabtu, 26 April 2014

aku kamu kita


Kamu dulu
Manis
Manja
Perhatian
Penuh kasih sayang

Kamu sekarang
Dingin
Acuh
Kaku


Aku dulu
Ceria
Optimis
Semangat
Tegar

Aku kini
murung
pesimis
Rapuh

Kita dulu
Saling peduli
Saling percaya
Saling cinta

Kita kini
Bagai air dan minyak
Bersama tapi tak lagi bersatu
Kamu dengan dirinya
Aku dengan diriku
Tak ada kesamaan
Tak ada kepedulian

Haruskah?
Kita tak saling mengenal

Haruskah?
Aku melupakanmu
Melupakan tentang kita
Melupakan apa yang sudah kita lalui

Haruskah?
Aku melakukannya

Maafkan aku
aku tidak akan sanggup

Jumat, 25 April 2014

sederhana tapi rumit

dulu paling anti yang namanya patah hati
nangis karena cinta itu haram hukumnya
air mata terlalu mahal untuk orang yang bahkan gak peduli sama kita
apapun itu, cinta pakai logika

gua seperti kehilangan pribadi yang dulu
yang keras, yang penuh logika
gak seperti sekarang
lemah dan pasrah sama keadaan

apa yang harus ditangisin?
atau, kenapa segitunya cuma masalah hubungan doang?
sederhana memang, tapi rumit pula

selama gua SMA gua hidup sendiri
orang tua beserta adik adik tinggal di sumatera ikut ayah bekerja
kebayangkan sepinya gimana?
harus apa sepulang sekolah

dia yang selalu ada
tepatnya gua yang selalu melibatkan semua kegiatan dia bersama gua
dari pagi hingga sore hampir selalu bersama
gua baby sitternya

pagi bangun, ketemu disekolah,
sore selesai, main bareng, nungguin dia kursus atau bimbel
nganterin pulang
kalau libur jalan berdua
dia butuh apa gua yang nemenin dia pergi
tiap mau liburan pasti buat planning
nabung
materi sekolah gak ngerti, dia yang ngajarin
dia belajar motor, belajar mobil sama gua
gua sakit dia yang jenguk
dia sakit gua yang ngerawat
saling melengkapi
saling mengisi

kebayangkan gimana rasanya? kalo tiba tiba hilang gitu aja
gua kehilangan temen hidup gua
gua kehilangan motivasi hidup gua
gua kehilangan sejuta aktivitas yang buat gua lupa kalo gue kesepian
gua kehilangan sahabat gua
gua kehilangan guru privat gua
gua kehilangan anak asuh gua
gua kehilangan seseorang yang jadi alasan gua untuk gak sedih

sekarang apa?
gak ada lagi temen hidup
gua selalu bingung apa yang harus gua lakuin ketika bangun pagi
gua selalu bingung ketika melangkah, mau kemana?
gua selalu bingung ketika menatap layar hp, siapa yang mau dihubungin?

hidup gak melulu soal dia, tapi apapun kegiatan gua selalu sama dia
itu yang buat gua takut, apa yang harus gua lakuin tanpa dia

sejujurnya, gua udah gak perduli lagi apa namanya hubungan gua sama dia
apapun itu, yang jelas dia adalah temen hidup gua
gua sudah terlanjur yakin kalo akhirnya gua sama dia
bukan gua sama dia akhirnya berakhir