Senin, 05 Mei 2014

Konflik kepentingan

Adakah yang mengalaminya juga?
Ketika harapan orang tua tidak sesuai dengan keinginan kita.

Membahagiakan mereka yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk kita bukan hal yang salah tentunya. Melihat senyum mereka merekah ketika yang mereka harapkan terwujud adalah salah satu hal yang paling membahagiakan buatku.

Ada satu hal lagi, mewujudkan harapan sendiri tentunya. Ambisi yang telah lama dipendam, strategi yang sudah jauh jauh hari diperhitungkan untuk mewujudkan harapan sendiri juga tak kalah membahagiakan jika dapat tercapai.
Namun bagaimana kasusnya, jika harapan orang tua ternyata berbeda dengan harapan sang anak? Manakah yang harus didahulukan?

Aku mengalaminya.
Aku kembali tersadar akan harapan mereka untukku. Ya untuk diriku
Sedih betul rasanya, bahkan sampai harapan merekapun tentang diriku. Bukan, bukan tentang untuk mereka. Untuk anak anaknya yang mereka cintai.

Sore itu ayah menelponku, seperti biasa menanyakan kabarku disini, sekedar memberitahu bahwa uang bulananku sudah beliau kirimkan. Kemudian percakapan hampir usai, tak ingin aku mengakhirinya, berusaha lebih lama berbincang dengannya. Hal yang langka yang aku dapat.

Selang beberapa kata, meluncurlah kalimat pemberitahuan dari beliau.

"Abi ada informasi beasiswa dari kedutaan jepang, coba kamu buka2 linknya"

......

aku kira perbincangan ini sudah usai, 2 tahun yang lalu..
Aku pikir pemaparanku tentang ambisi hidupku tempo hari sudah beliau mengerti.

Tak tega aku menolak, aku iyakan permintaannya.. meski dalam hati bertanya tanya. Yang mana yang harus aku lakukan?

Memelihara keinginan diri sendiri, atau menuruti keinginan mereka? Toh pada nantinya akan kembali kepadaku pula.

Persetan dengan passion, mungkin alur hidupku akan (kembali) berubah.. kini aku serahkan pada Tuhanku, yang manakah pilihan terbaik. Itu yang akan aku jalani.

Dengan sepenuh hati.

Tidak ada komentar: