Senin, 28 April 2014
hakikat sebuah janji
Esensi sebuah janji itu adalah hutang.
Hutang kepada manusia, hutang kepada yang menciptakan manusia.
Adalah dosa janji tidak ditepati, bahkan pada akhirnga akan menjadi hambatan manusia untuk naik ketingkat selanjutnya. Banyak kisah klasik tentang seorang yang meninggal tertahan di pintu surga karena masih memiliki hutang, janji yang belum sempat ditepati selama hidup.
Banyak pula yang tidak menyadari betapa beratnya sebuah janji itu. Dengan mudahnya mengumbar janji, tanpa sadar bebannya menumpuk. Saling menunggu untuk ditunaikan.
Aku memang seorang penakut. Takut memikul hutang yang akan senantiasa membebani sampai hari akhir nanti. Takut tidak sanggup membayar janji yang telah kuucapkan. Takut dibayangi janji. Takut lupa akan janji janjiku.
Mungkin karena itu lidahku sangat kelu untuk mengucapkan janji. jikalau harus berjanji, sebisa mungkin yang teringan. Diubah menjadi tekad, agar tiada beban yang membayangi nantinya.
Tekad yang ditanam agar sebisa mungkin terwujud dan jika gagal tidaklah menjadi beban. Toh, sudah berusaha semaksimal mungkin..
Apabila benar benar harus berjanji. Aku lebih memilih untuk berjanji kepada diri sendiri. Berjanji untuk diriku, disaksikan oleh Allah, tuhanku. Dengan harapan agar dapat terpenuhi. Dan bila gagal, diriku sendiri yang dapat mengikhlaskan atau memaafkannya.
Jadi, masihkah anda mengumbar janji?
Masih ringankah lidah anda untuk menebar janji?
Masih beratkah ingatan anda untuk mengingat janji?
Masihkah?
Ada baiknya menimbang dahulu sebelum berjanji, daripada memikul beban yang berat pada akhir nanti.
Semoga bermanfaat
Salam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar