Melihat realita yang ada sekarang nampaknya mustahil
menemukan teman yang benar – benar jujur. Mau terbuka tentang berbagai hal yang
mengganjal dalam suatu hubungan “persahabatan” . tidak pernah hitung – hitungan
saat menolong, dan yang terpenting bisa mengajak pada kebaikan. Visioner adalah
hal biasa, tidak ada kebaikan yang tidak mengarah pada kecemerlangan masa mendatang.
Walaupun sering kali kita tersesat dalam membedakan arti
visioner dengan ambisioner. Visioner tidak pernah merusak persahabatan. Visioner
justru membawa kita pada suatu kebaikan dimasa yang akan datang. Menuntun kita
pada apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan. Namun nampaknya
pemahaman akan arti visioner hanya terbatas pada apa yang harus dicapai,
pandangan apa yang menurutmu baik bagimu dan baik bagiku. Bukan visi namun
ambisi.
Entah apa yang salah dengan diri ini. Sepertinya aku sudah
terbiasa untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak pandai untuk menjaga
hubunganku dengan seseorang. Posisiku seperti berada diantara jurang dan singa.
Jika melangkah aku terjatuh, jika diam aku diterkam. Tidak bertahan lama.
Mereka yang memiliki pandangan berbeda kerap kali menjejalkan
sudut pandang mereka padaku, hidup bagaikan saling doktrin mendoktrin. Aku
terlalu takut untuk terlalu dekat dengan mereka. Kasus yang sudah – sudah hanya
menyisakan cerita bahwa akhirnya aku kesal dengan mereka dan aku memilih untuk
menjauh. Mungkin ini adalah kesalahanku.
Tidak menerima mereka apa adanya, tidak siap untuk mengikuti
pola pikir mereka yang tidak sepanjang pola pikirku. Kecemasanku yang
berlebihan terhadap sesuatu, serta kesanggupanku untuk tidak memasukan setiap
perkataan mereka dalam hati dan memaafkannya. Selalu itu, tersinggung dan
tersinggung. Marah dan akhirnya kutinggalkan mereka.
Aku rindu akan masa kecilku dulu. Pemikiran yang kumiliki
hanyalah bermain, pertengkaran adalah hal yang biasa. Semua berakhir pada
pertengkaran juga tangisan, namun selalu ditutup dengan jabat tangan dan salam
jari kelingking. Tidak pernah ada dendam sedikitpun. Ketika esok hari bertemu,
lembaran baru yang putih sudah terbuka. Menggeser yang lama, melupakan kejadian
kemarin. Siap untuk memuliai hari yang baru.
Namun sayang, entah
dimana mereka sekarang teman-teman masa kecilku. Ketika berpapasan aku merasa canggung
untuk menyapa mereka. Sudah terlalu lama terpisah oleh waktu. Bahkan untuk
senyum kecil dibibir ini rasanya berat untuk kuberikan. Betapa anehnya hal ini,
padahal jika dingat, sungguh dekatnya kami dulu. Sekarang? Seperti sudah tidak
saling kenal.
Harus diakui memang. Teman datang dan pergi, silih berganti.
Tanganku tidak cukup kuat untuk menggenggam mereka semua tetap bersamaku.
Ketika waktunya tiba, tidak ada yang bisa aku perbuat, hanya mengucap terima
kasih dalam hati karena pernah menjadi bagian hidup ini. Dan berharap suatu
saat kita masih bisa mengulang saat – saat itu. Entah kapan waktunya. Tetapi
aku yakin, akan ada saatnya dimana kita akan kembali saling menyapa.
Persahabatan paling lama yang bisa kujalin hingga saat ini
sekitar 4 tahun lamanya. Dan aku berharap hal ini masih bisa terus berlanjut.
Sayangnya kini aku berada pada masa sulit, masa yang baru. Dimana aku sedang
merantau di suatu tempat yang baru. Tanpa seorang pun teman lama.
Aku harus membangun relasi baru dengan orang – orang yang
baru. Memulainya dari awal. Sungguh menyedihkan. Jujur saja, apa yang aku
bangun sekarang ini sungguh berbeda dengan masa-masa ketika SMA dahulu. Kini
aku lebih sulit menerima mereka, dengan sifat – sifat yang lebih beragam dan
kompleks. Munafik.
Aku sangat merindukan kawan – kawan SMA ku. Sungguh. Tetapi
aku masih berharap bisa membangun sesuatu yang baru disini tanpa kehilangan
mereka. Seperti apa yang sudah aku alami sebelumnya. Teman SD, SMP,
Boardingku.. ah mereka entah kemana sekarang. Hanya lembaran lama. Yang entah
apa aku bisa, kembali kesana.
Aku masih harus banyak belajar, untuk menerima sifat teman –
teman baruku sekarang ini. Merangkul mereka dan berjalan beriringan dengan
ambisi yang berbeda namun visi yang sejalan. Aku harap aku bisa.
Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar