Mahasiswa adalah
representative penerus bangsa ini dikemudian hari. Bagaimana cerminan pemimpin
pemimpin negeri ini sudah terlihat dari bagaimana mahasiswa pada hari ini.
Mereka yang sedang memimpin teman – teman sebayanya adalah salah satu kandidat
yang akan meneruskan tongkat pergerakan nasional nantinya.
Berpolitik
dalam rangka mewujudkan atau meraih kepemimpinan adalah hal yang pasti, sesuatu
yang tidak dapat dihindari oleh siapapun jika ingin menjadi pemimpin. Jika
cerminan politik di parlmen sana kacau balau, kotor, penuh dengan konspirasi,
serta menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaannya,
tidaklah mengherankan. Karena kejahatan kerah putih berdaulat disana.
berkumpul, bergumul dan bermakar dengan aman merusak setiap sendi – sendi negara
ini secara masif.
Yang mengherankan adalah
politik di dunia kampus yang seolah meniru cara mereka dalam menggapai dan
melanggengkan kekuasaannya. Tak ada bedanya dengan mereka. Menyebar isu – isu
panas, fitnah sana sini, saling serang dan menjatuhkan, mengorek koreng pribadi
seseorang yang sudah lama tertutup, melakukan makar yang tidak halal.
Sebenarnya apa yang mereka
cari dari ini semua? Bayaran pun belum mereka terima. pangkat dan jabatan hanya
hitungan hari yang singkat dan belum dikurangi oleh waktu yang efektif. Amanah
yang besar harus ditanggung seorang diri, waktu yang nantinya akan tersita,
tenaga yang terkuras lebih banyak, uang yang harus keluar lebih dari biasanya untuk
mendukung aktivitas, menjadi sorotan dalam setiap tingkah lakunya, dipaksa
untuk tidak memiliki sedikitpun cacat dalam pekerjaannya, belum lagi yang
terberat adalah pertanggung jawaban dari amanah itu sendiri.
Lantas mengapa masih banyak
yang beranggapan bahwa jabatan itu adalah anugerah, hadiah, prestasi, dan
sesuatu yang patut untuk dikejar. Bagi mereka yang berpikir, tentulah tidak
akan ada yang mau mengambilnya apa lagi merebutnya. Karena ada tanggung jawab
yang begitu besar yang harus dipikul.
Belajar dari mana mahasiswa
yang berpolitik hitam, padahal mereka adalah pengkritik pemerintahan yang
paling keras yang pernah ada. Manusia dengan idealisme – idealisme yang paling
kuat. Satu golongan yang sangat ditakuti oleh pejabat negara. Golongan yang
tidak mudah disetir oleh suatu kelompok kepentingan. Yang selalu berjuang atas
nama rakyat. Namun kelakuannya dalam meraih tahta tidak ada bedanya dengan
mereka politikus kotor.
Indonesia belum memiliki
harapan akan perubahan apabila demokrasi di tingkat kampus sekalipun masih
menggunakan cara – cara yang licik. Padahal dunia kampus seharusnya adalah
dunia yang bersih dari makar yang batil. Kampus seharusnya melahirkan generasi
yang putih untuk menggantikan orang – orang di parlemen sana.
Parlemen yang bersih dan jujur hanya angan
belaka apabila generasi penggantinya justru menjadi penerus cara – cara yang
kotor dalam berpolitik. Indonesia belum bisa berubah banyak untuk generasi
mendatang, karena cerminan politik di dunia kampus tak berbeda dengan apa yang
ada di parlemen sana.
Proses berpolitik yang baik
dan santun dalam dunia kampus, akan melahirkan kader – kader yang terbaik untuk
menjadi penerus bangsa ini. menggeser serta menggusur politikus kotor yang
bertahta di parlemen sana. Barulah harapan itu akan muncul. namun nampaknya
saat ini harapan itu hanyalah sekadar harapan belaka. Belum mendekati
sedikitpun apa yang dicita – citakan selama ini. Karena proses politik dan
demokrasi di dalam dunia kampus belum berbenah.
Aku menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan
yan mengganggu pikiranku selama ini, mengapa sampai sekarang negeri ini belum
juga berubah ke arah yang lebih baik. Jawabannya ternyata tersuguh di depan
mataku, termpampang jelas disini. Hanya saja aku kurang jeli untuk
menyadarinya. Bahwa generasi yang diharapkan, penerus bangsa yang
digadang-gadang akan membawa perubahan masih menggunakan cara-cara klasik yang
dimainkan di parlmenen sana.
Tidak
ada regenerasi yang berarti. Manusia berganti, cara lama tetap berlangsung.
Individu berbubah, kebiasaan tetap membudaya. Bahkan hingga ke akarnya. Bangsa
ini hanya bisa berharap, kita masih memiliki waktu banyak, untuk memperbaiki
semua kekacauan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar