Senin, 16 November 2015

Politik Kampus

Mahasiswa adalah representative penerus bangsa ini dikemudian hari. Bagaimana cerminan pemimpin pemimpin negeri ini sudah terlihat dari bagaimana mahasiswa pada hari ini. Mereka yang sedang memimpin teman – teman sebayanya adalah salah satu kandidat yang akan meneruskan tongkat pergerakan nasional nantinya.

            Berpolitik dalam rangka mewujudkan atau meraih kepemimpinan adalah hal yang pasti, sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh siapapun jika ingin menjadi pemimpin. Jika cerminan politik di parlmen sana kacau balau, kotor, penuh dengan konspirasi, serta menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaannya, tidaklah mengherankan. Karena kejahatan kerah putih berdaulat disana. berkumpul, bergumul dan bermakar dengan aman merusak setiap sendi – sendi negara ini secara masif. 

Yang mengherankan adalah politik di dunia kampus yang seolah meniru cara mereka dalam menggapai dan melanggengkan kekuasaannya. Tak ada bedanya dengan mereka. Menyebar isu – isu panas, fitnah sana sini, saling serang dan menjatuhkan, mengorek koreng pribadi seseorang yang sudah lama tertutup, melakukan makar yang tidak halal.

Sebenarnya apa yang mereka cari dari ini semua? Bayaran pun belum mereka terima. pangkat dan jabatan hanya hitungan hari yang singkat dan belum dikurangi oleh waktu yang efektif. Amanah yang besar harus ditanggung seorang diri, waktu yang nantinya akan tersita, tenaga yang terkuras lebih banyak, uang yang harus keluar lebih dari biasanya untuk mendukung aktivitas, menjadi sorotan dalam setiap tingkah lakunya, dipaksa untuk tidak memiliki sedikitpun cacat dalam pekerjaannya, belum lagi yang terberat adalah pertanggung jawaban dari amanah itu sendiri.

Lantas mengapa masih banyak yang beranggapan bahwa jabatan itu adalah anugerah, hadiah, prestasi, dan sesuatu yang patut untuk dikejar. Bagi mereka yang berpikir, tentulah tidak akan ada yang mau mengambilnya apa lagi merebutnya. Karena ada tanggung jawab yang begitu besar yang harus dipikul.

Belajar dari mana mahasiswa yang berpolitik hitam, padahal mereka adalah pengkritik pemerintahan yang paling keras yang pernah ada. Manusia dengan idealisme – idealisme yang paling kuat. Satu golongan yang sangat ditakuti oleh pejabat negara. Golongan yang tidak mudah disetir oleh suatu kelompok kepentingan. Yang selalu berjuang atas nama rakyat. Namun kelakuannya dalam meraih tahta tidak ada bedanya dengan mereka politikus kotor.

Indonesia belum memiliki harapan akan perubahan apabila demokrasi di tingkat kampus sekalipun masih menggunakan cara – cara yang licik. Padahal dunia kampus seharusnya adalah dunia yang bersih dari makar yang batil. Kampus seharusnya melahirkan generasi yang putih untuk menggantikan orang – orang di parlemen sana.

 Parlemen yang bersih dan jujur hanya angan belaka apabila generasi penggantinya justru menjadi penerus cara – cara yang kotor dalam berpolitik. Indonesia belum bisa berubah banyak untuk generasi mendatang, karena cerminan politik di dunia kampus tak berbeda dengan apa yang ada di parlemen sana.

Proses berpolitik yang baik dan santun dalam dunia kampus, akan melahirkan kader – kader yang terbaik untuk menjadi penerus bangsa ini. menggeser serta menggusur politikus kotor yang bertahta di parlemen sana. Barulah harapan itu akan muncul. namun nampaknya saat ini harapan itu hanyalah sekadar harapan belaka. Belum mendekati sedikitpun apa yang dicita – citakan selama ini. Karena proses politik dan demokrasi di dalam dunia kampus belum berbenah.

 Aku menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan yan mengganggu pikiranku selama ini, mengapa sampai sekarang negeri ini belum juga berubah ke arah yang lebih baik. Jawabannya ternyata tersuguh di depan mataku, termpampang jelas disini. Hanya saja aku kurang jeli untuk menyadarinya. Bahwa generasi yang diharapkan, penerus bangsa yang digadang-gadang akan membawa perubahan masih menggunakan cara-cara klasik yang dimainkan di parlmenen sana.

            Tidak ada regenerasi yang berarti. Manusia berganti, cara lama tetap berlangsung. Individu berbubah, kebiasaan tetap membudaya. Bahkan hingga ke akarnya. Bangsa ini hanya bisa berharap, kita masih memiliki waktu banyak, untuk memperbaiki semua kekacauan ini.
  

Tidak ada komentar: