Senin, 23 November 2015

Ada kalanya, aku lebih memilih berbicara.

Pada angin lalu,
Pada ruang kosong,
Pada celah celah cahaya,
Pada deburan ombak,
Pada tetesan embun pagi,
Pada teriknya siang,
Pada gelapnya malam,

Tetapi tidak kepadamu.

Karena aku memahami, tidak akan ada sesuatu yang berarti.

Senin, 16 November 2015

Jejak Langkah Petualang

suguhan sang fajar
Salah satu hobi baruku (Hobi lama yang kini kian berkembang) adalah mendaki gunung. Agak janggal mungkin, blog yang mengatas namakan catatan petualangan tetapi tidak pernah ada tulisan mengenai petualangan itu sendiri (petualangan dalam arti sempit). Mungkin ke depannya aku akan mencoba menceritakan lebih banyak mengenai petualangan-petualanganku dalam hal mendaki gunung. 
papandayan, awal mula petualanganku
       kecintaanku akan gunung sebenarnya sudah tumbuh sejak kecil, bermula dari papandayan, gunung yang pertama aku jamah saat itu. terjun langsung ke alam liar, tanpa listrik tanpa alat elektronik sama sekali. yang tadinya biasa pulang pergi sekolah cukup naik dan turun dari mobil, terbiasa dengan cuaca panas nan membakar khas daerah perkotaan (Depok panas saudara-saudara. Haha).

Saat itu harus merasakan berjalan kaki sendiri, menanjak terjal dan curamnya tebing yang bukan tandinganku sama sekali, mengingat saat itu aku hanyal bocah ingusan dengan pengalaman kosong di dalamnya. Tetapi dari sanalah kecintaanku mulai tumbuh.

Mungkin dibandingkan dengan kakaku, aku terlogong orang yang terlambat terjun dan berkecimpung dalam hal dakian daki-mendaki. Jika kakakku sudah sejak duduk dibangku SMA mulai menjalani kegiatan mendaki gunung, bergabung dengan komunitas pecinta alam di sekolahnya. Berbeda denganku.

Papandayan hanya satu kesempatan kecilku saat itu, ditambah hiking-hiking ringan digunung gede, gunung kujang, dan beberapa bukit semasa smp dahulu. Namun tidak seserius melengkahkan kaki dengan peralatan lengkap seperti yang seharusnya.

Carrier pertamaku sebenarnya sudah aku dapatkan sejak SD dulu, selepas gunung pertama yang berhasil kujajaki. Namun, carrier itu tersimpan rapih dirumah dan baru berhasil kusentuh saat berada di bangku kuliah. Dan hingga sampai tulisan ini dibuatpun, masih cukup baik keadaannya. Carrier pink yang mencolok warnanya. Hehe, seharusnya berwarna biru, saat dibelikan oleh abi. Untukku yang berwarna biru dan untuk kakakku yang berwarna pink. Sayangnya, diambil alih oleh kekuasaan mutlak seorang kakak terhadap adiknya. Alhasil, carrier pink inilah yang akrab bersamaku mengunjungi gunung-gunung hingga saat ini. Tapi warna bukan masalah, yang jelas kebutuhanku dapat ditunjang berkat carrier ini. Haha.

Hal yang aku suka dari mendaki adalah, proses perjuangan serta ladang bagi kita untuk merenung. Karena selama perjalanan itulah, semuanya diuji. Tidak ada kesombongan sedikitpun yang bisa ditonjolkan selama disana. bahkan mencapai titik terlemah fisik serta mental adalah hal yang biasa bagi sebagian besar pendaki. Bagi kalian yang merasa terkadang suka sombong, patut dicoba untuk mendaki gunung. Sebagai bahan pembelajaran untuk kita semua, bahwa memang sejatinya manusia itu kecil dan lemah, kesombongan bukanlah haknya manusia.
puncak pertama, merbabu

Selain itupun, asrinya pemandangan yang tersuguh selama perjalanan adalah harga yang sangat pantas bahkan berlebih untuk membayar keringat, pegal, serta lelah yang terjadi. Pemandangan dari serpihan surga yang tidak dapat semua orang bisa menikmatinya secara langsung. Tenggelam bersama atmosfirnya, keindahan ciptaan Allah swt. sang Maha Pencipta keindahan.

Jika kalian kagum terhadap suatu foto pemandangan yang dibawa pulang oleh seorang pendaki, percayalah kalian akan jauhhh... lebih terkagum saat melihatnya dengan mata kepala kalian sendiri. Tanpa terhalang batas pandang dan frame yang memotong-motong keindahan tersebut. Sejauh mata memandang, sejauh cakrawala itu pula keindahan itu tersuguhkan untuk kalian.

keceriaan bersama mereka. 



Goresan Kecil Berarti Besar

Reisenotizen
Sadar atau tidak hidup dan kehidupan itu selalu berubah, bahkan perubahan itupun terjadi setiap saat tanpa kita sadari, minimal terlambat kita sadari. Dan sadar atau tidak sadar perubahan itu menuntun kita arah yang lebih baik. Sekecil apapun perubahan itu. Meskipun... tidak bisa disangkal banyak orang tidak menjadi lebih baik dari perubahan itu. Tetapi aku yakin pemahaman mereka selalu bertambah baik, hanya saja disutai atau tidak.

            Lambat laun kita akan sadar dan sedikit banyak merasa malu akan masa lalu kita. Padahal perilaku yang dahulupun, bisa dibilang merupakan sebuah tindak dari suatu gaya/kebanggaan kita. Ambil contoh dari tulisan-tulisanku yang sebelumnya, yang bahkan dengan tidak malunya pun aku posting kepada publik. Berharap banyak yang membacanya dan terlebih sepaham denganku.

            Namun sayangnya, kian hari jika aku buka lembaran postinganku yang lalu, selalu terdapat rasa malu dan aneh ketika melihatnya kembali. “kok bisa tulisan seperti ini keluar dari pemikiranku” (hahaha). Yah, bagaimanapun,itulah manusia. Selalu salah dan kemudian belajar dengan apa yang telah dilakukannya.

Sering kali terbersit dalam hati bahwa lebih baik aku hapuskan saja catatan-catatan alay-ku tempo dulu. Karena jauh, sudah sangat jauh perubahan yang aku alami hingga saat ini. Ingin rasanya menutup rapat-rapat kebodohan masa lalu, pengalaman masa lalu, yang mungkin memang terasa aneh apa bila dilihat kembali. Rasanya terlalu nyata apa yang aku baca.

Pada akhirnya, jatuh keputusanku untuk tidak mengubur mereka (catatan) dalam-dalam. Membiarkan mereka abadi di dalam blog ini, membiarkan mereka memberikan suguhan cerita yang berbeda setiap kali aku mengunjunginya. Karena meski pikiran dapat terlupa, tulisanlah yang akan selalu mengembalikan kenangannya. Memutar ulang serta memunculkan kembali ingatan-ingatan akan masa yang terlupa (atau bahkan mungkin dilupakan.

            Jika boleh jujurpun, tagline atau judul utama dari blog ini bahkan dari sebuah kreasi alay tempo dahulu. Saat-saat dimana aku masih kebingungan mencari sebuah nama yang “keren” atau  bisa menjual di mata orang-orang. Berbekal google dan pemahan minimalis tentang bahasa asing. Muncullah kata “Reisenotizen” yang hingga kini entah, benar atau tidaknya penulisan serta penempatan kata tersebut  (hehe). Semua adalah bagian dari masa lalu dan saksi bisu pendewasaan diri hingga sekarang ini.

            Aku memang orang senang berpetualang (baca: jalan-jalan) tidak peduli jauh atau dekat tujuannya. Lama atau sebentar waktunya, semua selalu aku posisikan sebagai sebuah petualangan. Dengan demikian akan timbul kepuasan tersendiri dari perjalanan tersebut. Itulah hal yang mendasari “Reisenotizen” lahir yang diambil dari bahasa jerman (entah benar atau tidak polanya).

Ya, catatan perjalanan. Dilengkapi dengan pemaknaan dibawahnya, catatan kecil seorang petualang. Karena aku sadar, kehidupan ini sangat penuh dengan petualangan. Bagi mereka yang senantiasa bergerak dan berhijrah, tanpa pernah mengenal kata lelah maupun menyerah. Mendapati dirinya selalu siap melangkahkan kaki, menempuh jalan yang baru demi sebuah pengalaman luar biasa lainnya.

Tetapi sayangnya aku sadar, semua hanya akan berlalu menjadi kenangan belaka. Yang mungkin akan terlupa sebagian besar bahkan keseluruhannya apabila tidak diabadikan sedikitpun. Dan sedikit adalah fakta/kenyataan terbesar kenangan yang dapat kita abadikan. Itulah mengapa hanya catatan kecil yang bisa aku torehkan disana.


Politik Kampus

Mahasiswa adalah representative penerus bangsa ini dikemudian hari. Bagaimana cerminan pemimpin pemimpin negeri ini sudah terlihat dari bagaimana mahasiswa pada hari ini. Mereka yang sedang memimpin teman – teman sebayanya adalah salah satu kandidat yang akan meneruskan tongkat pergerakan nasional nantinya.

            Berpolitik dalam rangka mewujudkan atau meraih kepemimpinan adalah hal yang pasti, sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh siapapun jika ingin menjadi pemimpin. Jika cerminan politik di parlmen sana kacau balau, kotor, penuh dengan konspirasi, serta menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaannya, tidaklah mengherankan. Karena kejahatan kerah putih berdaulat disana. berkumpul, bergumul dan bermakar dengan aman merusak setiap sendi – sendi negara ini secara masif. 

Yang mengherankan adalah politik di dunia kampus yang seolah meniru cara mereka dalam menggapai dan melanggengkan kekuasaannya. Tak ada bedanya dengan mereka. Menyebar isu – isu panas, fitnah sana sini, saling serang dan menjatuhkan, mengorek koreng pribadi seseorang yang sudah lama tertutup, melakukan makar yang tidak halal.

Sebenarnya apa yang mereka cari dari ini semua? Bayaran pun belum mereka terima. pangkat dan jabatan hanya hitungan hari yang singkat dan belum dikurangi oleh waktu yang efektif. Amanah yang besar harus ditanggung seorang diri, waktu yang nantinya akan tersita, tenaga yang terkuras lebih banyak, uang yang harus keluar lebih dari biasanya untuk mendukung aktivitas, menjadi sorotan dalam setiap tingkah lakunya, dipaksa untuk tidak memiliki sedikitpun cacat dalam pekerjaannya, belum lagi yang terberat adalah pertanggung jawaban dari amanah itu sendiri.

Lantas mengapa masih banyak yang beranggapan bahwa jabatan itu adalah anugerah, hadiah, prestasi, dan sesuatu yang patut untuk dikejar. Bagi mereka yang berpikir, tentulah tidak akan ada yang mau mengambilnya apa lagi merebutnya. Karena ada tanggung jawab yang begitu besar yang harus dipikul.

Belajar dari mana mahasiswa yang berpolitik hitam, padahal mereka adalah pengkritik pemerintahan yang paling keras yang pernah ada. Manusia dengan idealisme – idealisme yang paling kuat. Satu golongan yang sangat ditakuti oleh pejabat negara. Golongan yang tidak mudah disetir oleh suatu kelompok kepentingan. Yang selalu berjuang atas nama rakyat. Namun kelakuannya dalam meraih tahta tidak ada bedanya dengan mereka politikus kotor.

Indonesia belum memiliki harapan akan perubahan apabila demokrasi di tingkat kampus sekalipun masih menggunakan cara – cara yang licik. Padahal dunia kampus seharusnya adalah dunia yang bersih dari makar yang batil. Kampus seharusnya melahirkan generasi yang putih untuk menggantikan orang – orang di parlemen sana.

 Parlemen yang bersih dan jujur hanya angan belaka apabila generasi penggantinya justru menjadi penerus cara – cara yang kotor dalam berpolitik. Indonesia belum bisa berubah banyak untuk generasi mendatang, karena cerminan politik di dunia kampus tak berbeda dengan apa yang ada di parlemen sana.

Proses berpolitik yang baik dan santun dalam dunia kampus, akan melahirkan kader – kader yang terbaik untuk menjadi penerus bangsa ini. menggeser serta menggusur politikus kotor yang bertahta di parlemen sana. Barulah harapan itu akan muncul. namun nampaknya saat ini harapan itu hanyalah sekadar harapan belaka. Belum mendekati sedikitpun apa yang dicita – citakan selama ini. Karena proses politik dan demokrasi di dalam dunia kampus belum berbenah.

 Aku menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan yan mengganggu pikiranku selama ini, mengapa sampai sekarang negeri ini belum juga berubah ke arah yang lebih baik. Jawabannya ternyata tersuguh di depan mataku, termpampang jelas disini. Hanya saja aku kurang jeli untuk menyadarinya. Bahwa generasi yang diharapkan, penerus bangsa yang digadang-gadang akan membawa perubahan masih menggunakan cara-cara klasik yang dimainkan di parlmenen sana.

            Tidak ada regenerasi yang berarti. Manusia berganti, cara lama tetap berlangsung. Individu berbubah, kebiasaan tetap membudaya. Bahkan hingga ke akarnya. Bangsa ini hanya bisa berharap, kita masih memiliki waktu banyak, untuk memperbaiki semua kekacauan ini.
  

Problematika persahabatan

Melihat realita yang ada sekarang nampaknya mustahil menemukan teman yang benar – benar jujur. Mau terbuka tentang berbagai hal yang mengganjal dalam suatu hubungan “persahabatan” . tidak pernah hitung – hitungan saat menolong, dan yang terpenting bisa mengajak pada kebaikan. Visioner adalah hal biasa, tidak ada kebaikan yang tidak mengarah pada kecemerlangan masa mendatang.

Walaupun sering kali kita tersesat dalam membedakan arti visioner dengan ambisioner. Visioner tidak pernah merusak persahabatan. Visioner justru membawa kita pada suatu kebaikan dimasa yang akan datang. Menuntun kita pada apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan. Namun nampaknya pemahaman akan arti visioner hanya terbatas pada apa yang harus dicapai, pandangan apa yang menurutmu baik bagimu dan baik bagiku. Bukan visi namun ambisi.

Entah apa yang salah dengan diri ini. Sepertinya aku sudah terbiasa untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak pandai untuk menjaga hubunganku dengan seseorang. Posisiku seperti berada diantara jurang dan singa. Jika melangkah aku terjatuh, jika diam aku diterkam. Tidak bertahan lama.

Mereka yang memiliki pandangan berbeda kerap kali menjejalkan sudut pandang mereka padaku, hidup bagaikan saling doktrin mendoktrin. Aku terlalu takut untuk terlalu dekat dengan mereka. Kasus yang sudah – sudah hanya menyisakan cerita bahwa akhirnya aku kesal dengan mereka dan aku memilih untuk menjauh. Mungkin ini adalah kesalahanku.

Tidak menerima mereka apa adanya, tidak siap untuk mengikuti pola pikir mereka yang tidak sepanjang pola pikirku. Kecemasanku yang berlebihan terhadap sesuatu, serta kesanggupanku untuk tidak memasukan setiap perkataan mereka dalam hati dan memaafkannya. Selalu itu, tersinggung dan tersinggung. Marah dan akhirnya kutinggalkan mereka.

Aku rindu akan masa kecilku dulu. Pemikiran yang kumiliki hanyalah bermain, pertengkaran adalah hal yang biasa. Semua berakhir pada pertengkaran juga tangisan, namun selalu ditutup dengan jabat tangan dan salam jari kelingking. Tidak pernah ada dendam sedikitpun. Ketika esok hari bertemu, lembaran baru yang putih sudah terbuka. Menggeser yang lama, melupakan kejadian kemarin. Siap untuk memuliai hari yang baru.

 Namun sayang, entah dimana mereka sekarang teman-teman masa kecilku. Ketika berpapasan aku merasa canggung untuk menyapa mereka. Sudah terlalu lama terpisah oleh waktu. Bahkan untuk senyum kecil dibibir ini rasanya berat untuk kuberikan. Betapa anehnya hal ini, padahal jika dingat, sungguh dekatnya kami dulu. Sekarang? Seperti sudah tidak saling kenal.

Harus diakui memang. Teman datang dan pergi, silih berganti. Tanganku tidak cukup kuat untuk menggenggam mereka semua tetap bersamaku. Ketika waktunya tiba, tidak ada yang bisa aku perbuat, hanya mengucap terima kasih dalam hati karena pernah menjadi bagian hidup ini. Dan berharap suatu saat kita masih bisa mengulang saat – saat itu. Entah kapan waktunya. Tetapi aku yakin, akan ada saatnya dimana kita akan kembali saling menyapa.

Persahabatan paling lama yang bisa kujalin hingga saat ini sekitar 4 tahun lamanya. Dan aku berharap hal ini masih bisa terus berlanjut. Sayangnya kini aku berada pada masa sulit, masa yang baru. Dimana aku sedang merantau di suatu tempat yang baru. Tanpa seorang pun teman lama.

Aku harus membangun relasi baru dengan orang – orang yang baru. Memulainya dari awal. Sungguh menyedihkan. Jujur saja, apa yang aku bangun sekarang ini sungguh berbeda dengan masa-masa ketika SMA dahulu. Kini aku lebih sulit menerima mereka, dengan sifat – sifat yang lebih beragam dan kompleks. Munafik.

Aku sangat merindukan kawan – kawan SMA ku. Sungguh. Tetapi aku masih berharap bisa membangun sesuatu yang baru disini tanpa kehilangan mereka. Seperti apa yang sudah aku alami sebelumnya. Teman SD, SMP, Boardingku.. ah mereka entah kemana sekarang. Hanya lembaran lama. Yang entah apa aku bisa, kembali kesana.

Aku masih harus banyak belajar, untuk menerima sifat teman – teman baruku sekarang ini. Merangkul mereka dan berjalan beriringan dengan ambisi yang berbeda namun visi yang sejalan. Aku harap aku bisa.


Semoga.

Senin, 06 April 2015

It’s been a long time

It’s been a long time bro.. masih mau begini aja? Gak mau usaha buat nyari pengganti yang baru?
       Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku ingin balik bertanya kepada kalian.
Seberapa pentingkah hal itu?
Apakah salah jika keadaan tetap seperti ini?

Aku tidak ingin memberikan banyak alasan ataupun penyangkalan terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Karena akupun  merasa memang tidak memiliki sebuah jawaban yang pasti. namun, hal itu membuatku berpikir, keadaan apa yang menyebabkanku menjadi demikian?

Apabila diingat-ingat lebih jauh mengenai hari-hariku..

Padatnya jadwal kuliah yang menyita waktu
agenda rapat organisasi yang anehnya ada saja setiap hari
kajian strategis mengenai isu-isu dan permasalahan yang bahkan belum aku mengerti
pendalaman materi
kegiatan kegiatan lain yang silih berganti menghiasi jadwal mingguanku
bahkan rasanya aku sudah tidak mengenal apa itu hari libur lagi

Dari itu semua aku memahami satu hal, bahwa ketika aku merasa tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan aktifitasku, saat itulah aku merasa benar benar hidup. Tidak ada waktu yang terbuang percuma dengan hal hal kosong yang tidak berguna. Tenaga dari seorang pemuda yang menguap begitu saja tanpa hal yang berarti. Dan sejujurnya, tidak sempat lagi terbersit pikiran tentang itu atau hal bodoh lain dan sebagainya.

Disinilah zona nyamanku berada, zona yang nyaman dalam berbagai macam tekanan. Zona yang senantiasa menuntutku untuk melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang biasa aku lakukan. Zona dimana proses pendewasaan diri terus menerus dilakukan ke arah yang lebih baik. Zona dimana terus muncul berbagai macam masalah yang membuatku semakin merasa hidup. Zona nyaman yang memaksaku untuk keluar dari sana, menciptakan kenyamanan yang baru di dalam ketidak nyamanan.

That's why I never thought about a relationship. Mataku baru terbuka, mengapa selama ini aku begitu sempit memandang suatu hal. Dunia bahkan tidak kiamat ketika orang yang kalian cinta pergi meninggalkan kalian. Matahari ternyata masih bersinar dengan gagahnya, senja masih tetap indah menyuguhkan pemandangan cantiknya. Malampun demikian, tetap teduh menaungi anak anak manusia yang terlelap dalam tidurnya. Tidak ada satupun sunnatullah yang berubah.

Hanya saja kita yang tidak terbiasa dengan kepergiannya. Bahkan saat dipikir-pikir, kepergian itu merupakan hal yang terbaik yang pernah terjadi. Aku jadi memahami bahwa selama ini aku menjalani hubungan dengan orang yang salah. dengan omong kosongnya yang selalu dia bawa. Bahwa pengorbanan dan apapun yang telah aku berikan tidak dihargai olehnya. Dan tentunya, ada orang lain nantinya yang lebih pantas untuk mendapatkan hal itu. Kesalahan dimasa lalu seharusnya menjadi pelajaran yang teramat berharga. Betapa pengorbanan serta tanggung jawab yang tidak pernah dihargai adalah salah satu bukti, bahwa janjiku telah lunas.

  Jadi apa jawabanku? Aku tidak memiliki waktu untuk hal itu.

Bukan, bukannya aku menganggap hal itu tidaklah penting. Hanya saja saat ini bukanlah waktu yang tepat.

Cobalah untuk berpikir apa yang sudah kita miliki sekarang ini? Untuk kehidupan sehari-haripun masih menadahkan tangan pada orang tua, merasa malu lah bagi mereka yang mebiayai hidup orang lain padahal dirinya sendiri masih meminta minta.

Belajar adala tujuan utama pada jenjang kehidupan saat ini, berapa banyak ilmu serta prestasi yang sudah kita ukir.. adalah pertanyaan yang mengiringinya. Maksimalkan waktu yang ada saat ini untuk terus menerus menuntut ilmu juga menggali potensi diri. Dan bagiku, semua ini sudah cukup menyita waktu dan tenaga. Untuk apa ditambah dengan hal-hal yang berbau omong kosong serta keabu-abuan.

Apa yang sudah kita lakukan pada umur yang kesekian ini. Lihatlah orang lain diluaran sana. Hidupnya sudah sejahtera dengan bisnisnya yang semakin berkembang pesat, ada pula yang sedang meniti kerajaan bisnisnya dengan susah payah. Jangan lupakan mereka yang sedang sibuk sibuknya mempersiapkan diri untuk perlombaan. atau ada pula yang mungkin saat ini sedang plesiran ke luar negeri dan berdiri di podium podium kehormatan sebagai delegasi Indonesia untuk forum internasional. Mereka mengharumkan nama bangsa ini berikut pribadinya.

Sementara kita, apa yang sudah kita lakukan?


Berangkat dari hal hal demikianlah aku tersadar, bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat. Masih ada jutaan aktifitas yang harus dilakukan untuk mengembangkan diri ini menjadi seorang yang lebih besar lagi, bijaksana lagi. Biarlah aku menjalani apa yang sedang aku jalani. Fokus untuk menata hidup yang lebih baik lagi. Karena ada berjuta hal yang lebih penting untuk kulakukan sekarang ini ketimbang sekedar memikirkan omong kosong tersebut.