Reisenotizen
Sadar
atau tidak hidup dan kehidupan itu selalu berubah, bahkan perubahan itupun
terjadi setiap saat tanpa kita sadari, minimal terlambat kita sadari. Dan sadar
atau tidak sadar perubahan itu menuntun kita arah yang lebih baik. Sekecil apapun
perubahan itu. Meskipun... tidak bisa disangkal banyak orang tidak menjadi
lebih baik dari perubahan itu. Tetapi aku yakin pemahaman mereka selalu bertambah
baik, hanya saja disutai atau tidak.
Lambat laun kita akan sadar dan sedikit banyak merasa
malu akan masa lalu kita. Padahal perilaku yang dahulupun, bisa dibilang
merupakan sebuah tindak dari suatu gaya/kebanggaan kita. Ambil contoh dari
tulisan-tulisanku yang sebelumnya, yang bahkan dengan tidak malunya pun aku
posting kepada publik. Berharap banyak yang membacanya dan terlebih sepaham
denganku.
Namun sayangnya, kian hari jika aku buka lembaran
postinganku yang lalu, selalu terdapat rasa malu dan aneh ketika melihatnya
kembali. “kok bisa tulisan seperti ini keluar dari pemikiranku” (hahaha). Yah,
bagaimanapun,itulah manusia. Selalu salah dan kemudian belajar dengan apa yang
telah dilakukannya.
Sering
kali terbersit dalam hati bahwa lebih baik aku hapuskan saja catatan-catatan
alay-ku tempo dulu. Karena jauh, sudah sangat jauh perubahan yang aku alami hingga
saat ini. Ingin rasanya menutup rapat-rapat kebodohan masa lalu, pengalaman
masa lalu, yang mungkin memang terasa aneh apa bila dilihat kembali. Rasanya terlalu
nyata apa yang aku baca.
Pada
akhirnya, jatuh keputusanku untuk tidak mengubur mereka (catatan) dalam-dalam. Membiarkan
mereka abadi di dalam blog ini, membiarkan mereka memberikan suguhan cerita
yang berbeda setiap kali aku mengunjunginya. Karena meski pikiran dapat
terlupa, tulisanlah yang akan selalu mengembalikan kenangannya. Memutar ulang
serta memunculkan kembali ingatan-ingatan akan masa yang terlupa (atau bahkan
mungkin dilupakan.
Jika boleh jujurpun, tagline atau judul utama dari blog
ini bahkan dari sebuah kreasi alay tempo dahulu. Saat-saat dimana aku masih
kebingungan mencari sebuah nama yang “keren” atau bisa menjual di mata orang-orang. Berbekal google
dan pemahan minimalis tentang bahasa asing. Muncullah kata “Reisenotizen” yang
hingga kini entah, benar atau tidaknya penulisan serta penempatan kata
tersebut (hehe). Semua adalah bagian
dari masa lalu dan saksi bisu pendewasaan diri hingga sekarang ini.
Aku memang orang senang berpetualang (baca: jalan-jalan)
tidak peduli jauh atau dekat tujuannya. Lama atau sebentar waktunya, semua
selalu aku posisikan sebagai sebuah petualangan. Dengan demikian akan timbul
kepuasan tersendiri dari perjalanan tersebut. Itulah hal yang mendasari “Reisenotizen”
lahir yang diambil dari bahasa jerman (entah benar atau tidak polanya).
Ya,
catatan perjalanan. Dilengkapi dengan pemaknaan dibawahnya, catatan kecil
seorang petualang. Karena aku sadar, kehidupan ini sangat penuh dengan
petualangan. Bagi mereka yang senantiasa bergerak dan berhijrah, tanpa pernah
mengenal kata lelah maupun menyerah. Mendapati dirinya selalu siap melangkahkan
kaki, menempuh jalan yang baru demi sebuah pengalaman luar biasa lainnya.
Tetapi
sayangnya aku sadar, semua hanya akan berlalu menjadi kenangan belaka. Yang mungkin
akan terlupa sebagian besar bahkan keseluruhannya apabila tidak diabadikan
sedikitpun. Dan sedikit adalah fakta/kenyataan terbesar kenangan yang dapat
kita abadikan. Itulah mengapa hanya catatan kecil yang bisa aku torehkan
disana.