(Sabtu, 30/08/14) Akhirnya
tiba juga pada hari keberangkatanku ke
semarang. Tidak ada yang spesial memang, aku telah menyiapkan hati untuk
meninggalkan kota ku dengan berjuta kenangannya. Perjalanan ini bukan yang
pertama, bukan pula yang terakhir. Yang aku ketahui adalah perjalanan ini
merupakan rutinitasku selama beberapa tahun ke depan. Kereta ekonomi yang cukup
nyaman dengan harga yang sangat bersahabat adalah pilihan utama yang tersedia.
6 jam kurang lebih waktu yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.
Tidak ada yang berbeda,
seperti perjalanan pertamaku beberapa waktu lalu. Bedanya kini aku sendiri,
benar-benar sendiri. Tidak lagi ada ibu atau ayahku yang mendampingi, bagiku
mungkin ini sudah terlampau biasa, mengingat apa yang aku alami tiga tahun
belakangan memang kulakukan sendiri, sebisa mungkin tanpa merepotkan mereka.
Ada hal menarik yang
ingin aku bagi disini, pengalaman di kereta saat aku bertemu dengan kelompok
pecinta alam, satu deretan kursi dengan mereka untuk 6 jam perjalanan ke depan.
Sekilas penampilan mereka berantakan, rambut yang tidak teratata rapih, celana
belel dan sobek sana sini, tas carrier yang ukurannya tidak tanggung-tanggung,
serta sepatu mereka yang khas.
Kesan pertama yang aku
dapat adalah rasa ketidak nyamanan terhadap mereka, mungkin perasaan ini kurang
lebih sama saat harus berhadapan dengan anak-anak punk. Menyeramkan, merasa terganggu,
dan hal negatif lainnya. Tamat sudah riwayatku untuk 6 jam ke depan. Jika ada
kesepatan mungkin aku bisa berpindah tempat duduk atau melompat dari kereta dan
berguling-guling. Ketimbang harus tetap berhadapan dengan mereka selama
perjalanan. Skak- mat!
Namun.......
Ternyata............
Sanagat tidak
terduga...............
Dari sini aku belajar
satu hal.....................
Dont judge book by the
cover! Yah, alih-alih menilai buruk orang hanya karena penampilan rasanya
kurang tepat, meskipun ada benarnya juga. Kesan pertama hadir melalui
penampilan, setelah itu mengarah ke sikap pribadinya. Mungkin gaya mereka
berantakan, atau bahasa halusnya natural. Namun tidak kusanggka ternyata mereka
cukup friendly. Haha. Walaupun agak ramai, banyak bicara, namun hal itu tidak
lantas membuat orang lain terganggu.
Pembicaraan pertamaku
dengan mereka dimulai saat berbagi colokan listrik, dimana di kereta ini hanya
tersedia satu colokan untuk dua baris kursi yang saling berhadapan, terbayang
sudah satu colokan harus dibagi untuk enam orang. Masing-masing mungkin hanya
punya waktu satu jam.. untungnya aku membawa terminal listrik rusak..
Ya, terminal listrik
rusak.. tanpa aku sadari yang aku bawa adalah barang yang sudah rusak-_- sedikit
malu terhadap mereka karena memberikan barang yang sudah rusak. Namun disinilah
pendangan negatifku tentang mereka perlahan mulai berubah. Dengan peralatan
gunung mereka, barang itu dibongkar dan diperbaiki.. hingga akhirnya berfungsi
kembali. Akhirnya kami pun bisa berbagi listrik, listrik untuk semua. Semua harus
dapat menikmati lisrik. Dan lisrikpun yang menyatukan kami. *skip*
Setelah kejadian itu
sedikit demi sedikit pembicaraan kami dimulai, oiya. Ada yang terlupa, mereka
adalah kelompok kecil yang terdiri dari empat orang. Mungkin nama mereka tidak
perlu aku sebutkan. Pendaki independent, begitulah mereka menyebut dirinya..
yang mendaki karena sebatas kecintaan terhadap alam, tanpa sponsor, tanpa
media, apa lagi pencitraan. *ini kemana-mana topikya*
Dari pembicaraan mereka
tercermin bahwa mereka orang yang cukup berpendidikan. Dari apa yang mereka
lakukan tergambar bahwa sebenarnya mereka memiliki ekonomi yang cukup atau
bahkan berlebih. Bayangkan, untuk perjalan jauh misalnya, paling tidak mereka
harus mengeluarkan uang untuk transport, peralatan gunung, uang perizinan, dan
sebagainya.
Walaupun penampilan
cukup unik, namun gaya bersosialisasi mereka cukup baik, terbukti obrolanku
dengan mereka sangat nyambung, dengan siapapun yang mereka temui, mereka bisa
berdiskusi tentang berbagai macam hal, dengan anak kecilpun mereka akrab, tanpa
rasa takut balita mau mendekat dan bercanda dengan mereka.
Dan satu hal yang
membuatku kagum yaitu kecintaan mereka terhadap lingkungan. Meskipun mayoritas
mereka adalah perokok yang cukup berat, mereka sangat menghargai sesama. Tidak merokok
di kamar mandi atau di celah gerbong kereta seperti yang kebanyakan orang lain
lakukan. Sangat berbeda dengan pria berpakaian rapih disebelahku yang tanpa rasa malu
mengepulkan asap di tempat duduknya. Mereka mencuri-curi waktu untuk merokok
ketika kereta sedang berhenti di stasiun transit. Itupun mereka lakukan hanya
di smoking-room yang tersedia. Sehingga tidak ada satu orangpun yang terganggu.
Jikalau selama ini aku selalu benci pada seorang perokok, justru kali ini aku
menaruh hormat kepada mereka.
Kesanku
untuk perjalanan kali ini adalah luar biasa, waktu 6 jam tidak terasa saat
berinteraksi dengan mereka, bertemu dengan individu baru yang dapat aku jadikan
pelajarang, dapat aku ambil contoh baiknya. Akupun berkaca diri bahwa ternyata
aku ini hanyal kecil di semesta, banyak sikap yang harus aku perbaiki, dan
akupun masih harus berkaca diri.
Salam hormatku untuk kalian, para pecinta alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar