Minggu, 31 Agustus 2014

dont judge book by the cover


(Sabtu, 30/08/14) Akhirnya  tiba juga pada hari keberangkatanku ke semarang. Tidak ada yang spesial memang, aku telah menyiapkan hati untuk meninggalkan kota ku dengan berjuta kenangannya. Perjalanan ini bukan yang pertama, bukan pula yang terakhir. Yang aku ketahui adalah perjalanan ini merupakan rutinitasku selama beberapa tahun ke depan. Kereta ekonomi yang cukup nyaman dengan harga yang sangat bersahabat adalah pilihan utama yang tersedia. 6 jam kurang lebih waktu yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.

Tidak ada yang berbeda, seperti perjalanan pertamaku beberapa waktu lalu. Bedanya kini aku sendiri, benar-benar sendiri. Tidak lagi ada ibu atau ayahku yang mendampingi, bagiku mungkin ini sudah terlampau biasa, mengingat apa yang aku alami tiga tahun belakangan memang kulakukan sendiri, sebisa mungkin tanpa merepotkan mereka.

Ada hal menarik yang ingin aku bagi disini, pengalaman di kereta saat aku bertemu dengan kelompok pecinta alam, satu deretan kursi dengan mereka untuk 6 jam perjalanan ke depan. Sekilas penampilan mereka berantakan, rambut yang tidak teratata rapih, celana belel dan sobek sana sini, tas carrier yang ukurannya tidak tanggung-tanggung, serta sepatu mereka yang khas.

Kesan pertama yang aku dapat adalah rasa ketidak nyamanan terhadap mereka, mungkin perasaan ini kurang lebih sama saat harus berhadapan dengan anak-anak punk. Menyeramkan, merasa terganggu, dan hal negatif lainnya. Tamat sudah riwayatku untuk 6 jam ke depan. Jika ada kesepatan mungkin aku bisa berpindah tempat duduk atau melompat dari kereta dan berguling-guling. Ketimbang harus tetap berhadapan dengan mereka selama perjalanan. Skak- mat!

Namun.......

Ternyata............

Sanagat tidak terduga...............

Dari sini aku belajar satu hal.....................

Dont judge book by the cover! Yah, alih-alih menilai buruk orang hanya karena penampilan rasanya kurang tepat, meskipun ada benarnya juga. Kesan pertama hadir melalui penampilan, setelah itu mengarah ke sikap pribadinya. Mungkin gaya mereka berantakan, atau bahasa halusnya natural. Namun tidak kusanggka ternyata mereka cukup friendly. Haha. Walaupun agak ramai, banyak bicara, namun hal itu tidak lantas membuat orang lain terganggu.

Pembicaraan pertamaku dengan mereka dimulai saat berbagi colokan listrik, dimana di kereta ini hanya tersedia satu colokan untuk dua baris kursi yang saling berhadapan, terbayang sudah satu colokan harus dibagi untuk enam orang. Masing-masing mungkin hanya punya waktu satu jam.. untungnya aku membawa terminal listrik rusak..

Ya, terminal listrik rusak.. tanpa aku sadari yang aku bawa adalah barang yang sudah rusak-_- sedikit malu terhadap mereka karena memberikan barang yang sudah rusak. Namun disinilah pendangan negatifku tentang mereka perlahan mulai berubah. Dengan peralatan gunung mereka, barang itu dibongkar dan diperbaiki.. hingga akhirnya berfungsi kembali. Akhirnya kami pun bisa berbagi listrik, listrik untuk semua. Semua harus dapat menikmati lisrik. Dan lisrikpun yang menyatukan kami. *skip*

Setelah kejadian itu sedikit demi sedikit pembicaraan kami dimulai, oiya. Ada yang terlupa, mereka adalah kelompok kecil yang terdiri dari empat orang. Mungkin nama mereka tidak perlu aku sebutkan. Pendaki independent, begitulah mereka menyebut dirinya.. yang mendaki karena sebatas kecintaan terhadap alam, tanpa sponsor, tanpa media, apa lagi pencitraan. *ini kemana-mana topikya*

Dari pembicaraan mereka tercermin bahwa mereka orang yang cukup berpendidikan. Dari apa yang mereka lakukan tergambar bahwa sebenarnya mereka memiliki ekonomi yang cukup atau bahkan berlebih. Bayangkan, untuk perjalan jauh misalnya, paling tidak mereka harus mengeluarkan uang untuk transport, peralatan gunung, uang perizinan, dan sebagainya.

Walaupun penampilan cukup unik, namun gaya bersosialisasi mereka cukup baik, terbukti obrolanku dengan mereka sangat nyambung, dengan siapapun yang mereka temui, mereka bisa berdiskusi tentang berbagai macam hal, dengan anak kecilpun mereka akrab, tanpa rasa takut balita mau mendekat dan bercanda dengan mereka.

Dan satu hal yang membuatku kagum yaitu kecintaan mereka terhadap lingkungan. Meskipun mayoritas mereka adalah perokok yang cukup berat, mereka sangat menghargai sesama. Tidak merokok di kamar mandi atau di celah gerbong kereta seperti yang kebanyakan orang lain lakukan. Sangat berbeda dengan pria berpakaian rapih disebelahku yang tanpa rasa malu mengepulkan asap di tempat duduknya. Mereka mencuri-curi waktu untuk merokok ketika kereta sedang berhenti di stasiun transit. Itupun mereka lakukan hanya di smoking-room yang tersedia. Sehingga tidak ada satu orangpun yang terganggu. Jikalau selama ini aku selalu benci pada seorang perokok, justru kali ini aku menaruh hormat kepada mereka.
    
        Kesanku untuk perjalanan kali ini adalah luar biasa, waktu 6 jam tidak terasa saat berinteraksi dengan mereka, bertemu dengan individu baru yang dapat aku jadikan pelajarang, dapat aku ambil contoh baiknya. Akupun berkaca diri bahwa ternyata aku ini hanyal kecil di semesta, banyak sikap yang harus aku perbaiki, dan akupun masih harus berkaca diri.

Salam hormatku untuk kalian, para pecinta alam.

Tidak ada komentar: