
Sedikit gambaranku tentang kami;
Kami adalah bijak ( Baro, Iju, Asep, Kimi )
Kimi: si tinggi yang gak bisa move-on. Gak pernah kesampean untuk punya motor, tapi setiap hari selalu bawa mobil-_- ertiga kesayangannya udah gak suci lagi, ada penyok di bemper belakangnya waktu awal-awal bisa bawa mobil ke tempat bimbel. Dari kami berempat, mungkin dia yang paling bisa aku temui sering sering. Nasib membawa kami ke universitas yang sama, walaupun fakultas yang berbeda.
Asep: anak juragan yang hidupnya paling ngasal, lebih ngasal dari siapapun yang pernah aku kenal. Selalu pelan (dan ngasal) kalau bawa CBR jingganya. Tapi bisa lebih gila kalau bawa motor Jupiter mx-nya baro-_- jadi intinya percuma dia beli motor bagus-bagus. Sekarang melanjutkan kuliah di fakultas perikanan di IPB.
Baro: putra dari Ustadz Hilman, sangat akur dengan kakaknya. Seorang entrepreneur muda yang sukses (dari jualan pulsa), yang kini bisnisnya bisa merambah ke sector manapun. Beruntungnya dia kini kuliah di jurusan yang memang di bidangnya, yaitu ekonomi dan sumber daya di ipb.
Aku: sepertinya tidak ada yang perlu diceritakan ya, biarlah kisah hidup ini menjadi misteri.
Pepatah yang paling benar menurutku mungkin adalah; “kalian tidak akan pernah memahami arti kehilangan sebelum kalian benar benar kehilangan.” Iya gak sih? Kehilangan itu menyakitkan, terlebih lagi untuk satu harta yang bernama persahabatan. Hal-hal biasa dan sepele yang setiap hari kalian lakuin perlahan akan kalian rindukan, rutinitas yang mungkin sebelah mata sedikit demi sedikit memperlihatkan nilainya.
Selama ini mungkin aku tidak
terlalu merasa memiliki sahabat yang berarti, siapapun mereka tidak terlalu
terpikir olehku. Yang aku tahu, merekalah temanku. Aku jalani hari-hariku
bersama mereka, sampai habis kesempatanku dengan mereka.
Kadang bahkan merasa bosan, ya
ampun.. mereka lagi mereka lagi, tapi hanya mereka yang punya waktu fleksibel
denganku. Mungkin karena senasib dan seperjuangan yang menyatukan kami (re:jomblo). Jadi yang
paling available ya mereka. Kemanapun, kapanpun, mereka siap mengayomi dan
melayani! That’s what friends are for?
Pernahkah kalian bertanya apa
pentingnya salam perpisahan? Setelah pergi dari suatu tempat bersama-sama,
menyempatkan diri untuk berhenti di pinggir jalan. Hanya sekadar salaman dan
tos sebelum berpisah ke rumah masing-masing? Atau membunyikan klakson sebelum
berpisah rute?
Bukankah masih ada hari esok? Yang
aku tahu hari esok pasti datang. Hari esok pasti akan datang walaupun kita
tidak mengharapkannya. Sayangnya yang
baru aku sadari saat ini adalah, datangnya hari esok belum tentu bersama
kalian. Walaupun aku mengharapkan kedatangan kalian.
“kalian tidak akan
pernah memahami arti kehilangan sebelum kalian benar benar kehilangan.” Yes,
sir! Now, I know that feel.. Satu persatu dari kalian kini menghilang. Pergi
dengan alasan kesibukan, sibuk untuk mengejar impian dan cita masing-masing.
Tanpa aku. Ya, tanpa aku di sela-sela kesibukan kalian.. Atau bahkan tanpa aku
di masa depan kalian.
Aku hanya bisa berharap
dari perpisahan ini menjadikan kami pribadi yang lebih baik lagi. Berpisah untuk
membuang semua cacat dan kejelekan yang sama sama kami miliki. Berpisah untuk
suatu tujuan yang mulia. Dan akan kembali bersama atas izinNya untuk membangun
hari esok yang lebih baik.
berjanjilah padaku. perpisahan ini hanya akan menjadikan kita lebih baik, bukan sebaliknya.
-bijak-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar