Jumat, 15 Agustus 2014

-bijak-



Sedikit gambaranku tentang  kami;

Kami adalah bijak ( Baro, Iju, Asep, Kimi )

Kimi: si tinggi yang gak bisa move-on. Gak pernah kesampean untuk punya motor, tapi setiap hari selalu bawa mobil-_- ertiga kesayangannya udah gak suci lagi, ada penyok di bemper belakangnya waktu awal-awal bisa bawa mobil ke tempat bimbel.  Dari kami berempat, mungkin dia yang paling bisa aku temui sering sering. Nasib membawa kami ke universitas yang sama, walaupun fakultas yang berbeda.

Asep: anak juragan yang hidupnya paling ngasal, lebih ngasal dari siapapun yang pernah aku kenal. Selalu pelan (dan ngasal) kalau bawa CBR jingganya. Tapi bisa lebih gila kalau bawa motor Jupiter mx-nya baro-_- jadi intinya percuma dia beli motor bagus-bagus. Sekarang melanjutkan kuliah di fakultas perikanan di IPB.
Baro: putra dari Ustadz Hilman, sangat akur dengan kakaknya. Seorang entrepreneur muda yang sukses (dari jualan pulsa), yang kini bisnisnya bisa merambah ke sector manapun. Beruntungnya dia kini kuliah di jurusan yang memang di bidangnya, yaitu ekonomi dan sumber daya di ipb.

Aku: sepertinya tidak ada yang perlu diceritakan ya, biarlah kisah hidup ini menjadi misteri.


            Pepatah yang paling benar menurutku mungkin adalah; “kalian tidak akan pernah memahami arti kehilangan sebelum kalian benar benar kehilangan.” Iya gak sih? Kehilangan itu menyakitkan, terlebih lagi untuk satu harta yang bernama persahabatan.  Hal-hal biasa dan sepele yang setiap hari kalian lakuin perlahan akan kalian rindukan, rutinitas yang mungkin sebelah mata sedikit demi sedikit memperlihatkan nilainya. 

Selama ini mungkin aku tidak terlalu merasa memiliki sahabat yang berarti, siapapun mereka tidak terlalu terpikir olehku. Yang aku tahu, merekalah temanku. Aku jalani hari-hariku bersama mereka, sampai habis kesempatanku dengan mereka.

Kadang bahkan merasa bosan, ya ampun.. mereka lagi mereka lagi, tapi hanya mereka yang punya waktu fleksibel denganku. Mungkin karena senasib dan seperjuangan yang menyatukan kami (re:jomblo). Jadi yang paling available ya mereka. Kemanapun, kapanpun, mereka siap mengayomi dan melayani! That’s what friends are for? 

Pernahkah kalian bertanya apa pentingnya salam perpisahan? Setelah pergi dari suatu tempat bersama-sama, menyempatkan diri untuk berhenti di pinggir jalan. Hanya sekadar salaman dan tos sebelum berpisah ke rumah masing-masing? Atau membunyikan klakson sebelum berpisah rute?

Bukankah masih ada hari esok? Yang aku tahu hari esok pasti datang. Hari esok pasti akan datang walaupun kita tidak mengharapkannya.  Sayangnya yang baru aku sadari saat ini adalah, datangnya hari esok belum tentu bersama kalian. Walaupun aku mengharapkan kedatangan kalian.

“kalian tidak akan pernah memahami arti kehilangan sebelum kalian benar benar kehilangan.” Yes, sir! Now, I know that feel.. Satu persatu dari kalian kini menghilang. Pergi dengan alasan kesibukan, sibuk untuk mengejar impian dan cita masing-masing. Tanpa aku. Ya, tanpa aku di sela-sela kesibukan kalian.. Atau bahkan tanpa aku di masa depan kalian.

Aku hanya bisa berharap dari perpisahan ini menjadikan kami pribadi yang lebih baik lagi. Berpisah untuk membuang semua cacat dan kejelekan yang sama sama kami miliki. Berpisah untuk suatu tujuan yang mulia. Dan akan kembali bersama atas izinNya untuk membangun hari esok yang lebih baik.

berjanjilah padaku. perpisahan ini hanya akan menjadikan kita lebih baik, bukan sebaliknya. 


-bijak- 


Tidak ada komentar: