Senin, 15 September 2014

I Love Traveling

Aku harap label traveler pantas untuk aku sandang, karena jujur saja, aku adalah tipe orang yang sangat sulit untuk berdiam diri disuatu tempat dalam jangka waku yang lama tanpa memiliki aktivitas yang menyita waktu. Setiap waktu luang yang aku miliki pasti sudah terbersit keinginan untuk pergi. Aku tidak suka berdiam diri, bayangan akan masa lalu pasti datang menghampiri. Mengganggu ketenanganku, merusak suasana dan memaksa untuk bernostalgila.

Aku cinta traveling.

Karenanya aku bisa meridukan kembali satu nama yang disebut rumah.

Karenanya aku memiliki waktu untuk diriku sendiri.

Karenanya aku memiliki kesempatan untuk mengenal dan mensyukuri ciptaanNya.

Karenanya aku bisa mengenal apa itu dunia.

Karenanya aku bisa memaknai hal apa saja yang terjadi dalam hidup ini.

Karena saat aku melakukan traveling, saat itu aku bisa merasakan pertualangan.

Petualangan adalah saat dimana perjalanan bukan hanya terfokus pada tujuan, namun saat aku bisa menikmati setiap langkah yang aku lakukan untuk bisa sampai disana. Ketika setiap detik yang aku habiskan menjadi sangat terasa berarti, waktu yang singkat menjadi terasa lama. Meskipun jauh dan sulitnya medan yang harus ditempuh, tetapi bibir ini masih bisa memberikan senyum terbaiknya. Itulah petualangan.

Ada dua hal yang menjadi hambatan utamaku saat aku ingin traveling.

Pertama, kemana aku akan pergi.

Kedua dengan siapa aku pergi.

Kemana dan dengan siapa menurutku adalah sesuatu yang relatif, saling menggantikan. Asalkan ada salah satu diantara keduanya tidak jadi masalah.

Hambatan pertama adalah kemana aku akan pergi. Tanpa tahu arah mana yang aku tuju mustahil aku bisa melangkah, namun apabila sudah memiliki tujuan, sendiripun akan aku laksanakan, walaupun sangat terkesan jomblo *ngenes*. Sekadar sharing, perjalanan sendirian itu tidak seburuk kelihatannya kok, justru dengan kesendirian, perjalanan akan lebih terasa (sepinya). Objek-objek yang lalu-lalang tersuguhkan sepanjang perjalanan akan sangat terasa, perjalananpun menjadi lebih membekas dalam ingatan.

Hambatan kedua juga tidak jauh berbeda. Dengan siapa aku pergi. Ya, jika sudah ada yang mendampingi petualangannku, tidak penting lagi kemana arah dan tujuanku. Semua adalah sama, semua akan terasa bermakna. Perjalanan tersebut juga akan menjadikan ikatan atau hubunganku menjadi lebih baik lagi. Building a good relation. Hal-hal yang sebelumnya tidak aku ketahui tentangnya (partner travelingku) bisa aku ketahui, bertukar pandangan tentang berbagai macam hal, menggali informasi-informasi baru (gosip), dan banyak hal positif yang bisa aku tampung darinya.

Kemana atau dengan siapa aku pergi nampaknya menjadi dua sisi mata uang buatku. Jika salah satu sisi muncul, maka sisi yang lain akan terbaikan olehku, bukan lagi menjadi sebuah hambatan. Tinggal sisi bagian mana yang Tuhan berikan padaku saat aku merindukan traveling. Disaat ada tujuan yang tiba-tiba aku idamkan, mungkin inilah jawabannya. Saat pula ada orang yang bersedia atau bahkan mengajakku untuk menjadi partnernya, mungkin juga inilah jawaban Tuhan yang lainnya.

 Oiya, mungkin ada sedikit pertanyaan mengapa uang tidak menjadi prioritas hambatanku. Sebenarnya uang juga dalam beberapa kondisi menjadi hambatan. Hambatan yang besar bahkan. Tetapi mengapa aku mengesampingkan hal ini karena uang hanyalah sarana untuk membawaku sampai pada tujuan. Uang hanya menggeser waktu perjalananku, sampai aku memiliki cukup biaya untuk pergi.  Semakin banyak uang yang aku miliki hal itu berarti bisa semakin jauh tujuan yang aku lempar dan semakin nyaman pula fasilitas yang aku dapatkan.

tetapi untuk apa...

Untuk apa nyaman? Jika tujuan dari traveling adalah keluar dan membuang segala bentuk perasaan nyaman terhadap rumah. Mencari suasana baru dan menikmatinya hingga aku bisa merindukan rumah. Perjalan terbaik adalah saat dimana aku bisa kembali merindukan rumah.

Untuk apa jauh? Masih banyak destinasi yang berada disekitarku yang masih bisa dan sangat layak untuk aku jamah. Tidak penting seberapa jauh apabila perjalanan itu tidak bermakna.

Kembali lagi pada persoalan uang. Saat ini memang aku hidup masih menadahkan tangan pada orang tua, menunggu jatah bulanan untuk menyambung hidup. Namun kemanapun aku pegi, aku tidak pernah meminta lagi pada orang tuaku. Aku hanya memberitahu kepada mereka kemana aku akan pergi, sesekali pula aku meminta izin, walaupun lebih sering hanya memberi informasi. Jika mereka sedang berbaik hati, cairlah dana untukku, untuk menambah bekal perjalanan. Namun bukan sebagai sumber utama. Cukuplah selama ini aku menggantungkan beban kepada mereka. Aku bisa menyisihkan uang yang aku miliki, jika sudah cukup barulah aku mulai perjalanan tersebut.

Mengapa aku sangat mencintai traveling, mungkin jawaban sederhana yang bisa aku simpulkan adalah karena aku tidak suka berdiam diri, karena aku pensaran akan hal-hal baru. Namun sadarkah, bahwa sejatinya hidup ini adalah perjalanan? Mengukir sejarah di dalam setiap langkah, mengisi lembaran baru di kertas yang masih kosong. Bukan hidup namanya jika hanya berdiam diri, hidup akan terasa lebih hidup saat aku bisa melangkah ke tempat yang asing dan unik. Saat aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri, saat itulah aku bisa mengenal siapa diriku.


Lakukanlah petualangan, kemanapun tujuan yang bisa kalian bayangkan. Pertualangan bukan hanya terpaku pada satu destinasi wisata, semua tempat bisa menjadi sarana kalian untuk berpetualang. Maknai betul apa yang kalian alami, langkah demi langkah, detik demi detik, momen demi momen yang kalian alami. Jika kalian bisa memaknai apa yang telah kalian lewati, kalian telah berpetualang. 

Tidak ada komentar: