Aku harap label traveler
pantas untuk aku sandang, karena jujur saja, aku adalah tipe orang yang sangat
sulit untuk berdiam diri disuatu tempat dalam jangka waku yang lama tanpa
memiliki aktivitas yang menyita waktu. Setiap waktu luang yang aku miliki pasti
sudah terbersit keinginan untuk pergi. Aku tidak suka berdiam diri, bayangan
akan masa lalu pasti datang menghampiri. Mengganggu ketenanganku, merusak
suasana dan memaksa untuk bernostalgila.
Aku cinta traveling.
Karenanya aku bisa meridukan
kembali satu nama yang disebut rumah.
Karenanya aku memiliki waktu
untuk diriku sendiri.
Karenanya aku memiliki
kesempatan untuk mengenal dan mensyukuri ciptaanNya.
Karenanya aku bisa mengenal
apa itu dunia.
Karenanya aku bisa memaknai
hal apa saja yang terjadi dalam hidup ini.
Karena saat aku melakukan
traveling, saat itu aku bisa merasakan pertualangan.
Petualangan adalah saat
dimana perjalanan bukan hanya terfokus pada tujuan, namun saat aku bisa
menikmati setiap langkah yang aku lakukan untuk bisa sampai disana. Ketika
setiap detik yang aku habiskan menjadi sangat terasa berarti, waktu yang
singkat menjadi terasa lama. Meskipun jauh dan sulitnya medan yang harus
ditempuh, tetapi bibir ini masih bisa memberikan senyum terbaiknya. Itulah
petualangan.
Ada dua hal yang menjadi
hambatan utamaku saat aku ingin traveling.
Pertama, kemana aku akan
pergi.
Kedua dengan siapa aku
pergi.
Kemana dan dengan siapa
menurutku adalah sesuatu yang relatif, saling menggantikan. Asalkan ada salah
satu diantara keduanya tidak jadi masalah.
Hambatan pertama adalah
kemana aku akan pergi. Tanpa tahu arah mana yang aku tuju mustahil aku bisa
melangkah, namun apabila sudah memiliki tujuan, sendiripun akan aku laksanakan,
walaupun sangat terkesan jomblo *ngenes*. Sekadar sharing, perjalanan sendirian
itu tidak seburuk kelihatannya kok, justru dengan kesendirian, perjalanan akan
lebih terasa (sepinya). Objek-objek yang lalu-lalang tersuguhkan sepanjang
perjalanan akan sangat terasa, perjalananpun menjadi lebih membekas dalam
ingatan.
Hambatan kedua juga tidak
jauh berbeda. Dengan siapa aku pergi. Ya, jika sudah ada yang mendampingi
petualangannku, tidak penting lagi kemana arah dan tujuanku. Semua adalah sama,
semua akan terasa bermakna. Perjalanan tersebut juga akan menjadikan ikatan
atau hubunganku menjadi lebih baik lagi. Building
a good relation. Hal-hal yang sebelumnya tidak aku ketahui tentangnya
(partner travelingku) bisa aku ketahui, bertukar pandangan tentang berbagai
macam hal, menggali informasi-informasi baru (gosip), dan banyak hal positif
yang bisa aku tampung darinya.
Kemana atau dengan siapa aku
pergi nampaknya menjadi dua sisi mata uang buatku. Jika salah satu sisi muncul,
maka sisi yang lain akan terbaikan olehku, bukan lagi menjadi sebuah hambatan.
Tinggal sisi bagian mana yang Tuhan berikan padaku saat aku merindukan
traveling. Disaat ada tujuan yang tiba-tiba aku idamkan, mungkin inilah
jawabannya. Saat pula ada orang yang bersedia atau bahkan mengajakku untuk
menjadi partnernya, mungkin juga inilah jawaban Tuhan yang lainnya.
Oiya, mungkin ada sedikit pertanyaan mengapa
uang tidak menjadi prioritas hambatanku. Sebenarnya uang juga dalam beberapa
kondisi menjadi hambatan. Hambatan yang besar bahkan. Tetapi mengapa aku
mengesampingkan hal ini karena uang hanyalah sarana untuk membawaku sampai pada
tujuan. Uang hanya menggeser waktu perjalananku, sampai aku memiliki cukup
biaya untuk pergi. Semakin banyak uang
yang aku miliki hal itu berarti bisa semakin jauh tujuan yang aku lempar dan
semakin nyaman pula fasilitas yang aku dapatkan.
tetapi untuk apa...
Untuk apa nyaman? Jika
tujuan dari traveling adalah keluar dan membuang segala bentuk perasaan nyaman
terhadap rumah. Mencari suasana baru dan menikmatinya hingga aku bisa
merindukan rumah. Perjalan terbaik adalah saat dimana aku bisa kembali
merindukan rumah.
Untuk apa jauh? Masih banyak
destinasi yang berada disekitarku yang masih bisa dan sangat layak untuk aku
jamah. Tidak penting seberapa jauh apabila perjalanan itu tidak bermakna.
Kembali lagi pada persoalan
uang. Saat ini memang aku hidup masih menadahkan tangan pada orang tua,
menunggu jatah bulanan untuk menyambung hidup. Namun kemanapun aku pegi, aku
tidak pernah meminta lagi pada orang tuaku. Aku hanya memberitahu kepada mereka
kemana aku akan pergi, sesekali pula aku meminta izin, walaupun lebih sering
hanya memberi informasi. Jika mereka sedang berbaik hati, cairlah dana untukku,
untuk menambah bekal perjalanan. Namun bukan sebagai sumber utama. Cukuplah
selama ini aku menggantungkan beban kepada mereka. Aku bisa menyisihkan uang
yang aku miliki, jika sudah cukup barulah aku mulai perjalanan tersebut.
Mengapa aku sangat mencintai
traveling, mungkin jawaban sederhana yang bisa aku simpulkan adalah karena aku
tidak suka berdiam diri, karena aku pensaran akan hal-hal baru. Namun sadarkah,
bahwa sejatinya hidup ini adalah perjalanan? Mengukir sejarah di dalam setiap
langkah, mengisi lembaran baru di kertas yang masih kosong. Bukan hidup namanya
jika hanya berdiam diri, hidup akan terasa lebih hidup saat aku bisa melangkah
ke tempat yang asing dan unik. Saat aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri,
saat itulah aku bisa mengenal siapa diriku.
Lakukanlah petualangan,
kemanapun tujuan yang bisa kalian bayangkan. Pertualangan bukan hanya terpaku
pada satu destinasi wisata, semua tempat bisa menjadi sarana kalian untuk
berpetualang. Maknai betul apa yang kalian alami, langkah demi langkah, detik
demi detik, momen demi momen yang kalian alami. Jika kalian bisa memaknai apa
yang telah kalian lewati, kalian telah berpetualang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar