setelah sekolah saya usai
kegiatan saya belakangan ini adalah bimbel intensif 5 kali pertemuan dalam seminggu.
karena sudah tidak pernah lagi mengenakan seragam sekolah, barulah saya tersadar kebanyakan pakaian saya semi formal atau yang berbalut kerah (kemeja)
stok kaus santai yang saya miliki ketika SMP dahulu sudah tidak layak lagi untuk dipakai keluar rumah, apa lagi acara acara di keramaian, sudah lusuh termakan waktu. kebanyakan kaus saya hanyalah kaus polos.
komentarpun sedikit banyak bermunculan..
mengapa pakaian lo selalu rapih?
kenapa gayanya formal banget?
atau yang cukup ekstreem
kenapa ribet banget bajunya?
sebenarnya tidak juga, saya merasa nyaman dengan apa yang saya kenakan ini. mungkin karena sudah terbiasa, jadi tidak ada bedanya dengan pakaian lainnya.
dari dulu pun, ayah saya selalu menganjurkan untuk selalu rapih dalam berpakaian, selalu kenakan pakaian yang sopan kemanapun kita pergi. pada awalnya pula, saya sering bertanya mengapa harus segitunya pakaian kita perhatikan.
namun, barulah sekarang sekarang ini efeknya saya rasakan, alasannya dapat saya mengerti.
ada kisah menarik tentang pentingnya sebuah penampilan..
tahukah anda tentang standford university? universitas kelas atas di Amerika dan bahkan dunia. salah satu pesaing harvard university. siapa pendirinya? ialah pasangan suami istri Mr. and Mrs. leland standford.
Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.
Sesampainya di sana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.
“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.
Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”
“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”
Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?”
Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs Leland Standford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.
Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
jikalau di artikel artikel lain membahas tentang bagaimana agar kita tidak menilai seseorang dari penampilannya, kali ini saya ingin membahas dengan perspektif yang sedikit berbeda.
dari sinilah saya belajar, bahwa penampilan merupakan cerminan diri sendiri. seperti apa penampilan kita, seperti itu pula orang lain akan menilai kita.
penampilan seorang pemimpin perusahaan tentunya sangat berbeda dengan penampilan tukang ojek bukan?
pemimpin perusahaan akan selalu berusaha terlihat rapih di depan kolega koleganya, bagaimana mungkin seorang pemimpin perusahaan berpenampilan seperti tukang ojek, belum belum para koleganya sudah bingung dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja sama dengannya. dari penampilannya saja sudah tidak meyakinkan, bagaimana dengan kemampuannya dalam berbisnis.
inilah pentingnya pakaian, jikalau kita ingin dinilai baik oleh orang lain, hal yang paling awal adalah dengan menjaga penampilan. baru kemudian attitude dan terakhir bagaimana kita bertutur kata.
berpakaian disini bukanlah cenderung berlebihan dengan memperlihatkan kemewahan, melainkan menunjukan bahwa kita adalah manusia yang bermartabat, yang memilik etika dan kesopanan. penampilan menunjang 70% penilaian baik buruknya pribadi di mata orang lain.
oleh karena itu jika ingin menjadi pribadi yang baik, mulailah rubah penampilan kita. mulailah tampil dengan sopan, kemudian sokong penampilan baik kita dengan attitude atau akhlak yang baik pula, dan berhati hati dalam berbicara.
cukup mudah bukan? tiga point awal yang sederhana ini pasti sangat membantu kita di kehidupan sehari hari. baik di dunia kerja, pendidikan, maupun masyarakat luas.
cepat atau lambat saya yakin kita akan mengerti pentingnya penampilan yang sopan.
semoga menginspirasi.
salam :)