Senin, 28 April 2014

the power of mind



Kekuatan pikiran.

Tahukah?

berat otak hanya sekitar 2% dari berat tubuh secara kesuluhan, tetapi membutuhkan 20% konsumsi oksigen yang kita hirup setiap harinya.

Otak memiliki kapasitas penyimpanan setara dengan 500 buah buku ensiklopedia. Kebayang kan banyaknya kaya apa?

Ini anak ipanya mulai keluar ._.

Otak yang mempengaruhi segala aktifitas kita. Mulai dari berpikir, bertindak, emosi, dan mood semua terkendali dan berpusat di otak.

Otak merangsang hormon yang menghasilkan beragam kondisi. Memacu detak jantung dan meningkatnya aliran darah.

Sebenarnya letak hati (qalbu) bukanlah di dada, melainkan di kepala. kebanyakan dari kita menyangka bahwa hati itu adanya di dada.

Namun kenyataannya otak dalam hal ini pikiran lah yang mempengaruhi jantung saat emosi meluap, membuat detak jantung menjadi lebih cepat, mengalir darah menjadi lebih kencang, membuat napas menjadi tersengal..

Begitu besarnya peranan otak dalam kehidupan.

Pembunuhan paling sadis bukanlah mutilasi.
Penyiksaan paling kejam bukanlah mutilasi.

Pembunuhan paling sadis ialah pembunuhan karakter.

Membunuh pikiran seorang individu merupakan tindakan paling menyiksa.
Membiarkan jasad masih melekat namun jiwanya mati. Ketakutan mengisi setiap detik individu yang terbunuh karakternya.

Akupun pernah merasakan 'mati suri'nya karakter.
Ketakutan menjalani hidup menjadi pesimistis.

Kembali ke 'the power of mind'

Banyak contoh tentang kekuatan pikiran..



Dimana seseorang yakin dapat melakukan sesuatu, maka itulah yang terjadi.

Tugas utama seorang motivator sebenarnya sederhana, namun tidak semua orang bisa melakukannya. Memancing pikiran bawah sadar para audiensnya untuk meyakini apa yang dikatannya.
Menanamkan pemikiran pemikiran positif pada para pendengarnya.

Dari sanalah, dari pikiran pikiran positif akan timbul tindakan positif, individu akan bergerak ke arah yang lebih baik.

Kekutatan utama seorang Individu adalah di pikirannya.

Jadi

Jikalau ingin menghentikan seorang individu, seranglah pikirannya.

Jika ingin mengorbitkan seorang Individu, orbitkanlah pikirannya.

hakikat sebuah janji


Esensi sebuah janji itu adalah hutang.
Hutang kepada manusia, hutang kepada yang menciptakan manusia.

Adalah dosa janji tidak ditepati, bahkan pada akhirnga akan menjadi hambatan manusia untuk naik ketingkat selanjutnya. Banyak kisah klasik tentang seorang yang meninggal tertahan di pintu surga karena masih memiliki hutang, janji yang belum sempat ditepati selama hidup.

Banyak pula yang tidak menyadari betapa beratnya sebuah janji itu. Dengan mudahnya mengumbar janji, tanpa sadar bebannya menumpuk. Saling menunggu untuk ditunaikan.

Aku memang seorang penakut. Takut memikul hutang yang akan senantiasa membebani sampai hari akhir nanti. Takut tidak sanggup membayar janji yang telah kuucapkan. Takut dibayangi janji. Takut lupa akan janji janjiku.

Mungkin karena itu lidahku sangat kelu untuk mengucapkan janji. jikalau harus berjanji, sebisa mungkin yang teringan. Diubah menjadi tekad, agar tiada beban yang membayangi nantinya.
Tekad yang ditanam agar sebisa mungkin terwujud dan jika gagal tidaklah menjadi beban. Toh, sudah berusaha semaksimal mungkin..

Apabila benar benar harus berjanji. Aku lebih memilih untuk berjanji kepada diri sendiri. Berjanji untuk diriku, disaksikan oleh Allah, tuhanku. Dengan harapan agar dapat terpenuhi. Dan bila gagal, diriku sendiri yang dapat mengikhlaskan atau memaafkannya.

Jadi, masihkah anda mengumbar janji?
Masih ringankah lidah anda untuk menebar janji?
Masih beratkah ingatan anda untuk mengingat janji?
Masihkah?

Ada baiknya menimbang dahulu sebelum berjanji, daripada memikul beban yang berat pada akhir nanti.

Semoga bermanfaat

Salam

membangun hidup


Problematika hidup memang beragam, tetapi sadarkah? Sebenarnya permasalahan manusia di dunia ini hanya itu itu saja selama puluhan abad? Hanya kondisi dan situasi masyarakatnya yang berbeda.

Filusuf yunani pernah berkata

" 80% bencana di dunia ini disebabkan karena hawa nafsu manusia. Hanya 20% saja yang merupakan bencana sebenarnya, seperti kelaparan, gempa, dan tsunami "

Aku pernah mengalami kondisi dimana manusia berubah menjadi "zombie" atau istilahnya "frankenstein" mayat hidup yang kosong jiwanya.

Terombang ambing antara hidup atau mati..
tidak ada gairah
tidak ada semangat
Beruntungnya masih ada iman yang melekat di hati.

Aku benar benar takut menjalani hidup, 3 tahun hidup yang biasa sendiri kini bertambah sepi. Orang yang senantiasa mendampingi justru menjadi sebab utama jiwaku mati. Hari hari yang sepi kini bertampah sepi.

Takut menjalani hidup. Keluarga jauh disana, teman tak ada waktu untuk berkumpul, sekolahpun sudah hampir usai, hanya berdiam diri di rumah, terkurung beban pikiran.

Aku benar benar takut untuk menjalani hidup, setiap pagi berpikir apa yang harus dilakukan hari ini. Mencari celah untuk menyibukan diri. Tetapi hampa.

Pernah sesekali berpikir untuk mati. Menyelesaikan kehidupan ini. Tapi beruntungnya iman masih melekat kuat di hati.

Aku takut menjalani hidup.
Tapi aku lebih takut mati tanpa iman. Mati dalam keadaan kafir. Mati dan bersiap disambut di neraka.

Manakah yang aku pilih? Keduanya memang menakutkan.


Akhirnya aku memutuskan untuk tetap hidup, meskipun harus hidup di dalam ketakutan.

Perlahan namun pasti, aku membangun kembali harapan harapan itu, merangkai kembali mimpi mimpi dahulu, mengukir kembali cerita hidup yang masih jauh dari sempurna.

Tiap malam aku terbangun, bercengkrama dengan sang Rabb, bersujud memohon ampunan dan bimbingan. Menangis dalam pangkuannya. Tiada yang lebih nikmat dari ini. Tiada yang lebih melegakan dari bercerita kepada Yang Maha Mendengar.

Perlahan lahan mataku terbuka, bahwa  sesungguhnya penderitaanku tidak ada apa apanya.
Bahwa betapa kufurnya aku pada nikmatNya
Bahwa betapa tidak pandainya aku dalam bersyukur

Sungguh besar kuasa Allah
Yang Maha Pembolak balik hati
Kini harapanku bersinar kembali
Kini aku merasakan lonjakam gairah hidup
Kini aku merasakan kasih dariNya
Kini aku siap hidup kembali



Minggu, 27 April 2014

apa pentingnya penampilan?

setelah sekolah saya usai
kegiatan saya belakangan ini adalah bimbel intensif 5 kali pertemuan dalam seminggu.

karena sudah tidak pernah lagi mengenakan seragam sekolah, barulah saya tersadar kebanyakan pakaian saya semi formal atau yang berbalut kerah (kemeja)
stok kaus santai yang saya miliki ketika SMP dahulu sudah tidak layak lagi untuk dipakai keluar rumah, apa lagi acara acara di keramaian, sudah lusuh termakan waktu. kebanyakan kaus saya hanyalah kaus polos.

komentarpun sedikit banyak bermunculan..

mengapa pakaian lo selalu rapih?

kenapa gayanya formal banget?

atau yang cukup ekstreem
kenapa ribet banget bajunya?

sebenarnya tidak juga, saya merasa nyaman dengan apa yang saya kenakan ini. mungkin karena sudah terbiasa, jadi tidak ada bedanya dengan pakaian lainnya.

dari dulu pun, ayah saya selalu menganjurkan untuk selalu rapih dalam berpakaian, selalu kenakan pakaian yang sopan kemanapun kita pergi. pada awalnya pula, saya sering bertanya mengapa harus segitunya pakaian kita perhatikan.
namun, barulah sekarang sekarang ini efeknya saya rasakan, alasannya dapat saya mengerti.

ada kisah menarik tentang pentingnya sebuah penampilan..

tahukah anda tentang standford university? universitas kelas atas di Amerika dan bahkan dunia. salah satu pesaing harvard university. siapa pendirinya? ialah pasangan suami istri Mr. and Mrs. leland standford.

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.

Sesampainya di sana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.


Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?”

Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs Leland Standford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

jikalau di artikel artikel lain membahas tentang bagaimana agar kita tidak menilai seseorang dari penampilannya, kali ini saya ingin membahas dengan perspektif yang sedikit berbeda.
dari sinilah saya belajar, bahwa penampilan merupakan cerminan diri sendiri. seperti apa penampilan kita, seperti itu pula orang lain akan menilai kita.

penampilan seorang pemimpin perusahaan tentunya sangat berbeda dengan penampilan tukang ojek bukan?
pemimpin perusahaan akan selalu berusaha terlihat rapih di depan kolega koleganya, bagaimana mungkin seorang pemimpin perusahaan berpenampilan seperti tukang ojek, belum belum para koleganya sudah bingung dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja sama dengannya. dari penampilannya saja sudah tidak meyakinkan, bagaimana dengan kemampuannya dalam berbisnis.

inilah pentingnya pakaian, jikalau kita ingin dinilai baik oleh orang lain, hal yang paling awal adalah dengan menjaga penampilan. baru kemudian attitude dan terakhir bagaimana kita bertutur kata.

berpakaian disini bukanlah cenderung berlebihan dengan memperlihatkan kemewahan, melainkan menunjukan bahwa kita adalah manusia yang bermartabat, yang memilik etika dan kesopanan. penampilan menunjang 70% penilaian baik buruknya pribadi di mata orang lain.

oleh karena itu jika ingin menjadi pribadi yang baik, mulailah rubah penampilan kita. mulailah tampil dengan sopan, kemudian sokong penampilan baik kita dengan attitude atau akhlak yang baik pula, dan berhati hati dalam berbicara.

cukup mudah bukan? tiga point awal yang sederhana ini pasti sangat membantu kita di kehidupan sehari hari. baik di dunia kerja, pendidikan, maupun masyarakat luas.
cepat atau lambat saya yakin kita akan mengerti pentingnya penampilan yang sopan.

semoga menginspirasi.

salam :)

visi misi singkat


9 dari 10 pintu rezeki itu dari berniaga, sisanya dari pns (hehe) ._. Jadi kalo mau buka pintu rezeki dari Allah yang paling besar kemungkinannya yaitu berniaga

Berniaga atau jual beli kemungkinannya banyak, bisa untung bisa pula rugi. Tergantung bagaimana menyikapinya..
Kalau gagal bisa rugi bahkan sampai berhutang dan jual aset sana sini untuk menutupi kerugiannya

Kalu berhasil besar kemungkinan keuntungan berlipat ganda. Bagaikan loncatan harimau, bulan ini keuntungan 10, boleh jadi bulan berikutnya 30 atau bahkan 40.

Beda dengan pegawai biasa yang menerima gaji setiap bulannya dengan jumlah yang sama, apapun yang terjadi.

Pasar adalah tempat yang dicintai Allah dan juga tempat yang paling dibenci Allah

Jadi kalau mau menghindari murka Allah, jauhilah bekerja di lingkungan pasar/perniagaan

Namun jika ingin mendapat cinta Allah, berkecimpung jugalah di pasar/perniagaan

Pilih yang mana?

Allah benci pasar karena disana tempat kebohongan yang marak terjadi, penjual yang licik dan tidak jujur sering menggadai ridho Allah demi keuntungan yang lebih..

Allah cinta pula orang orang yang ada diperniagaan jika dalam kesehariannya mereka mengutamakan kejujuran dan keadilan

18 tahun sudah saya hidup di dunia, 18 tahun pula saya menadahkan tangan meminta rezeki dari orang tua. Malu rasanya setiap saat meminta, menghamburkan uang yang diperoleh dari hasil keringat mereka..

Ingin rasanya meringankan beban mereka, saya ingin mencoba berbisnis.

Berusaha untuk tidak terus menerus membebani mereka, selain dengan belajar giat tentunya..

1 tahun penjajakan bisnis mudah mudahan berjalan lancar, di usia 19 tahun saya berharap sudah bisa menjalankan bisnis dengan baik. Dan menginjak usia 20 tahun mudah mudahan sudah bisa mencukupi kebutuhan pribadi atau mudah mudahan bisa menutup biaya pendidikan dengan uang sendiri juga.
Usia 21 tahun saya benar benar beharap sudah bisa mandiri..

Doakan agar visi misi jangka pendek saya berhasil..
Semoga dapat terlaksana dan menjadi batu loncatan untuk visi dan misi ke depan yang lebih panjang lagi.

Bismillahirahmanirrahim

Saya akan terjun ke dunia perniagaan

Sabtu, 26 April 2014

aku kamu kita


Kamu dulu
Manis
Manja
Perhatian
Penuh kasih sayang

Kamu sekarang
Dingin
Acuh
Kaku


Aku dulu
Ceria
Optimis
Semangat
Tegar

Aku kini
murung
pesimis
Rapuh

Kita dulu
Saling peduli
Saling percaya
Saling cinta

Kita kini
Bagai air dan minyak
Bersama tapi tak lagi bersatu
Kamu dengan dirinya
Aku dengan diriku
Tak ada kesamaan
Tak ada kepedulian

Haruskah?
Kita tak saling mengenal

Haruskah?
Aku melupakanmu
Melupakan tentang kita
Melupakan apa yang sudah kita lalui

Haruskah?
Aku melakukannya

Maafkan aku
aku tidak akan sanggup

Jumat, 25 April 2014

sederhana tapi rumit

dulu paling anti yang namanya patah hati
nangis karena cinta itu haram hukumnya
air mata terlalu mahal untuk orang yang bahkan gak peduli sama kita
apapun itu, cinta pakai logika

gua seperti kehilangan pribadi yang dulu
yang keras, yang penuh logika
gak seperti sekarang
lemah dan pasrah sama keadaan

apa yang harus ditangisin?
atau, kenapa segitunya cuma masalah hubungan doang?
sederhana memang, tapi rumit pula

selama gua SMA gua hidup sendiri
orang tua beserta adik adik tinggal di sumatera ikut ayah bekerja
kebayangkan sepinya gimana?
harus apa sepulang sekolah

dia yang selalu ada
tepatnya gua yang selalu melibatkan semua kegiatan dia bersama gua
dari pagi hingga sore hampir selalu bersama
gua baby sitternya

pagi bangun, ketemu disekolah,
sore selesai, main bareng, nungguin dia kursus atau bimbel
nganterin pulang
kalau libur jalan berdua
dia butuh apa gua yang nemenin dia pergi
tiap mau liburan pasti buat planning
nabung
materi sekolah gak ngerti, dia yang ngajarin
dia belajar motor, belajar mobil sama gua
gua sakit dia yang jenguk
dia sakit gua yang ngerawat
saling melengkapi
saling mengisi

kebayangkan gimana rasanya? kalo tiba tiba hilang gitu aja
gua kehilangan temen hidup gua
gua kehilangan motivasi hidup gua
gua kehilangan sejuta aktivitas yang buat gua lupa kalo gue kesepian
gua kehilangan sahabat gua
gua kehilangan guru privat gua
gua kehilangan anak asuh gua
gua kehilangan seseorang yang jadi alasan gua untuk gak sedih

sekarang apa?
gak ada lagi temen hidup
gua selalu bingung apa yang harus gua lakuin ketika bangun pagi
gua selalu bingung ketika melangkah, mau kemana?
gua selalu bingung ketika menatap layar hp, siapa yang mau dihubungin?

hidup gak melulu soal dia, tapi apapun kegiatan gua selalu sama dia
itu yang buat gua takut, apa yang harus gua lakuin tanpa dia

sejujurnya, gua udah gak perduli lagi apa namanya hubungan gua sama dia
apapun itu, yang jelas dia adalah temen hidup gua
gua sudah terlanjur yakin kalo akhirnya gua sama dia
bukan gua sama dia akhirnya berakhir