Selasa, 21 Mei 2013

sweet seventeen.. are you sure?


Post terakhir saya menulis judul “ happy sweet 17 ”

Sebenernya pada tau gak sih awal mula kenapa ada sweet 17 ini?.-. (serius nanya). Kali ini saya bukan ingin menjelasakan asal muasal istilah sweet 17. Karena saya sendiri pun belum pernah menemukan artikel tentang hal tersebut.

Menurut pengamatan saya *eaa gaya pengamatan* -_- berdasarkan arti dari kata sweet seventeen itu sendiri. Sweet= manis. seventeen= tujuh belas. Jadi tujuh belas tahun yang manis. Maksudnya ituuuu… umur tujuh belas tahun yang manis. Bingungkan? Sama-____-

Kalo di perundang undangan. Seorang dinyatakan telah dewasa (gak setuju sebenernya) pada umur 17 tahun. Dan telah dapat menjalankan hak dan kewajibannya sebagai warga Negara. Mulai dari hak memilih, hak menyatakan pendapat, hak menikah, memiliki kartu tanda penduduk, dan sebagainya.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa umur tujuh belas itu adalah masa masa paling menyenangkan dalam hidupnya. Believe it or not? Up to you :) karena sudah tidak lagi harus diatur orang tua. Bebas menentukan keinginannya. Boleh ikut pemilu, sudah boleh menikah pula *wah wah* sudah memiliki hak sebagai seorang individu seutuhnya. Tentunya harus diikuti oelh sikap kedewasaan mereka.

Buat saya sweet 17 itu ada benarnya juga. Karena sebagian besar saya rasakan :) sampai hak hak tersebut membuat saya mengenali apa itu birokrasi *tau gak?*

Sudah tujuh belas tahun berarti sudah boleh membuat sim, 
sudah boleh membuka rekening tabungan, 
sudah boleh membuat paspor pribadi,
sudah boleh membuat ktp. 
Iya kan? :) *tengil*

Iya enak, tapi kalo harus ngurus itu semua sendiri gimana? Enak gak? Ha ha ha -_- katanya sudah dewasa. Berarti harus mengurus segala keperluannya sendiri. Gak boleh minta bantuan orang tua.
Dewasa coy! haha

Oke. Harus saya akui, birokrasi itu baik. Tapi sulit dan melelahkan. Berkali kali izin sekolah dengan alasan buat KTP, mengurus paspor, mau buka rekening bank, mau test buat sim. Cape gan *curhat*

Umur tujuh belas tahun itu indah..
indah sekali.. 

manis, 
manis sekali.

Dan lelah,
lelah sekali.. 

jadi untuk kalian yang akan menginjak atau sedang pada umur 17. Sudahkah kalian mengurus hal hal tersebut? Selamat  :) dan yang telah berumur lebih dari 17 tahun. Samakah yang saya alami dengan kalian? ._.

Jadilah pribadi yang menggunakan waktu dengan sebaik baiknya. Karena ia tak akan pernah kembali.

Jadilah pribadi yang baik bagi diri sendiri dan orang lain, apa lagi nusa dan bangsa.

Yang terakhir, sudah jadi belom KTPnya? :D diurus ya...


Salam :)

Happy sweet 17 muadz!! :D

ciee ulang tahun. ciee tujuh belas.

Tadi pagi ada moment makan makan di kelas, syukuran atas ulang tahunnya muadz abudrahman. Teman sekelas di IPA A. seru ya, kalo setiap ada yang ulang tahun, pasti ngadain syukuran. Meskipun gak seberapa, seperti tadi muadz ngasih macaroni scootle, atau waktu itu bena bawa kue bolu, dan najwa ngasih nasi kuning. Bahagia rasanya kalo kita saling berbagi. Menandakan rasa syukur kita pada Allah sang pencipta :)

Intinya adalah bersyukur. Atas segala yang telah di capai hingga umur ke 17 tahun ini. Saya sendiri sudah melewati ulang tahun ke-17 pada November lalu (tua ya) ._.
Mengingat moment beberapa waktu lalu, juga moment yang saat ini. Ada satu hal yang mengganjal dihati J seperti yang kita ketahui, biasanya pada saat syukuran itu ada sesi doanya. Berdoa pada Allah baik untuk yang sedang berulang tahun maupun yang hadir disana.

Sadar atau engga, sering kali kata kata berikut terucap:

“Di usia ke tujuh belas tahun ini berarti sudah dewasa, dan semoga semakin dewasa”

Kalau menurut saya pribadi, umur tujuh belas tahun itu belum bias menjadi  tolak ukur dewasa atau tidaknya seseorang. Bukan umur yang mendewasakan seseorang. Karena  tua itu adalah sebuah kepastian dan dewasa itu merupakan pilihan.

Apakah kita sudah siap menjadi dewasa di umur ke-17 ini?
Jawabannya ada pada diri kita sendiri.
Banyak orang yang menginjak umur diatas 20 tahun, tetapi masih memiliki pola pikir bagai anak-anak. Ambil contoh:

  • Berapa banyak mahasiswa di Drop Out dari kampusnya karena absensinya jebol akibat terlalu rajin datang ke warnet?
  • Berapa banyak anggota DPR mangkir pada saat rapat?
  • Berapa banyak pengendara sepeda motor berkeliaran di jalan raya tanpa helm?
  • Berapa banyak orang yang asyik berbagi asap rokok, padahal di depan matanya terpampang pringatan larangan untuk merokok?
  • berapa banyak kesalahan kesalahan bodoh bagai pemikiran anak kecil yang dilakukan oleh orang dewasa?

Disinilah kita, seberapa tua usia kita. Apa bila tak belajar untuk berpikir dewasa maka selamanya kita akan tetap seperti sekarang. Tidak berubah ke arah yang lebih baik.

Belajarlah dewasa..
Dewasa untuk berpikir mana yang baik dan mana yang buruk.
Dewasa untuk berani bertindak karena benar dan takut karena salah. 
Dewasa untuk menghargai orang lain. Dewasa untuk membimbing diri sendiri.

*happy birthday muadz abdurahman. Hopefully you’ll grown up and be a good people. Amin.

Senin, 20 Mei 2013

Tingkat keseriusan belajar terhadap harapan orang tua

Pernah mikirin gak, tingkat keseriusan belajar kita terhadap harapan orang tua?

Mungkin kebanyakan orang gak penah mikirin ini. Ngapain juga ya dipikirin? Belajar ya belajar-_- harapan orang tua ya harapan mereka. Toh kita yang jalanin, kita juga yang nikmatin. Mereka cuma sekedar berharap.

Tapi kali ini situasinya beda. Beberapa waktu lalu (2 tahun ke belakang) saya pernah ngobrol sama abi (re:ayah) tentang ngelanjutin kuliah di luar negeri (tujuannya jerman). Besar harapan abi salah satu anaknya bisa mengenyam pendidikan diluar negeri, khususnya jerman.

Sewaktu muda dulu abi juga pernah punya keinginan untuk kuliah keluar sana. Tapi berhubung orang tuanya ga punya biaya untuk yang satu ini, abi harus mengubur keinginannya. Fyi buat kuliah aja abi harus cari beasiswa atau perguruan yang ga memungut biaya. Nah atas dasar itu, abi mau anak anaknya bisa kuliah ke luar negeri. Biaya pun sebisa mungkin abi siapin untuk anak anaknya.

Ada rumah kontrakan gak jauh dari rumah, kalo diuangkan kira kira 130 jeti ._. itulah kunci harta karun abi untuk menerbangkan buah hatinya ke luar negeri. Karena untuk kuliah diluar sana paling ga butuh banyak biaya. Baik beasiswa maupun mandiri.

Saya pernah mendatangi sebuah program kuliah luar negeri yang dikelola oleh event organizer (merk ga usah sebut ya). EO itu menjual jasa bimbingan untuk calon mahasiswa yang berminat untuk kuliah di luar negeri, khususnya Australia, jerman, prancis dan inggris. Mereka (EO) membimbing para calon maba itu mulai dari persiapan bahasa, translate ijasah-dsb, tempat tinggal, sampai bimbingan untuk test di universitas diluar sana.

Kalo dihitung secara kasar, kira kira ikut program itu habis sekitar 70 jeti. Belum termasuk biaya hidup disana. Well, apapun butuh biaya kan? Biar beasiswa sekalipun. Ga ada yang free 100%

Balik ke masalah utama (emang masalahnya apaan?) buat saya dan abi tentunya masalah biaya sedikit banyak sudah bisa diatasi. Tapi disini batin saya mulai berkecamuk.
Tadi sore, abi telfon dari Palembang. Seperti biasa nanyain kabar, kegiatan dan sebagainya. Sampai beliau berkata, “kamu jadi ga ke jerman? Cobalah kamu cari lagi program program lain buat kuliah ke jerman”.

Dari sini saya mulai tersadar, selama ini kemana aja? Ngapain aja?
Kalau untuk masalah administrasi, diurus sebentar mungkin selesai. Berangkatlah saya ke jerman. Tapi gimana dengan otak? .__. Mumpuni gak? Bisa gak saya mengimbangi pelajaran disana? Sementara saya masih harus belajar memahami bahasa mereka. Saya percaya otak manusia itu semuanya sama. Semuanya berkemampuan untuk melakukan apa yang dapat dilakukan orang lain, kemampuan albert Einstein sekalipun. Asal mereka mau berusaha.

Disinilah kata kuncinya. Usaha. Sudahkah saya berusaha selama ini? Sudahkah saya besungguh sungguh selama ini? Malu rasanya, besar harapan mereka pada saya, tapi sedikitpun usaha belum saya lakukan.

Banyak orang berkeinginan, bercita cita, bermimpi mengenyam pendidikan diluar negeri. Namun ditentang oleh orang tua mereka. Lalu bagaimana dengan saya? Dukungan penuh dari orang tua. Tapi belum selangkahpun saya bersiap.

Terwujudnya harapan orang tua itu tergantung tingginya usaha anak dan seberapa besar mereka ingin mewujudkannya. Memang untuk kasus ini kita lah yang berperan penuh. Kita yang berusaha, kita pula yang akan menikmatinya. Meskipun harapan ini awalnya pada orang tua. Meskipun kadang kita sulit memahami, sulit untuk mewujudkannya.

Tetapi salahkah? Mewujudkan harapan mereka?
Saya yakin semua harapan orang tua pada anak mereka pasti baik.

Bukankah membahagiakan mereka adalah kewajiban kita?
Pahala bagi kita. Dan jalan kita menuju surga :)

Prolog

Assalamualaikum wr. wb.

Saya Ahmad izzudin :) 

Dan ini adalah blog kesekian yang pernah saya miliki. namun karena satu dan lain hal, blog blog terdahulu saya tidak bisa digunakan atau bahkan ditemukan kembali. entah karena di hack atau jarang ditulis (╥_╥)

bismillah, I tried to start writing again (_)9
biar bagaimanapun memulai itu mudah, yang sulit adalah mempertahankan apa yang telah kita mulai. sama seperti menulis, sudah sering kali keinginan ini muncul untuk kembali menulis. tetapi tetap saja rasa malas dan sikap yang tidak konsisten mengubur semuanya. 

yah.. biarpun ada banyak dorong dari sana-sini. 
sedih kadang, kalo inget inget respon follower blog yang nanya mana lagi postingannya, atau kok gak nulis lagi? bahkan sekarang pun blog kesayangan sudah di hack . karma mungkin, blog yang dulu sering di cuekin. memang, sesuatu itu akan terasa berharga kalo kita udah kehilangannya.

well, doakan saya untuk konsisten dalam menulis di sudut terpencil jendela browser anda. semoga keinginan saya untuk berbagi pemikiran pemikiran baik tetap terlaksana :)

see you.