Liburan
dan kejenuhan beraktivitas
Ada
kalanya seseorang membutuhkan kesendirian, jauh dari gegap gempita dunia,
sibuknya lalu lalang sosial media yang teramat fana, atauh bahkan hiruk
pikuknya omong kosong orang-orang sekitar. Tidak sedikit memang manusia akhir
zaman seperti sekarang ini lelah dan penat dengan keadaan sekitar, baik hal
tersebut timbul dari lingkungan maupun orang-orang disekelilingnya.
Maka
tak heran jikalau kita mendapati trend hobi baru yaitu traveling atau
jalan-jalan. ada waktu luang sedikit, mengunjungi lokasi wisata A, long weekend
berikutnya mencoba ke lokasi B, begitu seterusnya. Selain memang virus pamer di
sosmed yang kian menerjang sehingga orang senang sekali untuk foto-foto di
berbagai tempat. Muak dan bising dengan aktivitas sehari-hari adalah salah satu
alasan kuat mengapa hobi ini kian menggeliat.
Tidak
memandang status sosial dan tingkatan ekonomi. Sehingga akan kita dapati
beragam cara orang-orang untuk berlibur. Ada yang liburan dengan kelas super
mewah mengelilingi penjuru dunia, tak luput pada destinasi-destinasi
favoritnya. Atau mereka yang terbatas pada kemampuan ekonomi, ala kadarnya yang
penting hati senang. Semuanya sah-sah saja.
Sayangnya,
tak ayal hiburan itu adalah layaknya obat penghilang rasa sakit belaka. Sejenak
menyembukan stress dan rasa jenuh pada keadaan sehari-hari yang kian membebani.
Namun, ketika liburan itu telah usai di dapatiah keadaan yang sama persis
seperti sedia kala yang menimbulkan berbagai macam gejala. Kembalilah berkubang
pada hal-hal yang tak diinginkan.
Baru
sesaat bekerja menjalankan aktivitas normal, sudah kembali merindukan suasana
liburan. Celakanya, terjerat pada lingkaran setan pola hidup yang mendamba hari
esok. Hari ini bekerja mati-matian agar memiliki uang untuk berlibur. Dan
ketika berlibur diluapkanlah segala beban pikiran dan juga uang yang telah
susah payah dikumpulkan selama bekerja. Bekerja untuk berlibur dan berlibur untuk mengobati luka
akibat bekerja.
Seseorang
sering kali terlupa untuk menikmati hari ini. Padahal, hidup yang paling utama
adalah kehidupan saat ini. Masa lalu hanyalah sejarah yang tak akan bisa
berubah dan masa depan tak lebih dari sebuah misteri. Hanya dengan aksi di hari
ini, yang bisa menentukan kedepannya akan seperti apa.
Karena
orang yang benar benar hidup adalah mereka yang bisa menerima masa lalunya, dan
siap menghadapi hari esok tanpa melupakan apa yang harus ia jalani hari ini.
Hargai
apa yang ada di sekitar
Contoh-contoh
tersebut mungkin tidak semua pernah mengalami, atau paling tidak, keadaannya
tidak seekstrim itu. Meski demikian, tetap saja ada satu problema yang pasti
mengganjal di relung-relung setiap insan. Jenuh, baik sedikit maupun banyak.
Sejumput rasa keengganan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Tidak ada
semangat tercipta, hanya dilakukan sebagai konsekuensi dari sebuah kehidupan.
Malas belajar, jenuh kuliah, enggan bekerja, bosan bertengkar, dan lain
sebagainya.
Lantas
apa yang bisa diperbuat? Memang manusia tidak akan pernah bisa terlepas dari
rasa jenuh tersebut. Namun apabila kita bisa melihatnya melalui kaca mata
syukur, seluruh keadaan tersebut mungkin perlahan akan membaik. Bersyukur pada
keadaan yang ada, karena bisa saja hal-hal yang saat ini dikeluhkan adalah
suatu keadaan yang justru sangat diharapkan oleh orang lain.
Saat
jenuh berada di rumah karena keadaan keluarga yang senantiasa bersitegang satu
sama lainnya. Dengan adik bertengkar, dengan ibu pun selalu bermarahan tiada
habisnya, atau dengan ayah yang selalu marah terhadap hal-hal kecil.
Bersyukurlah, bahwa saat ini masih memiliki orang tua dan keluarga. Ingat
kembali hal-hal membahagiakan yang pernah dilalui bersama, bersyukur betapa
beruntungnya dikaruniai mereka dalam hidup. Tanpa mereka mungkin keadaan akan
jauh berbeda dari kata baik.
Manusia
cenderung baru merasa memiliki setuatu yang berharga setelah kehilangan. Maka
tak heran pada akhirnya banyak timbul penyesalan. Oleh karenanya penting untuk
terus mengingat apa yang sejatinya berharga dan patut untuk dijaga dan di
syukuri. Dengan demikian setiap momen yang tercipta akan selalu bermakna.
Hargai
apa yang ada di sekitar, sekecil apapun hal itu. Karena kita tidak pernah
mengetahui kapan hal tersebut akan diambil dan apa dampak yang mungkin terjadi
pada kehidupan kita. Jenuh adalah hal biasa, karena itu merupakan naluri
alamiah seorang manusia dalam merespon suatu keadaan. Belajar menikmati
kejenuhan merupakan kunci untuk dapat berbahagia. Bukan dengan menghindarinya.