Senin, 28 April 2014
hakikat sebuah janji
Esensi sebuah janji itu adalah hutang.
Hutang kepada manusia, hutang kepada yang menciptakan manusia.
Adalah dosa janji tidak ditepati, bahkan pada akhirnga akan menjadi hambatan manusia untuk naik ketingkat selanjutnya. Banyak kisah klasik tentang seorang yang meninggal tertahan di pintu surga karena masih memiliki hutang, janji yang belum sempat ditepati selama hidup.
Banyak pula yang tidak menyadari betapa beratnya sebuah janji itu. Dengan mudahnya mengumbar janji, tanpa sadar bebannya menumpuk. Saling menunggu untuk ditunaikan.
Aku memang seorang penakut. Takut memikul hutang yang akan senantiasa membebani sampai hari akhir nanti. Takut tidak sanggup membayar janji yang telah kuucapkan. Takut dibayangi janji. Takut lupa akan janji janjiku.
Mungkin karena itu lidahku sangat kelu untuk mengucapkan janji. jikalau harus berjanji, sebisa mungkin yang teringan. Diubah menjadi tekad, agar tiada beban yang membayangi nantinya.
Tekad yang ditanam agar sebisa mungkin terwujud dan jika gagal tidaklah menjadi beban. Toh, sudah berusaha semaksimal mungkin..
Apabila benar benar harus berjanji. Aku lebih memilih untuk berjanji kepada diri sendiri. Berjanji untuk diriku, disaksikan oleh Allah, tuhanku. Dengan harapan agar dapat terpenuhi. Dan bila gagal, diriku sendiri yang dapat mengikhlaskan atau memaafkannya.
Jadi, masihkah anda mengumbar janji?
Masih ringankah lidah anda untuk menebar janji?
Masih beratkah ingatan anda untuk mengingat janji?
Masihkah?
Ada baiknya menimbang dahulu sebelum berjanji, daripada memikul beban yang berat pada akhir nanti.
Semoga bermanfaat
Salam
membangun hidup
Problematika hidup memang beragam, tetapi sadarkah? Sebenarnya permasalahan manusia di dunia ini hanya itu itu saja selama puluhan abad? Hanya kondisi dan situasi masyarakatnya yang berbeda.
Filusuf yunani pernah berkata
" 80% bencana di dunia ini disebabkan karena hawa nafsu manusia. Hanya 20% saja yang merupakan bencana sebenarnya, seperti kelaparan, gempa, dan tsunami "
Aku pernah mengalami kondisi dimana manusia berubah menjadi "zombie" atau istilahnya "frankenstein" mayat hidup yang kosong jiwanya.
Terombang ambing antara hidup atau mati..
tidak ada gairah
tidak ada semangat
Beruntungnya masih ada iman yang melekat di hati.
Aku benar benar takut menjalani hidup, 3 tahun hidup yang biasa sendiri kini bertambah sepi. Orang yang senantiasa mendampingi justru menjadi sebab utama jiwaku mati. Hari hari yang sepi kini bertampah sepi.
Takut menjalani hidup. Keluarga jauh disana, teman tak ada waktu untuk berkumpul, sekolahpun sudah hampir usai, hanya berdiam diri di rumah, terkurung beban pikiran.
Aku benar benar takut untuk menjalani hidup, setiap pagi berpikir apa yang harus dilakukan hari ini. Mencari celah untuk menyibukan diri. Tetapi hampa.
Pernah sesekali berpikir untuk mati. Menyelesaikan kehidupan ini. Tapi beruntungnya iman masih melekat kuat di hati.
Aku takut menjalani hidup.
Tapi aku lebih takut mati tanpa iman. Mati dalam keadaan kafir. Mati dan bersiap disambut di neraka.
Manakah yang aku pilih? Keduanya memang menakutkan.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap hidup, meskipun harus hidup di dalam ketakutan.
Perlahan namun pasti, aku membangun kembali harapan harapan itu, merangkai kembali mimpi mimpi dahulu, mengukir kembali cerita hidup yang masih jauh dari sempurna.
Tiap malam aku terbangun, bercengkrama dengan sang Rabb, bersujud memohon ampunan dan bimbingan. Menangis dalam pangkuannya. Tiada yang lebih nikmat dari ini. Tiada yang lebih melegakan dari bercerita kepada Yang Maha Mendengar.
Perlahan lahan mataku terbuka, bahwa sesungguhnya penderitaanku tidak ada apa apanya.
Bahwa betapa kufurnya aku pada nikmatNya
Bahwa betapa tidak pandainya aku dalam bersyukur
Sungguh besar kuasa Allah
Yang Maha Pembolak balik hati
Kini harapanku bersinar kembali
Kini aku merasakan lonjakam gairah hidup
Kini aku merasakan kasih dariNya
Kini aku siap hidup kembali
Minggu, 27 April 2014
apa pentingnya penampilan?
setelah sekolah saya usai
kegiatan saya belakangan ini adalah bimbel intensif 5 kali pertemuan dalam seminggu.
karena sudah tidak pernah lagi mengenakan seragam sekolah, barulah saya tersadar kebanyakan pakaian saya semi formal atau yang berbalut kerah (kemeja)
stok kaus santai yang saya miliki ketika SMP dahulu sudah tidak layak lagi untuk dipakai keluar rumah, apa lagi acara acara di keramaian, sudah lusuh termakan waktu. kebanyakan kaus saya hanyalah kaus polos.
komentarpun sedikit banyak bermunculan..
mengapa pakaian lo selalu rapih?
kenapa gayanya formal banget?
atau yang cukup ekstreem
kenapa ribet banget bajunya?
sebenarnya tidak juga, saya merasa nyaman dengan apa yang saya kenakan ini. mungkin karena sudah terbiasa, jadi tidak ada bedanya dengan pakaian lainnya.
dari dulu pun, ayah saya selalu menganjurkan untuk selalu rapih dalam berpakaian, selalu kenakan pakaian yang sopan kemanapun kita pergi. pada awalnya pula, saya sering bertanya mengapa harus segitunya pakaian kita perhatikan.
namun, barulah sekarang sekarang ini efeknya saya rasakan, alasannya dapat saya mengerti.
ada kisah menarik tentang pentingnya sebuah penampilan..
tahukah anda tentang standford university? universitas kelas atas di Amerika dan bahkan dunia. salah satu pesaing harvard university. siapa pendirinya? ialah pasangan suami istri Mr. and Mrs. leland standford.
Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.
Sesampainya di sana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.
“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.
Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”
“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”
Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?”
Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs Leland Standford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.
Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
jikalau di artikel artikel lain membahas tentang bagaimana agar kita tidak menilai seseorang dari penampilannya, kali ini saya ingin membahas dengan perspektif yang sedikit berbeda.
dari sinilah saya belajar, bahwa penampilan merupakan cerminan diri sendiri. seperti apa penampilan kita, seperti itu pula orang lain akan menilai kita.
penampilan seorang pemimpin perusahaan tentunya sangat berbeda dengan penampilan tukang ojek bukan?
pemimpin perusahaan akan selalu berusaha terlihat rapih di depan kolega koleganya, bagaimana mungkin seorang pemimpin perusahaan berpenampilan seperti tukang ojek, belum belum para koleganya sudah bingung dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja sama dengannya. dari penampilannya saja sudah tidak meyakinkan, bagaimana dengan kemampuannya dalam berbisnis.
inilah pentingnya pakaian, jikalau kita ingin dinilai baik oleh orang lain, hal yang paling awal adalah dengan menjaga penampilan. baru kemudian attitude dan terakhir bagaimana kita bertutur kata.
berpakaian disini bukanlah cenderung berlebihan dengan memperlihatkan kemewahan, melainkan menunjukan bahwa kita adalah manusia yang bermartabat, yang memilik etika dan kesopanan. penampilan menunjang 70% penilaian baik buruknya pribadi di mata orang lain.
oleh karena itu jika ingin menjadi pribadi yang baik, mulailah rubah penampilan kita. mulailah tampil dengan sopan, kemudian sokong penampilan baik kita dengan attitude atau akhlak yang baik pula, dan berhati hati dalam berbicara.
cukup mudah bukan? tiga point awal yang sederhana ini pasti sangat membantu kita di kehidupan sehari hari. baik di dunia kerja, pendidikan, maupun masyarakat luas.
cepat atau lambat saya yakin kita akan mengerti pentingnya penampilan yang sopan.
semoga menginspirasi.
salam :)
kegiatan saya belakangan ini adalah bimbel intensif 5 kali pertemuan dalam seminggu.
karena sudah tidak pernah lagi mengenakan seragam sekolah, barulah saya tersadar kebanyakan pakaian saya semi formal atau yang berbalut kerah (kemeja)
stok kaus santai yang saya miliki ketika SMP dahulu sudah tidak layak lagi untuk dipakai keluar rumah, apa lagi acara acara di keramaian, sudah lusuh termakan waktu. kebanyakan kaus saya hanyalah kaus polos.
komentarpun sedikit banyak bermunculan..
mengapa pakaian lo selalu rapih?
kenapa gayanya formal banget?
atau yang cukup ekstreem
kenapa ribet banget bajunya?
sebenarnya tidak juga, saya merasa nyaman dengan apa yang saya kenakan ini. mungkin karena sudah terbiasa, jadi tidak ada bedanya dengan pakaian lainnya.
dari dulu pun, ayah saya selalu menganjurkan untuk selalu rapih dalam berpakaian, selalu kenakan pakaian yang sopan kemanapun kita pergi. pada awalnya pula, saya sering bertanya mengapa harus segitunya pakaian kita perhatikan.
namun, barulah sekarang sekarang ini efeknya saya rasakan, alasannya dapat saya mengerti.
ada kisah menarik tentang pentingnya sebuah penampilan..
tahukah anda tentang standford university? universitas kelas atas di Amerika dan bahkan dunia. salah satu pesaing harvard university. siapa pendirinya? ialah pasangan suami istri Mr. and Mrs. leland standford.
Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.
Sesampainya di sana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.
“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.
Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.
“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.
Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.
Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”
“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”
Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”
Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?”
Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs Leland Standford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.
Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
jikalau di artikel artikel lain membahas tentang bagaimana agar kita tidak menilai seseorang dari penampilannya, kali ini saya ingin membahas dengan perspektif yang sedikit berbeda.
dari sinilah saya belajar, bahwa penampilan merupakan cerminan diri sendiri. seperti apa penampilan kita, seperti itu pula orang lain akan menilai kita.
penampilan seorang pemimpin perusahaan tentunya sangat berbeda dengan penampilan tukang ojek bukan?
pemimpin perusahaan akan selalu berusaha terlihat rapih di depan kolega koleganya, bagaimana mungkin seorang pemimpin perusahaan berpenampilan seperti tukang ojek, belum belum para koleganya sudah bingung dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja sama dengannya. dari penampilannya saja sudah tidak meyakinkan, bagaimana dengan kemampuannya dalam berbisnis.
inilah pentingnya pakaian, jikalau kita ingin dinilai baik oleh orang lain, hal yang paling awal adalah dengan menjaga penampilan. baru kemudian attitude dan terakhir bagaimana kita bertutur kata.
berpakaian disini bukanlah cenderung berlebihan dengan memperlihatkan kemewahan, melainkan menunjukan bahwa kita adalah manusia yang bermartabat, yang memilik etika dan kesopanan. penampilan menunjang 70% penilaian baik buruknya pribadi di mata orang lain.
oleh karena itu jika ingin menjadi pribadi yang baik, mulailah rubah penampilan kita. mulailah tampil dengan sopan, kemudian sokong penampilan baik kita dengan attitude atau akhlak yang baik pula, dan berhati hati dalam berbicara.
cukup mudah bukan? tiga point awal yang sederhana ini pasti sangat membantu kita di kehidupan sehari hari. baik di dunia kerja, pendidikan, maupun masyarakat luas.
cepat atau lambat saya yakin kita akan mengerti pentingnya penampilan yang sopan.
semoga menginspirasi.
salam :)
visi misi singkat
9 dari 10 pintu rezeki itu dari berniaga, sisanya dari pns (hehe) ._. Jadi kalo mau buka pintu rezeki dari Allah yang paling besar kemungkinannya yaitu berniaga
Berniaga atau jual beli kemungkinannya banyak, bisa untung bisa pula rugi. Tergantung bagaimana menyikapinya..
Kalau gagal bisa rugi bahkan sampai berhutang dan jual aset sana sini untuk menutupi kerugiannya
Kalu berhasil besar kemungkinan keuntungan berlipat ganda. Bagaikan loncatan harimau, bulan ini keuntungan 10, boleh jadi bulan berikutnya 30 atau bahkan 40.
Beda dengan pegawai biasa yang menerima gaji setiap bulannya dengan jumlah yang sama, apapun yang terjadi.
Pasar adalah tempat yang dicintai Allah dan juga tempat yang paling dibenci Allah
Jadi kalau mau menghindari murka Allah, jauhilah bekerja di lingkungan pasar/perniagaan
Namun jika ingin mendapat cinta Allah, berkecimpung jugalah di pasar/perniagaan
Pilih yang mana?
Allah benci pasar karena disana tempat kebohongan yang marak terjadi, penjual yang licik dan tidak jujur sering menggadai ridho Allah demi keuntungan yang lebih..
Allah cinta pula orang orang yang ada diperniagaan jika dalam kesehariannya mereka mengutamakan kejujuran dan keadilan
18 tahun sudah saya hidup di dunia, 18 tahun pula saya menadahkan tangan meminta rezeki dari orang tua. Malu rasanya setiap saat meminta, menghamburkan uang yang diperoleh dari hasil keringat mereka..
Ingin rasanya meringankan beban mereka, saya ingin mencoba berbisnis.
Berusaha untuk tidak terus menerus membebani mereka, selain dengan belajar giat tentunya..
1 tahun penjajakan bisnis mudah mudahan berjalan lancar, di usia 19 tahun saya berharap sudah bisa menjalankan bisnis dengan baik. Dan menginjak usia 20 tahun mudah mudahan sudah bisa mencukupi kebutuhan pribadi atau mudah mudahan bisa menutup biaya pendidikan dengan uang sendiri juga.
Usia 21 tahun saya benar benar beharap sudah bisa mandiri..
Doakan agar visi misi jangka pendek saya berhasil..
Semoga dapat terlaksana dan menjadi batu loncatan untuk visi dan misi ke depan yang lebih panjang lagi.
Bismillahirahmanirrahim
Saya akan terjun ke dunia perniagaan
Sabtu, 26 April 2014
aku kamu kita
Kamu dulu
Manis
Manja
Perhatian
Penuh kasih sayang
Kamu sekarang
Dingin
Acuh
Kaku
Aku dulu
Ceria
Optimis
Semangat
Tegar
Aku kini
murung
pesimis
Rapuh
Kita dulu
Saling peduli
Saling percaya
Saling cinta
Kita kini
Bagai air dan minyak
Bersama tapi tak lagi bersatu
Kamu dengan dirinya
Aku dengan diriku
Tak ada kesamaan
Tak ada kepedulian
Haruskah?
Kita tak saling mengenal
Haruskah?
Aku melupakanmu
Melupakan tentang kita
Melupakan apa yang sudah kita lalui
Haruskah?
Aku melakukannya
Maafkan aku
aku tidak akan sanggup
Jumat, 25 April 2014
sederhana tapi rumit
dulu paling anti yang namanya patah hati
nangis karena cinta itu haram hukumnya
air mata terlalu mahal untuk orang yang bahkan gak peduli sama kita
apapun itu, cinta pakai logika
gua seperti kehilangan pribadi yang dulu
yang keras, yang penuh logika
gak seperti sekarang
lemah dan pasrah sama keadaan
apa yang harus ditangisin?
atau, kenapa segitunya cuma masalah hubungan doang?
sederhana memang, tapi rumit pula
selama gua SMA gua hidup sendiri
orang tua beserta adik adik tinggal di sumatera ikut ayah bekerja
kebayangkan sepinya gimana?
harus apa sepulang sekolah
dia yang selalu ada
tepatnya gua yang selalu melibatkan semua kegiatan dia bersama gua
dari pagi hingga sore hampir selalu bersama
gua baby sitternya
pagi bangun, ketemu disekolah,
sore selesai, main bareng, nungguin dia kursus atau bimbel
nganterin pulang
kalau libur jalan berdua
dia butuh apa gua yang nemenin dia pergi
tiap mau liburan pasti buat planning
nabung
materi sekolah gak ngerti, dia yang ngajarin
dia belajar motor, belajar mobil sama gua
gua sakit dia yang jenguk
dia sakit gua yang ngerawat
saling melengkapi
saling mengisi
kebayangkan gimana rasanya? kalo tiba tiba hilang gitu aja
gua kehilangan temen hidup gua
gua kehilangan motivasi hidup gua
gua kehilangan sejuta aktivitas yang buat gua lupa kalo gue kesepian
gua kehilangan sahabat gua
gua kehilangan guru privat gua
gua kehilangan anak asuh gua
gua kehilangan seseorang yang jadi alasan gua untuk gak sedih
sekarang apa?
gak ada lagi temen hidup
gua selalu bingung apa yang harus gua lakuin ketika bangun pagi
gua selalu bingung ketika melangkah, mau kemana?
gua selalu bingung ketika menatap layar hp, siapa yang mau dihubungin?
hidup gak melulu soal dia, tapi apapun kegiatan gua selalu sama dia
itu yang buat gua takut, apa yang harus gua lakuin tanpa dia
sejujurnya, gua udah gak perduli lagi apa namanya hubungan gua sama dia
apapun itu, yang jelas dia adalah temen hidup gua
gua sudah terlanjur yakin kalo akhirnya gua sama dia
bukan gua sama dia akhirnya berakhir
nangis karena cinta itu haram hukumnya
air mata terlalu mahal untuk orang yang bahkan gak peduli sama kita
apapun itu, cinta pakai logika
gua seperti kehilangan pribadi yang dulu
yang keras, yang penuh logika
gak seperti sekarang
lemah dan pasrah sama keadaan
apa yang harus ditangisin?
atau, kenapa segitunya cuma masalah hubungan doang?
sederhana memang, tapi rumit pula
selama gua SMA gua hidup sendiri
orang tua beserta adik adik tinggal di sumatera ikut ayah bekerja
kebayangkan sepinya gimana?
harus apa sepulang sekolah
dia yang selalu ada
tepatnya gua yang selalu melibatkan semua kegiatan dia bersama gua
dari pagi hingga sore hampir selalu bersama
gua baby sitternya
pagi bangun, ketemu disekolah,
sore selesai, main bareng, nungguin dia kursus atau bimbel
nganterin pulang
kalau libur jalan berdua
dia butuh apa gua yang nemenin dia pergi
tiap mau liburan pasti buat planning
nabung
materi sekolah gak ngerti, dia yang ngajarin
dia belajar motor, belajar mobil sama gua
gua sakit dia yang jenguk
dia sakit gua yang ngerawat
saling melengkapi
saling mengisi
kebayangkan gimana rasanya? kalo tiba tiba hilang gitu aja
gua kehilangan temen hidup gua
gua kehilangan motivasi hidup gua
gua kehilangan sejuta aktivitas yang buat gua lupa kalo gue kesepian
gua kehilangan sahabat gua
gua kehilangan guru privat gua
gua kehilangan anak asuh gua
gua kehilangan seseorang yang jadi alasan gua untuk gak sedih
sekarang apa?
gak ada lagi temen hidup
gua selalu bingung apa yang harus gua lakuin ketika bangun pagi
gua selalu bingung ketika melangkah, mau kemana?
gua selalu bingung ketika menatap layar hp, siapa yang mau dihubungin?
hidup gak melulu soal dia, tapi apapun kegiatan gua selalu sama dia
itu yang buat gua takut, apa yang harus gua lakuin tanpa dia
sejujurnya, gua udah gak perduli lagi apa namanya hubungan gua sama dia
apapun itu, yang jelas dia adalah temen hidup gua
gua sudah terlanjur yakin kalo akhirnya gua sama dia
bukan gua sama dia akhirnya berakhir
Senin, 10 Maret 2014
aku adalah aku
Aku bukan
pendendam
Aku hanya sulit
melupakan apa yang membuat hatiku terluka
Aku tidak mudah
menangis
Kecuali kau
lukai keluarga dan kekasihku
Silahkan sebut
aku bukan pemaaf
Itu karena hati
telah dilukai
Terserah jika
orang menyebutku ambisius
Karena tujuan
hidup hanyalah bermimpi dam mewujudkannya.
Setelah itu
silahkan mati dengan tenang
Aku bukannya
trauma
Hanya saja
ingatan masa lalu tentang sakitnya cinta
Selalu membuatku
enggan untuk kembali bertualang
Jika aku diam
Bukan berarti
aku tidak peduli
Aku hanya bersabar
dan menunggu segala sesuatunya membaik
Apabila aku
bertindak
Tolong jangan
salah artikan bahwa kesabaranku telah habis
Aku hanya
mencoba berbuat sesuatu yang kuyakini benar
Kau tidak
pernah mengenalku
Kau hanya
mengetahui namaku
Jangan sebut
dirimu teman
Apabila kau
masih menyerangku dari belakang
Jangan pula
menganggap dirimu musuhku
Karena musuhku
hanyalah mereka yang berani menghantamku dari depan
Kau hanya
pecundang
Jikalau kau
masih mencoba menikamku dari belakang
Aku hanyalah
aku
Kau tidak
mengenalku
Karena aku
adalah aku
Kamis, 30 Januari 2014
Ujian Nasional
Hampir habis masanya gue jadi anak SMA.. tinggal menghitung hari identitas sebagai
“anak sekolahan” ini melekat. And as you know, at third graduate, you will face
the examination. Of course, I don’t care what is the exam, ‘ujian sekolah’,
’ujian praktek’, ‘ujian madrasah’, ‘ujian NASIONAL’ and both of them.
Sebagai pelajar gue merasa gue merasa memiliki hubungan yang
baik baik saja dengan pelajaran. Gak pernah berurusan dengan ketinggalan
materi, gak paham, dan sebagainya, remedpun… hanya sesekali. Dan rentetan ujian
yang akan menyapa gue seakan biasa saja.. seakan udah siap *sombong* secara
selama ini gue bias melewati ujian demi ujian.
Menginjak kelas tiga, gue focus untuk hal yang lebih tinggi,
SBMPTN atau ujian masuk PTN. Level yang jauh diatas ujian nasional. Sudah mulai
bermimpi akan jadi apa esok hari.. langkah apa saja yang harus saya ambil.
Tapi … diluar dugaan. Hal bodoh (fatal) yang saya hadapi
adalah strategi yang premature! Tahap kedua (second step) gue siapin, tahap
pertama bahkan gue lupa. Kebanyakan berpikir “ah kalo sbm aja bias pasti un
bisa” konsep abu-abu. Ada benernya juga J
H-100 gue mulai tersadar untuk menyapa ujian nasional.
Paket-paket ujian gue lihat, nomor nomor awal terlihat sepele, tapi jawaban gak
kunjung gue temukan. Kacau! Kenapa yang begini aja gak bisa? Kemana aja tiga
tahun? Hari hari berikutnya pun gue lalui dengan mencoba menaklukan soal tahap
bawah seperti yang dulu gue sering anggap.
Stress, depresi, sudah keluar biaya untuk langkah kedua dan
seterusnya. Tapi malah terhambat dilangkah pertama. Berhari hari gue kehilangan
semangat sebagai pelajar. Gue akui sekolah gue memang ‘cuek’ terhadap nasib
muridnya. Sejak sekolah gratis yang menjadi alasan tindakan mereka yang
mengecewakan ini.
Gue sempet terpikir, bocoran (nyontek)! Bukankah itu hal
yang lumrah terjadi di setiap ujian nasional?.-. tapi gimana caranya? Dari sd
sampe smp gak pernah kenal yang namanya bocoran-___- ujian sd yang satu paket
aja gak bisa nyontek, smp 4 paket bingung kalo ada bocoran caranya gimana? .__.
Gimana sma? 20 paket broh.. kertas 20 lembar gitu dibawa ke
ruang ujian? Broadcast 20 paket gitu ke tiap murid? Belum lagi cocokin yang
mana soalnya, pengawasnya ka nada dua, kalo ketauan gimana?
Yah, buat apa 3 tahun belajar ujung ujungnya nyontek juga…
gue sudah putuskan melanjutkan budaya jujur gue hinggal identitas gue sebagai
pelajar tanggal. Otomatis gue harus mereborn cara pelajar gue, penguasaan
materi dalam waktu kurang dari 100 hari!
Incredible.. maybe yes maybe no.
Titik balik gue ada di H-84 dimana gue coba membuat strategi
ditengah pressure takut gagal, buntu, dan masalah yang dibawa sama setan setan
terkutuk. Gue rancang acuan belajar, pemetaan materi, supaya gue gak salah
langkah lagi.
Kesalahan gue dulu dulu hanyalah hari ini mau belajar apa?
Ambil contoh, fisika. Besok matematika dst.. tapi gue gak tau bab apa yang mau
gue pelajari. Hal ini gak boleh terulang. Buang itu jauh jauh. Buat cara baru
yang lebih efektif.
Seperti kita semua ketahui, soal UN itu ada 40
(mtk,fisika,bio,kimia) dan 50(indo,inggris). Dengan waktu sekitar 80 hari gue
harus habiskan 260 macam soal .. awalnya terlihat kecil, tapi setelah dibuka,
makin besar si empunya masalah.
Jadi gue komitmen untuk menghancurkan 5 tipe (re:skl) soal setiap hari di salah satu
mata pelajaran hingga benar benar saya memahaminya.
Ambil contoh
Senin: Mtk (1-5) H-83
Selasa: fisika (1-5) H-82
Rabu: kimia (1-5)
H-81
Kamis: biologi (1-5) H-80
Jum’at: inggris (1-5) H-79
Sabtu: indonesia (1-5) H-78
Minggu: -
Senin: Mtk (6-10) H-76
Selasa: fisika (6-10) H-75
Rabu: kimia (6-10)
H-74
Kamis: biologi (6-10) H-73
Jum’at: inggris (6-10) H-72
Sabtu: indonesia (6-10) H-71
Dan seterusya sampai semua tipe habis.. dan langkah ini akan
habis kira kira sampai H-24 UN setelah itu tinggal diulang ulang agar familiar.
Hidup kejujuran! Selalu ada jalan untuk mencapai kemenangan
jika kita berharap pada Allah..
“kesuksesan hanya datang pada mereka yang rela berkeringat,
berlari hingga lumpuh, melompat hingga terjatuh, dan tak pernah lelah
menadahkan tangan untuk berdoa”
"Hanya yang bersedia melakukan hal luar biasa yang akan mendapatkan hasil luar biasa"
Kamis, 02 Januari 2014
RumahMu (mungkin) Akan Jadi Rumahku Juga
Sebelumnya
aku sama saja seperti remaja zaman sekarang. Lebih senang dengan urusan
duniawi, menghabiskan waktu menatap layar hp atau notebook untuk sekedar
melihat Time Line twitter atau blog, membalas sms yang sebagian besar hanyalah
omong kosong belaka.

urusan akhirat memang tidak pernah kutinggalkan, namun hanya
sekedar “menggugurkan kewajiban” ibadah bukan sebagai kebutuhan. Sebagai pemuda
muslim aku sadar bahwa menjalankan shalat di masjid itu hukumnya wajib. Tetapi
tetap saja sering aku hiraukan.
Hingga suatu saat kesadaran membimbingku melangkah ke masjid
dekat rumahku. Pada saat itu adzan dzuhur berkumandang. Waktu dimana matahari
sedang terik teriknya bersinar, waktu yang paling kusegani untuk keluar rumah,
namun entah mengapa saat itu terasa lain.
Kulangkahkan kakiku menuju Masjid Baitul Rahman dan kulihat
pemandangan yang cukup menyayat hati.
Hanya ada lima orang termasuk aku yang ada didalamnya, jumlah yang
sangat sedikit untuk masjid yang cukup besar ini. Dalam hati terpikir hanya
empat orangkah yang setia menghidupkan masjid ini? Terkecuali aku, karena aku
jarang sekali ke masjid pada waktu selain maghrib.
Lepas dari pemikiran itu kemudian seorang kakek
mengumandangkan iqomah dengan suara paraunya. Hati ini semakin tersayat, mengapa
bukan pemuda yang melakukannya, mengumandangkan adzan serta iqomah dengan suara
yang lantang. Setelah iqomah dilanjutkan dengan sholat dzuhur berjamaah, ma’mum
hanya bertambah dua orang hingga akhir sholat. Total hanya ada tujuh orang
termasuk imam yang melaksanakan sholat dimasjid ini.
Mungkin pemandangan seperti ini sama saja dengan di masjid
manapun, dan orang lain menganggap sebagai hal yang biasa. Tetapi bagiku ini
menyakitkan, tanda akhir zama telah muncul. Dimana masjid masjid dibangun megah
namun sedikit jamaahnya. Hanya menandakan kekosongan umat.
Mulai saat itu aku berjanji pada diriku, Rumah Allah akan
menjadi rumahku juga. Aku akan selalu melaksanakan shalat lima waktu dimasjid,
serta menghidupkan masjid semampuku. Meskipun berat rasanya karena rasa malas
yang sering membayangi, aku selalu menghentikan sementara kegiatanku untuk
melaksanakan sholat dimasjid terlebih dahulu
from old blog, Agustus 2011
I'm Not Writer
Waktu kecil pasti punya cita cita yang besar. Namun semakin besar
cita cita itupun mengecil. mata terbuka, impianpun lama kelamaan sirna. Usually
we said “realistis”.
Kalo udah besar mau jadi apa?
Dokter!
Cita citanya apa?
Penulis!
Kok berubah?
Iya, biar bisa dicombine, seorang dokter yang juga seorang penulis.
Nulis resep obat maksudnya..
Cita cita tetap tidak akan berubah menjadi profesi kalau keseharian
kita gak mencerminkannya. Sepintar apapun pribadi, sehebat apapun personal. Seberuntung
apapun namanya.
Aku ingin menjadi penulis.. tetapi pena dan kertas berdebu tak
pernah ku sentuh, hari hariku jauh dari merangkai kata. Tiap tiap detik tak
kuhabiskan dengan memikirkan karya apa yang akan aku hasilkan.
Terus terang semakin kesini karyaku semakin menipis, sebuah karya
gagal yang memakan waktu bulanan bahkan tahunan. Kemampuanku dalam menulis tak
ubahnya seperti karya anak smp. Statis, usang, tak pernah berkembang.
Aku bukan tak berbakat, aku hanya tak sepakat, antara keseharian
dengan kemampuan. Awal awal semangatku dalam menulis menghasilkan banyak karya.
Entah itu bagus atau tidak terserah penilaian orang. Yang terpenting adalah
kepuasan dalam berkarya. Kadang umur yang masih tanggung sering membuatku
mendapatkan respon yang beraneka ragam. Entah karena pemikiranku yang berbeda
dari orang lain atau memang terlalu muda untuk seusiaku dalam memilih topik.
“yang ini juga bener tulisan lo? Kok gue gak yakin ya?”
“iya, terus aja gak percaya”
Tapi semakin kesini karya karya yang
baru tak ubahnya menjadi lebih baik, hanya umur yang naik tapi karya justru
terjun bebas. Dulu kalau punya waktu pasti mojok didepan jendela asrama sambil
nulis. Di kelas bosen dengerin guru nulis lagi. Nah sekarang? Mungkin nulis
dikertas pakai buku jurnal udah gak zaman ya, lebih simple pake notebook yang
gampang dibawa kemana mana, menulispun jadi lebih cepat. Tapi nyatanya? Hape
lebih sering mengganjal tangan untuk memulai.
Mungkin juga karena ada “twitter” yah? Apapun yang ada di dalam
pikiran gampang banget disalurin, tinggal ketik, “tweet” selesai. Tapi harus
diakui, bobotnya jadi berkurang. Terbentur dengan 140 karakter K gak bebas ekspresiin feeling kalo
kepotong potong. Biarpun sering orang orang buat chipstory untuk tweet
bersambung. Tapi gak senikmat ketika membuat dertan kata yang menumpuk di
halaman kosong. Melihatnya puas banget, layaknya penulis seungguhan.
Mungkin juga karena kesibukan yang lagi dijalani, tapi itu bukan
alasan. Karena memang sesibuk apapun, jika itu memang pribadi seseorang, pasti.
Pasti akan ada waktu untuk jiwanya kapanpun itu. Jadi kesibukan mungkin hanya
alas an kesekian yang menghentikan kesenanganku ini.
Aku kehilangan jiwa seorang penulis,
semangat yang dulu tebal kini kian tergerus dimakan waktu dan aktivitas yang
tidak mencerminkan sebagai seorang penulis. Aku rindu akan kesenangan dan
kepuasan ketika sebuah karya yang kubuat mencapai baris terakhir, dengan
torehan tanda tangan sebagai ciri karya buatanku. Membaca komentar bagus atau
tidaknya tulisanku ini oleh teman temanku. Mendengarkan tanggapan serta masukan
dari mereka. Aku rindu itu semua.
Berkali kali aku coba untuk memulai,
berkali pula aku menemukan kebuntuan. Aku kehilangan jiwa seorang penulis,
mungkin aku memang bukan penulis.
Aku hanya cinta menulis.
Senin, 09 Desember 2013
jelaskan padaku
jelaskan mengapa tuhan menciptakan
mata
telinga
lidah
hidung
kulit
tangan
kaki
otak
hati?
apa yang aku tahu hanyalah..
mata diciptakan untuk melihat
telinga diciptakan untuk mendengar
lidah diciptakan untuk merasakan
hidung diciptakan untuk mencium aroma
kulit diciptakan untuk meraba
tangan? tentu saja untuk menggenggam
kaki? apa yang kau gunakan untuk berjalan, itulah fungsi kaki
otak? berpikirlah. karena itu adalah fungsi otakmu
hati? inilah yang unik.. kalian tidak tau bentuknya, kalian bingung pula akan fungsinya.
pernahkah kalian terjatuh kemudian berdarah? apa yang kalian rasakan? tentu saja sakit.
lalu pernahkah kalian dihardik? atau sekedar dihina oleh seseorang?.. sakit bukan? padahal tubuh ini tak sedikitpun terluka, tak sedikitpun tergores...
namun ada rasa sakit yang bahkan terkadang mengganjal sehingga kita sulit unuk bernapas..
lalu pernahkah kalian mengalami ini?
menangis ketika menonton film?
sungguh mengapa demikian? apakah film itu menyakiti kalian?
ada orang yang bertubuh kekar, namun perasaannya lemah..
dipukuli ia tahan, namun apabila dihina ia roboh
ada pula orang yang bertubuh lemah, namun hatinya perkasa
dihajar ia ambruk, namun tak ciut ketika dirinya diancam.
"sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal darah. apabila darah itu bersih maka bersihlah seluruh perbuatannya. dan apabila darah itu kotor maka kotorlah seluruh perbuatannya"
darah itu ialah hati..
mata
telinga
lidah
hidung
kulit
tangan
kaki
otak
hati?
apa yang aku tahu hanyalah..
mata diciptakan untuk melihat
telinga diciptakan untuk mendengar
lidah diciptakan untuk merasakan
hidung diciptakan untuk mencium aroma
kulit diciptakan untuk meraba
tangan? tentu saja untuk menggenggam
kaki? apa yang kau gunakan untuk berjalan, itulah fungsi kaki
otak? berpikirlah. karena itu adalah fungsi otakmu
hati? inilah yang unik.. kalian tidak tau bentuknya, kalian bingung pula akan fungsinya.
pernahkah kalian terjatuh kemudian berdarah? apa yang kalian rasakan? tentu saja sakit.
lalu pernahkah kalian dihardik? atau sekedar dihina oleh seseorang?.. sakit bukan? padahal tubuh ini tak sedikitpun terluka, tak sedikitpun tergores...
namun ada rasa sakit yang bahkan terkadang mengganjal sehingga kita sulit unuk bernapas..
lalu pernahkah kalian mengalami ini?
menangis ketika menonton film?
sungguh mengapa demikian? apakah film itu menyakiti kalian?
ada orang yang bertubuh kekar, namun perasaannya lemah..
dipukuli ia tahan, namun apabila dihina ia roboh
ada pula orang yang bertubuh lemah, namun hatinya perkasa
dihajar ia ambruk, namun tak ciut ketika dirinya diancam.
"sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal darah. apabila darah itu bersih maka bersihlah seluruh perbuatannya. dan apabila darah itu kotor maka kotorlah seluruh perbuatannya"
darah itu ialah hati..
Sabtu, 16 November 2013
Apa Arti Umur Bagimu?
deretan angka yang senantiasa bertambah setiap tahunnya?
atau sisa hidup yang kian berkurang setiap harinya?
tolak ukur kedewasaan seseorang?
atau angka pengingat individu agar segera mendewasakan dirinya?
acuan bahwa saya masih muda, atau saya sudah tua?
atau simbol kewaspadaan bahwa yang muda bisa mati lebih dulu dan yang tua sudah pasti makin mendekat pada kematian?
renungkan lah..
atau sisa hidup yang kian berkurang setiap harinya?
tolak ukur kedewasaan seseorang?
atau angka pengingat individu agar segera mendewasakan dirinya?
acuan bahwa saya masih muda, atau saya sudah tua?
atau simbol kewaspadaan bahwa yang muda bisa mati lebih dulu dan yang tua sudah pasti makin mendekat pada kematian?
renungkan lah..
Jumat, 05 Juli 2013
hikmah dibalik kenaikan harga BBM
Pemerintah melalui para menteri
menterinya pada rabu malam 20-06-2013 lalu telah mengumumkan penaikan harga
bahan bakar minyak, yaitu premium dari
harga Rp.4500 menjadi Rp.6000 dan solar dari Rp. 4500 menjadi Rp. 5500
Bersiap siap ya kita, merogoh kocek lebih dalam untuk permasalahan yang
satu ini. Terlebih saat ini mendekati
bulan suci Ramadhan, dimana seperti yang sudah sudah harga sembako mulai
merangkak naik.
Wow :o pernah kepikiran gak? Gimana susahnya orang tua kita?
Warga Indonesia yang hidup dengan ekonomi mengah kebawah? Kasihan ya..
Tapi coba kita cermati lebih
positif, penaikan harga bbm ini
merupakan bukti nyata pemerintah mengambil langkah praktis untuk mengurus
jebolnya APBN? Benar
Pemerintah kurang cermat menyusun
APBN sehingga hal ini harus terjadi? Benar juga
Indonesia belum mampu memproduksi bbm sendiri padahal
indonesia memiliki cadangan minyak yang melimpah di perutnya? Benar juga..
Jika melihat negatifnya tentu tidak
akan ada habisnya kejelekan Negara kita ini..
Lalu dimana positifnya?
Coba kita pikir baik baik.. penaikan
harga bbm diklaim oleh pemerintah dapat menghemat APBN hingga mencapai tiga
ratus trilyun rupiah setiap tahunnya. Jumlah yang luar biasa besar bukan?
Dengan tambahan dana segar senilai
tiga ratus trilyun ini tentunya pemerintah punya spot-spot baru untuk di
korupsi *ehh..
Praduga tak bersalah, coba positif thinking.. dengan banyaknya dana
ini tentu Negara yang masih berkembang ini bias mengalokasikan dananya ke hal
hal yang lebih bijaksana. Kita gencarkan pembangunan, perbaiki sarana dan
prasarana khalayak publik, yang tentunya akan member manfaat kepada kita juga.
Alokasi dana kesehatan akan
bertambah.. kesehatan masyarakat pun meningkat.
Kesehatan yang meningkat memacu
produktivitas yang berkembang.
Alokasi dana untuk membuka lapangan
pekerjaan pun bisa diperluas, hal ini sejalan dengan produktivitas warganya
yang berkembang.
Kesehatan meningkat, tenaga kerja
meningkat, lapangan pekerjaan meluas, roda perekonomian pun mudah mudahan turut
tumbuh.. sarana dan prasarana publik pasti lebih layak.
Itu mungkin sebagian kecil harapan
saya terhdap penaikan harga bbm..
Semoga bangsa ini bisa semakin
dewasa dalam mengambil keputusan
Jumat, 07 Juni 2013
Keutamaan Silaturrahim
Ada kejadian menarik
yang membuka hati saya ketika musibah menerpa keluarga saya. Seharusnya pukul
11.30 malam keluarga saya ( abi, umi, safira, dan zaidan ) seharusnya sudah
mendarat di soekarno hatta. Tetapi hingga pukul 03.00 dini hari. Mereka belum
juga sampai dirumah..
Ternyata musibah
menimpa mereka. Perjalanan dari prabumulih – Palembang yang biasanya hanya
butuh dua jam perjalanan terpaksa ditempuh selama lima jam karena macet parah.
Take off pesawat
pukul 10.30 malam pun sudah pasti terlewat. Hanguslah empat tiket pesawat
seharga Rp.2.500.000 akibat insiden tersebut. Terpaksa mereka menginap di hotel
sekitar bandara untuk penerbangan esok paginya.
Jika dihitung secara
matematis pastilah mereka rugi besar. Dan lebih rugi lagi apabila tetap
melanjutkan perjalanan. Karena otomatis harus membeli tiket perjalanan lagi,
menyewa hotel, biaya makan dan sebagainya. Sudah tentu memerlukan biaya yang
besar.
Lalu? Mengapa harus
memaksakan demikian? Pentingkah tujuan mereka? Bukankah hanya sekedar untuk
menengok saya dan kakak saya? Sepele mungkin.. terlalu besar kerugian yang di
derita jika dihitung oleh kaca mata matematis.
Lalu untuk apa?.....
Silaturahim ..
Jawaban singkat yang
memutus segala pertanyaan pertanyaan yang membentang dibelakangnya.
Silaturahim adalah
kewajiban semua muslim.. sejauh apapun jarak terbentang, sesulit apapun aral
yang melintang, memisahkan kedua saudara seiman. Silaturrahim harus tetap
dijalin.
(Silaturrahim artinya
adalah menyambung tali persaudaraan kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab)
Mengertilah kita,
mengapa pada hari raya ribuan saudara seiman kita bersusah payah melakukan “mudik”
ke kampung halaman yang jauh disana. Melambungnya harga tiket angkutan masal,
macetnya jalanan selama waktu mudik, kondisi panas terik matahari, dinginnya
malam dan hujan. Bukanlah halangan bagi mereka yang bersedia menyambung tali silaturrahim..
“barang siapa yang
senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung
silaturahim” (HR bukhari).”
Sungguh indah
persahabatan umat muslim itu apa bila tali silaturrahim tetap terjaga.
Semestinya tidak ada
lagi kasus-kasus tetangga kelaparan disebelah rumah kita, pemuda yang
menganggur begitu lama, seorang manula yang meninggal sendiri dirumahnya tanpa
ada yang mengetahui. Dan banyak lagi kejadian mengharukan akibat tali
silaturahmi yang terjaga.
Kita lihat Negara Negara
di dunia bisa hidup damai berdampingan oleh karena terjalinnya satu kata yaitu “silaturrahim”
dari tiap tiap petinggi negaranya..
“barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim” (HR. bukhari)
Banyak sekali bentuk
silaturahim yang bias kita jalin dengan sesama muslim..
Diantaranya:
- Berziarah
- Tersenyum
- Memberi hadiah
- Memberi nafkah
Jangan putuskan tali
silaturahim apabila kita tidak ingin mendapatkan murkaNya.
Tidak akan masuk surga
seseorang yang memutuskan silaturrahim. Nabi shallallahu ‘alaihu wa sallam
bersabda “tidaklah masuk surga orang yang memutus tali silaturahim” (HR
bukhari)
Siksaan dunia dan
akhirat kelak sudah pasti kita terima. Sebagai mana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, “tidak ada dosa yang lebih cepat siksaannya di dunia bagi pelakunya,
juga diperlambat siksaannya di akhirat kelak dari pada orang zhalim dan memutus
hubungan silaturahim.
So.. Gimana? Masihkah
kita acuh pada sanak saudara kita? Menelantarkan mereka, membiarkan mereka
terpisah dari kita tanpa kita ketahui kabarnya? .. sekalipun tidak jika kita
belum siap merasakan neraka.
Jadi, mulailah dari
sekarang menjalin silaturrahim. Datangilah orang tuamu, peluk mereka, cium
keningnya, genggam tangannya. Entah sampai kapan kalian masih bias melakukan
itu.
Kadang kita lupa. Terlalu
sibuk untuk tumbuh menjadi dewasa, sehingga tak sadar orang tua kita dirumah
pun semakin menua. Apabila sudah tiba waktunya? Hanya sesal seumur hidup yang bias
dirasa oleh kita. Karena apa? Selama hidup ini tak pernah ingat akan
silaturrahim..
Jadilah muslim
seutuhnya,
Hiduplah dengan
kebanggaan atas seorang khalifah dimuka bumi.
Salam hangat
silaturrahim :)
Ahmad Izzudin
Rabu, 05 Juni 2013
kewajiban menuntut ilmu
hai :)
udah lama ga posting-_- padahal baru 4 kali posting. tapi udah seret ide aja .__.
hari ini libur, sebenernya udah ada jadwal buat futsal, latihan senam buat kelas, sama jemput bonyok ke bandara. tapi berhubung males-__- mendingan refreshing pikiran dulu.
jadi seorangPelajar ituu.....
seru ya :D
jadwal padet.masuk jam 6.30 pulang jam 4.00 pulang sekolah langsung bimbel. sampe rumah isya, bahkan kadang jam 9.00 setiap hari ada pr :O
kalo diurain kaya begini emang keliatanannya mumet banget ya?.-. bikin stress dan sebagainya.
this is the reason why............. many teenager are lazy to school.
tapii..walau bagaimanapun, sebagai pelajar. kewajiban kita adalah belajar.
seseorang baru dapat dikatakan pelajar apabila sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar.
pendidikan adalah hal yang mutlak dibutuhkan. belajar adalah kewajiban setiap muslim maupun muslimah.
banyak ayat dan hadits yang menyatakan tentang kewajiban kita untuk menuntut ilmu
seperti:
Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
udah lama ga posting-_- padahal baru 4 kali posting. tapi udah seret ide aja .__.
hari ini libur, sebenernya udah ada jadwal buat futsal, latihan
jadi seorang
seru ya :D
jadwal padet.masuk jam 6.30 pulang jam 4.00 pulang sekolah langsung bimbel. sampe rumah isya, bahkan kadang jam 9.00 setiap hari ada pr :O
kalo diurain kaya begini emang keliatanannya mumet banget ya?.-. bikin stress dan sebagainya.
this is the reason why............. many teenager are lazy to school.
tapii..walau bagaimanapun, sebagai pelajar. kewajiban kita adalah belajar.
seseorang baru dapat dikatakan pelajar apabila sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar.
pendidikan adalah hal yang mutlak dibutuhkan. belajar adalah kewajiban setiap muslim maupun muslimah.
banyak ayat dan hadits yang menyatakan tentang kewajiban kita untuk menuntut ilmu
seperti:
اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ
Artinya: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.”
طَلَبُ اْلعِلْمَ فَرِيْضِةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اُطْلُبُوْاالْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنَ فَاِنَّ طَلَبَ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ اِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ اَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًابِمَا يَطْلُبُ
Artinya: “Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina, karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut. (H.R. Ibnu Abdil Bar).
مَنْ اَرَادَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَالاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالَعِلْمِ
Artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat maka dengan ilmu, dan barangsiapa yang menghendaki keduanya (kehidupan dunia dan akhirat) maka dengan ilmu.”
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا اِلَى الْجَنَّةِ ـ رواه مسلم
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
hadits dan ayat berikut hanyalah beberapa contoh seruan untuk menuntut ilmu. oleh karena itu, masih pantaskah kita menutup telinga, mengunci mulut, memejamkan mata, mendustakan hati pada seruan seruan Allah dan rasulnya?
ada suatu pepatah mengatakan, apabila kita siap bermalasan untuk menuntut ilmu, maka kita telah seiap untuk kebodohan dan kesusahan seumur hidup kita.
hidup adalah persaingan, sudah fitrah manusia sejak ia lahir sampai mati untuk bersaing dengan satu sama lain.
"ingatlah. saat kita bermalas malasan, ribuan pesaing kita sedang giat giatnya belajar"
semoga bisa menjadi refleksi :)
salam..
Langganan:
Postingan (Atom)